Internasional

Aktor Senior Malaysia Kamarool Yusoff Meninggal Dunia di Usia 68

Ringkasan

  • Aktor senior Malaysia Kamarool Yusoff, yang dikenal lewat film ikonik Gila Gila Remaja dan Rock, meninggal dunia pada Rabu (5/8) di Rumah Sakit Tanah Merah, Kelantan akibat sakit perut yang dideritanya.
  • Ia berusia 68 tahun.

Kabar duka menyelimuti industri perfilman Malaysia. Aktor senior Kamarool Yusoff, yang akrab disapa Cik Man, meninggal dunia pada Rabu (5/8) sore di Rumah Sakit Tanah Merah, Kelantan. Kepergian lelaki berusia 68 tahun itu meninggalkan duka mendalam bagi penggemar film Melayu klasik di seluruh kawasan, termasuk Indonesia.

Kabar tersebut dibenarkan oleh putra sang aktor, Fakhrol, kepada media Malaysia. Ia mengungkapkan bahwa sang ayah telah mengeluh sakit perut dan nyeri punggung sejak sehari sebelumnya, namun menolak untuk dilarikan ke rumah sakit. "Kami mendesaknya untuk pergi ke rumah sakit tetapi awalnya ia menolak. Namun, karena rasa sakitnya tak tertahankan, kami membawanya untuk berobat kemarin," tutur Fakhrol.

Sebelumnya, Kamarool juga sempat menjalani perawatan intensif akibat serangan jantung dua tahun lalu. Meski demikian, kondisi kesehatannya sempat pulih dan ia kembali aktif beraktivitas. Anak perempuan sang aktor, Nurul Najihah Kamarozaman, menyatakan bahwa jenazah akan dimakamkan di Kelantan pada Kamis (6/8).

Nama Kamarool Yusoff melekat kuat di memori pecinta film Melayu era 1980-an. Ia dikenal luas lewat perannya dalam film Gila Gila Remaja (1986) dan Rock (1986). Kedua film tersebut menjadi ikon budaya pop dan melambungkan nama para pemainnya sebagai bintang muda kala itu. Gila Gila Remaja bahkan dianggap sebagai salah satu film komedi remaja paling berpengaruh di Malaysia, melahirkan sekuel dan tren baru dalam sinema lokal.

Karier panjang Kamarool tidak berhenti di era 80-an. Ia terus berkarya dan menjadi wajah yang akrab di layar kaca, baik dalam film maupun drama televisi. Dedikasinya terhadap seni peran membuatnya dijuluki sebagai salah satu aktor serba bisa yang mampu membawakan peran komedi maupun dramatik dengan sama baiknya. Semasa hidupnya, ia tidak hanya dikenal sebagai aktor, tetapi juga sebagai sosok yang humoris dan rendah hati di lingkungan pergaulannya.

Bagi pengamat budaya populer, kepergian Cik Man merupakan simbol berakhirnya satu babak penting perfilman Melayu. Era 1980-an adalah masa keemasan di mana film-film Melayu mampu bersaing di pasar domestik dan regional. Nama-nama seperti Kamarool Yusoff, bersama rekan-rekannya, membangun fondasi industri hiburan yang kini dinikmati generasi masa kini.

Duka cita mengalir deras dari kalangan publik figur Malaysia. Komedian Shuib Sepahtu, anggota grup lawak Senario, serta penyanyi-aktris Ara Johari turut menyampaikan belasungkawa di media sosial. Menteri Komunikasi Malaysia Fahmi Fadzil juga memberikan penghormatan terakhirnya melalui unggahan resmi. "Ia adalah legenda sejati yang memberikan dampak besar pada industri perfilman Malaysia," tulis Fahmi.

Fahmi menambahkan, almarhum merupakan sosok yang sangat dihormati, tidak hanya di kalangan industri akting tetapi juga di antara pecinta seni di seluruh negeri. "Terima kasih telah memberikan warna pada dunia hiburan dan menciptakan banyak kenangan indah bagi generasi penonton. Warisan, kontribusi, dan karya-karyanya akan terus hidup di hati kami," imbuhnya.

Duka mendalam juga dirasakan oleh pencinta film Malaysia di Indonesia. Banyak penonton Indonesia yang tumbuh besar menonton film-film Melayu era 80-an dan mengenal wajah Kamarool Yusoff. Meskipun industri perfilman Indonesia dan Malaysia memiliki pasar masing-masing, terdapat ikatan kultural yang kuat melalui kesamaan bahasa dan budaya Melayu. Film-film seperti Rock dan Gila Gila Remaja bahkan sempat populer di sebagian wilayah Indonesia, terutama di Sumatra dan Kalimantan.

Kepergian Kamarool menjadi pengingat akan pentingnya dokumentasi sejarah perfilman Asia Tenggara. Generasi muda Indonesia mungkin tidak mengenal nama Cik Man, tetapi karya-karyanya adalah bagian dari kekayaan budaya yang menghubungkan dua negara serumpun. Era tersebut adalah fondasi bagi aktor-aktor lintas negara seperti yang kita lihat saat ini, di mana kolaborasi industri hiburan Indonesia-Malaysia menjadi hal yang umum.

Kini, industri hiburan Malaysia kembali kehilangan salah satu ikon terbaiknya. Namun, legiun penggemar dan keluarga besar perfilman Melayu dapat merasa tenang karena warisan Kamarool Yusoff akan terus dikenang melalui karya-karyanya yang abadi. Rest in peace, Cik Man.

Mengapa Ini Penting

Kepergian Kamarool Yusoff menandai punahnya generasi emas aktor film Melayu klasik yang pengaruhnya melampaui batas negara, termasuk Indonesia. Di era ketika industri film Asia Tenggara saling terhubung, karya-karyanya menjadi jembatan budaya yang memperkuat ikatan serumpun. Bagi penggemar film era 80-an, kepergiannya adalah kehilangan besar, namun juga pengingat akan pentingnya pelestarian arsip film klasik yang semakin tergerus zaman. Momentum ini bisa menjadi bahan refleksi bagi industri perfilman Indonesia untuk lebih menghargai para legenda yang masih hidup.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
6 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit