China tengah mempercepat ambisi dominasi maritimnya melalui pembangunan kapal induk khusus drone bawah laut pertama di dunia. Berdasarkan citra satelit yang tertangkap di galangan kapal Hudong-Zhonghua, Shanghai, kapal berukuran masif ini dirancang sebagai platform peluncuran dan pemeliharaan kendaraan bawah air tanpa awak atau Unmanned Underwater Vehicles (UUV) berskala besar.
Kapal ini memiliki dimensi yang cukup impresif dengan panjang sekitar 670 kaki dan lebar 88,5 kaki. Desain strukturalnya menunjukkan adanya dek sumur basah di bagian belakang, yang berfungsi sebagai pintu masuk dan keluar bagi drone bawah laut. Selain itu, terdapat 12 lengan vertikal yang dirancang untuk menurunkan dudukan drone ke dalam perairan, sebuah mekanisme yang belum pernah ditemukan pada kapal perang konvensional lainnya.
Analisis Naval News memperkirakan kapal ini mampu menampung setidaknya empat unit drone bawah laut berukuran sangat besar di dalam hanggar internalnya. Kehadiran infrastruktur ini menandai perubahan paradigma dalam peperangan laut, di mana China tidak lagi hanya mengandalkan kapal induk konvensional untuk pesawat tempur, melainkan beralih ke sistem otonom bawah air yang lebih sulit dideteksi.
Investasi besar-besaran ini sejalan dengan strategi China dalam mengembangkan sistem otonom untuk memperluas jangkauan operasional militernya di Indo-Pasifik. Sejarawan angkatan laut HI Sutton menilai bahwa desain ini sangat spesifik dan tidak mungkin ditujukan untuk kepentingan sipil atau penelitian akademis semata, mengingat kompleksitas sistem peluncuran yang tertanam di dalamnya.
Salah satu keunggulan utama dari drone yang akan dibawa kapal ini adalah ukurannya yang masif. China diketahui telah mengembangkan UUV dengan panjang mencapai 148 kaki, jauh melampaui kemampuan Orca milik Angkatan Laut Amerika Serikat. Dengan jangkauan operasional lebih dari 10 ribu mil laut, drone ini mampu melakukan misi pengumpulan data intelijen secara senyap di perairan yang jauh dari pangkalan utama.
Bagi Indonesia, pengembangan teknologi ini menjadi sinyal penting untuk memperkuat kesadaran domain maritim. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terletak di jalur strategis, Indonesia perlu mencermati ancaman dari drone bawah laut yang mampu mengumpulkan data akustik dan tanda tangan sonar kapal selam milik negara lain secara diam-diam.
Saat ini, kemampuan Indonesia dalam mendeteksi ancaman bawah air masih sangat bergantung pada sonar konvensional dan kapal selam berawak. Kehadiran drone otonom yang mampu beroperasi dalam durasi lama di perairan dangkal akan menyulitkan deteksi dini, yang pada gilirannya dapat mengganggu kedaulatan di wilayah perbatasan seperti Laut Natuna Utara.
Alessandro Arduino dari Royal United Services Institute menekankan bahwa meskipun citra satelit belum membuktikan fungsi penuh kapal tersebut, tren investasi China dalam sistem otonom sudah sulit diabaikan. Teknologi ini memungkinkan militer untuk melakukan pengawasan yang lebih persisten dengan biaya yang lebih rendah dibandingkan mengerahkan kapal perang berawak.
Aditya Ramanathan dari Takshashila Institution menambahkan bahwa platform ini adalah jenis baru dalam sejarah angkatan laut dunia. Kapal ini menciptakan perpustakaan akustik yang sangat detail mengenai aktivitas kapal lawan, yang akan membuat negara-negara di kawasan ini semakin rentan terhadap pengintaian bawah laut yang tidak terdeteksi.
Diperkirakan kapal ini masih membutuhkan waktu dua hingga tiga tahun untuk melalui proses uji coba laut sebelum benar-benar beroperasi penuh. Selama masa tunggu ini, China terus menguji kemampuan drone otonomnya untuk memastikan integrasi yang mulus antara kapal induk dan unit-unit UUV tersebut.
Ke depannya, tren penggunaan drone bawah laut akan mengubah peta kekuatan militer global. Negara-negara yang tidak mampu mengimbangi teknologi deteksi atau sistem pertahanan otonom akan menghadapi tantangan serius dalam menjaga keamanan perairan mereka dari pengintaian asing yang semakin canggih dan tak terlihat.
Dengan ketegangan yang terus meningkat di Laut China Selatan, peluncuran kapal induk drone ini akan memperkuat posisi tawar China dalam menghadapi klaim kedaulatan dari negara lain. Indonesia, sebagai kekuatan regional, harus mulai mempertimbangkan penguatan sistem pertahanan bawah air untuk mengantisipasi era peperangan otonom yang kini di depan mata.