Teknologi

Analisis: Kemitraan Chip Apple dan Intel Masuk Akal Secara Strategis, Namun Produksi Masih Bertahun-tahun Lagi

Analisis: Kemitraan Chip Apple dan Intel Masuk Akal Secara Strategis, Namun Produksi Masih Bertahun-tahun Lagi

Ringkasan

  • Kemitraan Apple dan Intel dipandang sebagai langkah strategis bagi AS, namun tantangan teknis dan waktu produksi yang panjang menjadi kendala utama.

Rencana Apple untuk beralih ke Intel dalam pembuatan chip, sebagaimana diumumkan oleh pihak Washington pekan lalu, mencerminkan logika strategis di mana kebutuhan bertemu dengan ambisi. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Para analis memperkirakan bahwa setiap chip canggih yang diproduksi Intel akan memakan waktu dua hingga tiga tahun untuk dikembangkan, bahkan lebih lama lagi untuk memberikan keuntungan nyata mengingat proses produksi semikonduktor yang panjang dan menuntut ketelitian tinggi.

Kesepakatan ini, yang hingga kini belum diumumkan secara resmi oleh kedua pihak, bertujuan untuk mempertemukan upaya Intel dalam membangun kembali kredibilitasnya sebagai produsen chip kontrak dengan kebutuhan Apple akan kapasitas produksi tambahan. Saat ini, pemasok utama Apple, TSMC, tengah berjuang memenuhi lonjakan permintaan chip kecerdasan buatan (AI) dari perusahaan seperti Nvidia. CEO Apple, Tim Cook, sebelumnya telah mengakui pada bulan April bahwa kendala pasokan di sisi manufaktur telah menghambat penjualan iPhone.

Secara strategis, Intel telah menjadi pilar utama dalam rencana Amerika Serikat untuk membangun kembali industri pembuatan chip domestik melalui insentif dan kebijakan tarif. Malcolm Penn, CEO Future Horizons, menyatakan bahwa skenario terbaik sekalipun membutuhkan waktu 2-3 tahun sebelum chip pertama keluar dari lini produksi. Proses desain SoC (system on chip) dengan kompleksitas tinggi seperti milik Apple membutuhkan waktu dua tahun, ditambah empat bulan siklus produksi untuk mencapai skala volume.

Penilaian ini mengasumsikan bahwa teknologi Intel sudah matang dan alat desainnya cukup andal untuk diandalkan oleh Apple. Penn menyebut kesepakatan ini sebagai 'pernikahan paksa' karena Apple harus mengambil risiko komersial dan finansial yang besar mengingat rekam jejak Intel di sektor manufaktur kontrak yang belum teruji sepenuhnya. Namun, Intel mulai menunjukkan kemajuan setelah berhasil menggaet Tesla sebagai pelanggan pada bulan April lalu.

Para analis masih terbagi mengenai proses manufaktur mana yang akan dipilih Apple. Beberapa pihak memperkirakan Apple akan mengikuti jejak Tesla menggunakan teknologi 14A milik Intel yang sangat canggih, namun masih jauh dari produksi massal. Pilihan lain yang lebih realistis adalah menggunakan proses 18A-P yang lebih matang atau node Intel 3 yang telah teruji untuk menjaga keandalan produk, meski harus mengorbankan performa mutakhir.

Bob O'Donnell dari TECHnalysis Research menambahkan bahwa jika Apple benar-benar menggunakan teknologi 14A, maka produksi baru diperkirakan tersedia pada 2028 atau 2029. Sementara itu, Daniel Newman dari Futurum Group memprediksi produksi massal chip rancangan Apple oleh Intel tidak akan terjadi sebelum akhir 2027 atau awal 2028, dengan fokus awal pada komponen yang kurang kritis untuk perangkat seperti MacBook Air atau iPad Pro.

Mengapa Ini Penting

Diversifikasi rantai pasok chip global sangat krusial bagi stabilitas industri teknologi di Indonesia yang sangat bergantung pada ketersediaan perangkat keras impor. Langkah ini menunjukkan pergeseran peta kekuatan manufaktur semikonduktor dunia yang akan berdampak pada harga dan ketersediaan produk elektronik di pasar Indonesia dalam jangka panjang.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
24 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit