Nasional

Anggota V BPK Bobby Rizaldi Diperiksa KPK Terkait Suap Audit Muara Enim

Ringkasan

  • Anggota V BPK Bobby Rizaldi diperiksa KPK Kamis (16/7) sebagai saksi suap audit Muara Enim di Jakarta.

Anggota V Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Bobby Adhityo Rizaldi mendatangi Gedung Merah Putih Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Kamis (16/7) sekitar pukul 09.55 WIB untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi. Pemeriksaan itu berkaitan dengan dugaan suap pengubahan temuan audit laporan keuangan Pemerintah Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Bobby tiba didampingi beberapa orang yang belum diketahui identitasnya. Dia hanya memberi pernyataan singkat sebelum memasuki gedung KPK. "Kita hadir hari ini," ujar Bobby di lokasi.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo memaparkan bahwa pemeriksaan merupakan kelanjutan penyidikan kasus korupsi terkait audit laporan keuangan oleh BPK di Muara Enim. Penyidik menduga terjadi perubahan status opini dari Wajar Dengan Pengecualian (WDP) menjadi Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) melalui suap.

Pengubahan opini tersebut diduga melibatkan intervensi dari BPK Pusat. Dokumen yang disita penyidik memuat kertas kerja pemeriksaan serta catatan perubahan temuan WDP menjadi WTP khusus untuk Pemkab Muara Enim. Ada pula petunjuk upaya merubah kembali hasil audit setelah operasi tangkap tangan dilakukan.

Sebelum Bobby diperiksa, penyidik menggeledah rumahnya di Cipete, Jakarta Selatan, pada 13 dan 14 Juli. Penggeledahan menghasilkan barang bukti elektronik yang diduga kuat terkait perkara. KPK juga lebih dulu menggeledah kantor BPK Sumatera Selatan.

Kasus ini mencoreng independensi lembaga pemeriksa negara. BPK berfungsi menjamin akuntabilitas keuangan publik, namun dugaan intervensi untuk mengubah opini menunjukkan celah pengawasan yang rentan dimanipulasi. Masyarakat luas dirugikan ketika laporan keuangan daerah yang sejatinya bermasalah dibiarkan tampak bersih.

Tiga orang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap: Bupati Muara Enim periode 2025-2030 Edison, Cory Erin Hardi, dan Fika dari PT Millenium Solusi Abadi. Dua penerima suap adalah ASN BPK sekaligus pengendali teknis Titin Rita Lestari dan swasta Augusz Dewanggara alias Angga. Kelimanya sudah ditahan di Rutan KPK.

KPK mendalami posisi Augusz Dewanggara yang diduga merepresentasikan Bobby di internal BPK. Budi Prasetyo menyatakan penyidik masih menelusuri akses Angga dalam proses audit. "Apakah saudara AG ini representasi dari saudara BB yang merupakan internal di BPK, ini yang kemudian masih kami dalami," kata Budi.

Pemeriksaan Bobby hari ini krusial untuk menguatkan konstruksi perkara. Keterangan dia dibutuhkan agar alat bukti terhadap tersangka semakin utuh. Penyidik juga akan mengonfirmasi barang bukti elektronik dari rumah Bobby dan hubungannya dengan Angga.

Ke depan, KPK diproyeksikan memperluas penyidikan ke jajaran BPK Pusat bila bukti intervensi menguat. Reformasi sistem penugasan auditor dan pemisahan akses pihak luar menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa perbaikan, kepercayaan publik terhadap opini WTP bakal terus tergerus.

Publik menanti transparansi KPK soal sejauh mana keterlibatan pimpinan BPK dalam skandal ini. Penuntasan perkara akan jadi ukuran keseriusan pemberantasan korupsi di sektor pengawasan negara.

Mengapa Ini Penting

Skandal ini mengancam kredibilitas opini WTP yang selama ini dipakai pemerdaerah sebagai prestasi kinerja keuangan. Bila auditor negara bisa dibeli, seluruh hasil pemeriksaan BPK di Indonesia berpotensi diragukan investor dan masyarakat. Kasus juga memicu urgensi revisi UU BPK agar lembaga memiliki batas independensi lebih tegas dari eksekutif. Tanpa sanksi berat bagi aktor di dalam BPK, budaya korupsi pengawasan akan terus berulang tiap periode anggaran.

Sumber Asli
CNN Indonesia Nasional
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit