Internasional

Andrea Pirlo Mundur dari Kandidat Pelatih Italia akibat Kontroversi Sponsor Judi Rusia

Ringkasan

  • Andrea Pirlo, legenda sepak bola Italia, memastikan dirinya tidak lagi menjadi kandidat pelatih timnas Italia setelah keterlibatannya sebagai duta global perusahaan taruhan Rusia Fonbet menuai kritik dan penolakan dari federasi dan parlemen Italia.

Legenda sepak bola Italia, Andrea Pirlo, memastikan dirinya tidak lagi menjadi kandidat pelatih timnas Italia setelah keterlibatannya sebagai duta global perusahaan taruhan Rusia Fonbet menuai kritik dan penolakan keras.

Pirlo yang kini menukangi klub Uni Emirat Arab, United FC, mengumumkan hal itu melalui Instagram pada Senin (27/7) waktu setempat. Ia mengaku mendapat informasi dari Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) pada hari sebelumnya bahwa namanya tidak lagi dipertimbangkan.

"Saya menyaksikan dengan rasa getir perdebatan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir seputar nama saya dan kemungkinan mengambil peran sebagai pelatih kepala tim nasional Italia," tulis Pirlo dalam unggahannya.

Sejak pekan lalu, nama Pirlo disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti Gennaro Gattuso. Ia menjadi opsi utama setelah pelatih asal Spanyol, Pep Guardiola, dilaporkan menolak tawaran menangani Gli Azzurri. Namun, pencalonannya segera terganjal isu sensitif: kerja samanya dengan Fonbet, perusahaan jasa taruhan asal Rusia.

Pirlo menandatangani perjanjian duta global dengan Fonbet pada Oktober 2023. Ia menegaskan kolaborasi itu murni bersifat komersial dan olahraga, tanpa muatan politik. "Memberikan makna politis pada kerja sama itu berarti mengaitkan saya dengan keyakinan yang tidak pernah saya ekspresikan," ujarnya membela diri.

Kendati demikian, kritik terus mengalir, terutama karena Rusia masih dalam masa perang dengan Ukraina. Situasi semakin runyam setelah Pirlo tampil bersama mantan rekan setimnya, Marco Materazzi, di Stadion Luzhniki Moskow dalam sebuah acara yang digelar Fonbet. Momen itu memicu kecaman dari pejabat FIGC dan anggota parlemen Italia.

FIGC kini menyerahkan tugas mencari pelatih anyar kepada direktur teknis yang baru diangkat, Paolo Maldini. Mantan kapten AC Milan dan timnas Italia itu bertanggung jawab mengidentifikasi sosok yang akan memimpin upaya Italia lolos ke Piala Dunia 2030. Italia gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia terakhir, sebuah noda besar bagi juara dunia empat kali.

Menariknya, Pirlo mendapat dukungan dari Duta Besar Rusia untuk Italia, Alexey Paramonov. Dalam surat yang diunggah di Facebook, Paramonov menyebut perlakuan terhadap Pirlo sebagai bentuk pengucilan oleh 'establishment pseudo-demokratis'. Ia juga menyatakan nasib serupa telah menimpa ribuan atlet, konduktor, musisi, dan seniman Rusia dalam beberapa tahun terakhir.

Dari perspektif Indonesia, kasus ini menjadi pelajaran penting bagi pengelola sepak bola nasional. Di tengah proses pencarian pelatih anyar untuk timnas senior, PSSI perlu mencermati latar belakang dan afiliasi kandidat secara saksama. Keterkaitan dengan perusahaan judi atau entitas bermasalah secara politis bisa menjadi bumerang. Di Indonesia sendiri, isu sponsor judi masih menjadi perdebatan hangat, terutama setelah beberapa klub dan even olahraga kedapatan bekerja sama dengan situs taruhan ilegal.

Pirlo sendiri menegaskan selama berkarir sebagai pemain dan pelatih, ia selalu mematuhi hukum di negara tempatnya bekerja. "Saya selalu menjalankan pekerjaan dengan kepatuhan penuh terhadap hukum negara tempat saya bekerja dan kontrak yang saya tandatangani," tegasnya.

Ke depan, karier Pirlo di United FC akan terus berjalan, sementara FIGC harus memutar otak mencari nama lain. Bursa pelatih Italia kini terbuka lebar. Nama seperti Luciano Spalletti, Roberto De Zerbi, atau bahkan Vincenzo Italiano disebut-sebut bakal masuk radar. Keputusan akhir ada di tangan Paolo Maldini yang baru menjabat direktur teknis pada bulan ini.

Kasus Pirlo menjadi pengingat bahwa di era keterbukaan informasi, jejak digital dan afiliasi publik figur selalu menjadi pertimbangan. Terlebih untuk sebuah posisi seprestisius pelatih timnas Italia, nilai-nilai etika dan politik tak bisa dipisahkan dari kompetensi teknis.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting bagi pembaca Indonesia karena mengingatkan bahwa proses rekrutmen pelatih tim nasional tidak hanya soal taktik dan prestasi, tapi juga menyangkut integritas, afiliasi komersial, dan sensitivitas politik. Pelajaran dari Italia dapat menjadi bahan refleksi bagi PSSI dalam menyeleksi pelatih timnas, terutama di tengah isu sponsor judi yang masih marak di sepak bola Indonesia. Selain itu, semakin ketatnya pengawasan terhadap kerja sama dengan entitas dari negara yang tengah berkonflik menjadi sinyal bahwa olahraga tidak bisa lepas dari dinamika geopolitik global.

Sumber Asli
Channel NewsAsia
Tanggal
27 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit