Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) secara bulat menyatakan dukungannya kepada Presiden FIFA Gianni Infantino. Dukungan ini menjadi angin segar bagi Infantino yang tengah menghadapi pemberontakan terbesar selama masa kepemimpinannya, terutama dari benua Eropa.
Keputusan bulat ini diambil dalam rapat Komite Eksekutif (EXCO) CAF pada Kamis malam. Dalam pernyataan resminya, CAF menegaskan kembali dukungannya untuk Infantino dan berterima kasih atas dukungannya terhadap sepak bola Afrika selama bertahun-tahun. Sikap ini jelas berseberangan dengan UEFA yang sehari sebelumnya berkomitmen memboikot Piala Dunia di semua level selama Infantino masih menjabat.
Dukungan CAF ini bukan tanpa alasan. Sejak menjabat pada 2016, Infantino memang dikenal sebagai sosok yang dekat dengan benua Afrika. Ia dianggap berjasa dalam meningkatkan jumlah slot Afrika di Piala Dunia dan menggaungkan perluasan turnamen antar-klub Afrika, termasuk dorongan pendanaan yang lebih besar. Bagi banyak federasi di Afrika, Infantino adalah figur yang berpihak pada kebutuhan negara-negara berkembang, sesuatu yang jarang mereka dapatkan dari institusi sepak bola global.
Presiden CAF, Patrice Motsepe, menyambut baik janji FIFA untuk meninjau ulang proses yang menyebabkan kontroversi. Ini merujuk pada rencana yang memicu kemarahan: usulan pembentukan FIFA Forward Enterprise (FFE) dan penjualan hak komersial Piala Dunia. Rencana itu akhirnya dibatalkan, tetapi prosesnya yang dinilai tidak transparan telah memicu protes dari banyak federasi nasional.
"Kami berkomitmen untuk terus bekerja sama dengan FIFA, asosiasi anggotanya, konfederasi sepak bola lain, dan pemangku kepentingan untuk menjaga dan mematuhi tata kelola yang baik, kepatuhan pada proses hukum, dan transparansi praktik terbaik global, serta untuk berkontribusi pada pembangunan dan pertumbuhan sepak bola di seluruh dunia," ujar Motsepe dalam pernyataannya.
Di sisi lain, dukungan ini menjadi catatan penting bahwa Afrika tidak serta-merta mengikuti arus penolakan yang digalang UEFA, Amerika Utara, dan Asia. CAF memiliki 54 dari 211 asosiasi anggota FIFA, menjadikannya blok suara yang sangat kuat. Dukungan bulat dari Afrika ini menjadi penentu dalam pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan pada Maret tahun depan.
Sebelumnya, lima tokoh sepak bola Afrika paling berpengaruh telah menyatakan dukungan untuk Infantino. Mereka adalah Wakil Presiden CAF dari Maroko, Fouzi Lekjaa, serta anggota Dewan FIFA dari Mesir, Hany Abo Rida, dari Niger, Hamidou Djibrilla, dan dari Mauritania, Ahmed Yahya. Presiden federasi sepak bola Republik Demokratik Kongo, Veron Mosengo-Omba, juga menambahkan suaranya.
Motsepe sendiri telah lama menjadi pendukung setia Infantino. Ia pernah menyebut Infantino sebagai sahabat yang setia. "Saya secara pribadi mendukung Gianni Infantino. Dia bukan hanya teman baik. Dia teman yang setia. Dia setia kepada Afrika. Saya berasal dari latar belakang di mana ketika orang telah setia kepada kita, kita tidak pernah menusuk mereka dari belakang," ujar Motsepe beberapa hari sebelum skandal penjualan hak komersial Piala Dunia meledak.
FIFA sendiri telah mengeluarkan pernyataan pada Rabu yang sepenuhnya mendukung presidennya. Ini menjadi sinyal bahwa Infantino masih memiliki kendali yang kuat di dalam organisasi, meskipun menghadapi tekanan dari luar.
Kontroversi yang melanda Infinino dimulai ketika FIFA merencanakan untuk mendirikan FFE dan menjual hak komersial Piala Dunia. Rencana ini memicu kemarahan banyak federasi nasional yang merasa tidak diajak berkonsultasi. Tekanan dari berbagai benua akhirnya memaksa FIFA untuk membatalkan rencana tersebut, namun hal ini tetap meninggalkan luka dan pertanyaan tentang transparansi dalam pengambilan keputusan FIFA.
Bagi Indonesia, dinamika ini penting untuk dicermati. PSSI sebagai anggota FIFA tentu akan merasakan dampak dari arah kepemimpinan FIFA ke depan. Dukungan Afrika yang kuat terhadap Infantino bisa berarti kebijakan FIFA yang terus berpihak pada pengembangan sepak bola di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia. Program-program FIFA seperti pembangunan infrastruktur dan pengembangan usia muda di Indonesia berpotensi terus berlanjut jika Infantino kembali terpilih.
Namun, situasi ini juga membuka peluang bagi Indonesia untuk lebih aktif dalam percaturan sepak bola global. PSSI dapat belajar dari blok Afrika yang mampu memanfaatkan posisi strategisnya untuk mendapatkan perhatian dan investasi. Indonesia, dengan jumlah penduduk dan basis penggemar sepak bola yang besar, seharusnya bisa memainkan peran yang lebih signifikan dalam menentukan arah kebijakan FIFA, bukan hanya menjadi penonton.
Ke depan, pertarungan menuju pemilihan presiden FIFA pada Maret 2026 akan semakin menarik. Dengan dukungan Afrika yang solid, Infantino memiliki modal kuat untuk mempertahankan posisinya. Namun, tekanan dari UEFA dan benua lain tidak akan hilang begitu saja. Pertanyaan tentang tata kelola dan transparansi akan terus mengitari periode kepemimpinan FIFA. Bagi Indonesia, ini adalah momentum untuk lebih aktif dalam perpolitikan sepak bola global, memastikan kepentingan sepak bola nasional terwakili dan mendapat manfaat dari setiap keputusan yang diambil di tingkat dunia.