Abdul El-Sayed resmi dinyatakan menang dalam primer Demokrat untuk kursi Senatur Michigan pada Rabu pagi, menutup kontes dramatis yang berlangsung hingga larut malam. Dengan margin yang sangat tipis — kurang dari satu persen — ia berhasil mengalahkan Haley Stevens, anggota Kongres empat periode yang didukung oleh seluruh establishment Partai Demokrat dan lobi pro-Israel yang mengeluarkan dana tak terduga.
Kemenangan ini terjadi di tengah tekanan masif dari American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) dan grup terkait, yang mencurahkan sekitar $70 juta untuk menghancurkan kampanye El-Sayed. Angka itu sembilan kali lipat dana yang dikumpulkan tim El-Sayed sendiri. Gubernur Gretchen Whitmer, Senatur Debbie Stabenow, Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer, dan Senatur pensiun Gary Peters semuanya mendukung Stevens, membuat kontes ini menjadi uji coba kekuatan establishment versus gerakan akar rumput.
El-Sayed, mantan direktur kesehatan Detroit dan kandidat gubernur 2018, menjalankan kampanye yang berfokus pada kesehatan universal, hak pekerja, dan kritik tajam terhadap kebijakan luar negeri AS di Gaza. Posisi anti-perang dan pro-Palestina itu menarik amarah AIPAC, yang menganggapnya ancaman bagi hubungan AS-Israel. Selama bertahun-tahun, AIPAC menggunakan dana super PAC-nya untuk membasmi legislator yang kritis terhadap Israel, termasuk Cori Bush dan Jamaal Bowman pada siklus sebelumnya.
Malam pemungutan suara, ketegangan terasa di markas kampanye El-Sayed di Detroit. Saat suara-suara dari daerah banlieue seperti Dearborn — yang memiliki populasi Arab-Amerika terbesar di AS — mulai masuk, keunggulan awal El-Sayed menyusut. Stevens sempat mendekati hingga margin hanya ratusan suara. El-Sayed naik panggung setelah tengah malam, bercanda soal lambatnya penghitungan suara Michigan, sambil mengingatkan pendukungnya bahwa mereka sedang melawan "uang gelap dan kekuatan status quo".
Hasil akhir yang tiba pagi Rabu mengirimkan kejut ke seluruh spektrum politik Washington. Senatur Bernie Sanders menyebutnya "kemenangan paling luar biasa dalam politik AS modern" di podcast Pod Save America. "Pernahkah Anda mendengar kandidat di kontes besar dikalahkan sembilan ke satu dalam dana, menghadapi seluruh establishment, dan tetap menang? Saya tidak ingat pernah ada yang seperti itu," ujar Sanders.
Kemenangan El-Sayed bukan kejadian terisolasi. Di primer serentak, legislator negara Donavan McKinney mengalahkan Shri Thanedar, incumbent yang didukung AIPAC, di Distrik Kongres ke-13. Sementara di distrik utara Detroit, William Lawrence, organisasi iklim kiri, menang 15 poin. Pola serupa muncul di California, Colorado, Pennsylvania, New Jersey, dan New York — di mana kandidat progresif menggeser incumbent atau merebut kursi terbuka di distrik aman Demokrat.
Bagi AIPAC, malam ini merupakan pukulan kedua berturut-turut setelah kekalahan di Missouri, di mana Wesley Bell — yang juga didukung AIPAC — menang atas Cori Bush. Namun grup lobi itu tetap tegas. Dalam pernyataan Rabu, AIPAC menegaskan akan melanjutkan pengeluaran besar di pemilihan umum November untuk "memastikan pemilih menolak agenda anti-Israel radikal Dr. El-Sayed". Mereka juga menyoroti kemenangan kandidakandidat pro-Israel lain sebagai bukti dukungan bipartisan untuk Israel tetap kuat.
Tantangan berikutnya El-Sayed adalah Mike Rogers, mantan Kongres Republikan dan bekas direktur FBI, yang didukung Donald Trump. Trump sendiri cepat menyerang El-Sayed di Truth Social, melabelinya "pecundang Komunis yang membenci Yahudi dan Israel" — retorik yang diharapkan akan mendominasi kampanye umum. Michigan adalah swing state yang memilih Trump 2024, membuat kontes November menjadi taruhan tinggi bagi kedua partai.
Analis melihat kemenangan ini sebagai titik balik dalam dinamika internal Partai Demokrat. Selama bertahun-tahun, dukungan establishment dan dana lobi pro-Israel dianggap jaminan kemenangan di primer. Kini, basis pemilih Demokrat — terutama di komunitas Arab-Amerika, muslim, dan pemuda progresif — menolak narasi itu. "Ini bukan lagi status quo," kata Alabas Farhat, legislator negara Michigan yang mendukung El-Sayed. "Pemilih ingin kandidat berani menantang kekuatan khusus dan membawa agenda besar untuk keluarga pekerja."
Di sisi lain, kemenangan tipis ini juga mengungkapkan polarisasi mendalam. Stevens memenangkan banyak daerah pinggiran kaya dan putih, sementara El-Sayed mendominasi kota-kota seperti Detroit, Dearborn, dan Hamtramck. Kesenjangan demografis ini akan menentukan dinamika November. Rogers pasti akan mencoba menggali kekecewaan pendukung Stevens, sementara El-Sayed harus memperluas basis di luar kekuatan tradisionalnya.
Bagi pengamat Indonesia, kasus Michigan menawarkan pelajaran tentang kekuatan organisasi akar rumput di era media sosial dan dana gelap. Meskipun sistem politik AS berbeda, fenomena kandidat "anti-establishment" yang mengalahkan mesin partai dan lobi besar relevan bagi dinamika demokrasi di mana pun. Di Indonesia, di mana biaya kampanye dan dukungan oligarki sering menentukan hasil, kemenangan El-Sayed menunjukkan bahwa narita yang resonan dengan kepentingan rakyat biasa — kesehatan, pekerjaan, anti-perang — tetap bisa menembus dinding uang.
Mata dunia kini tertuju pada Michigan November. Apakah El-Sayed bisa mengubah kemenangan primer jadi kemenangan umum di negara Trump? Atau apakah dana AIPAC dan mesin Republikan akan membalikkan keadaan? Jawabannya tidak hanya menentukan komposisi Senat AS, tapi juga menguji apakah politik berbasis uang besar masih tak terkalahkan — atau sudah mulai retak.