Anita Fam masih ingat jelas hari di mana saudara laki-lakinya memberinya amplop cokelat bertuliskan "Dokumen Anita" dengan tulisan tangan ibunya. Itu tahun 2014, beberapa waktu setelah ayahnya meninggal. Di dalamnya tersimpan akta kelahiran aslinya dan surat permohonan pengangkatan anak yang mengungkap asal-usulnya: ia dilahirkan oleh seorang remaja 19 tahun dari kota kecil di Johor, Malaysia, di bawah naungan Salvation Army Singapura. Nama ayah kandungnya kosong, hanya tanda strip.
Dekade kemudian, Fam — yang kini menjabat Presiden National Council of Social Service (NCSS) — justru memimpin ratusan lembaga layanan sosial di Singapura, termasuk Salvation Army itu sendiri. "Saat aku bercerita soal kelahiran saya ke orang-orang Salvation Army, mereka bilang akar saya ada di layanan sosial — aku benar-benar lahir di dalamnya," ujar Fam, 63 tahun, kepada CNA Women.
Perjalanan Fam ke puncak kepemimpinan sektor nirlaba tidak dimulai dari ruang rapat direksi, melainkan dari keputusan personal pada akhir 1999. Saat itu ia baru saja melahirkan anak pertamanya dan menjabat sebagai pengacara in-house di perusahaan multinasional Amerika. Setelah cuti melahirkan empat bulan, ia mencoba bekerja paruh waktu sambil menyusui, bergabung rapat malam hingga larut malam. Tapi ia sadar: tidak satu pun yang dikerjakannya dengan maksimal. Pada 31 Desember 1999, Fam mengundurkan diri jadi ibu penuh waktu.
Kurang sebulan kemudian, teman keluarga yang sama yang pernah mengundangnya ke dewan Asian Women's Welfare Association (AWWA) tahun 1994, menariknya kembali — kali ini sebagai relawan membantu anak-anak disabilitas fisik masuk ke sekolah reguler. Fam jadi wakil ketua program Teach Me yang menyediakan terapi dan bantuan pendidikan, serta memperkenalkan olahraga pada siswa-siswinya.
Bulan September, saat hamil anak kedua, Fam dipromosikan jadi ketua program. Ia kemudian memimpin TM Services, naungan AWWA untuk program anak dan remaja berkebutuhan khusus, dan meluncurkan program kesiapan kerja yang menawarkan pelatihan vokasi dan magang bagi remaja. "Sekarang tekanannya adalah dapat lima atau enam magang. Tapi dulu magang bagi mahasiswa belum jadi kebiasaan," ingat Fam. Ia tahu ini jadi keunggulan kompetitif bagi para remaja itu.
Di antara lulusan programnya: para paralimpiade Yip Pin Xiu, Theresa Goh, dan Jovin Tan. "Aku lihat mereka tumbuh. Dan mereka meninggalkan jejak padaku karena dorongan, ketahanan, dan kejelasan tujuan mereka," kata Fam.
Pengalaman itulah yang mendorong Fam menyumbangkan diri penuh untuk kepengurusan. Pada 2010, ia duduk di lebih dari sepuluh dewan dan komite — kesehatan, paliatif, disabilitas, autisme — semua tanpa bayaran. "Dulu aku bilang ke semua orang aku nggak kerja sejak akhir abad lalu," cibirnya. "Suamiku koreksi: aku cuma nggak dibayar sejak akhir abad lalu."
Tahun yang sama, Fam didiagnosis atrial fibrillation — jantung berdebar tidak teratur. Dokter menilai beban kerjanya terlalu berat, memaksanya mundur dari setengah dewan. Tapi ia tetap relawan. Pada 2016, ia ditunjuk jadi ko-ketua task force bersama Presiden NCSS saat itu untuk merancang peta jalan sektor layanan sosial Singapura lima tahun ke depan. Empat prioritas utama: memberdayakan individu dan keluarga, membangun komunitas lebih kuat, memperkuat kapabilitas organisasi, dan mengembangkan ekosistem. Visi: setiap orang berdaya hidup bermartabat di masyarakat peduli dan inklusif.
Dua tahun kemudian, Fam ditawari jabatan Presiden NCSS. Fokus utamanya: orang, bukan sekadar program. "Secara holistik, seseorang bisa punya tantangan ganda — kesehatan, sosial, pendidikan," jelasnya. "Satu program hanya memperbaiki satu tantangan. Itu nggak bantu orang utuh. Butuh satu desa penuh untuk mendukung orang yang butuh."
Bagi keluarga rentan, kebutuhannya lebih kompleks. Keluarga di flat sewa misalnya, mungkin kesulitan bayar sewa, butuh kantor layanan sosial menilai kondisi keuangan, dan sekaligus butuh dukungan ibu hamil, pendidikan anak, hingga perawatan lansia. Pendekatan terpadu inilah yang Fam dorongkan selama masa jabatannya.
Pada Juli 2026, Fam akan menyerahkan tongkat estafet setelah dua periode kepemimpinan. Ia tidak meninggalkan sektor sepenuhnya — hanya mundur dari posisi paling atas. "Tujuan hidupku adalah membuat perbedaan," tegasnya. Bagi sang anak angkat yang besar di keluarga privilegiasi tapi memilih jalan pelayanan, perbedaan itu sudah terukir dalam ribuan kehidupan yang tersentuh program-program yang ia bangun.
Perspektif Indonesia: Kisah Anita Fam menawarkan cerminan penting bagi ekosistem filantropi dan organisasi masyarakat sipil (OMS) di Indonesia. Di negara dengan lebih dari 300.000 OMS tercatat (data Kemensos 2023), tantangan fragmentasi program serupa dengan yang dihadapi Singapura: banyak inisiatif berjalan terpisah, tumpang tindih, atau tidak menyentuh akar masalah multidimensi kemiskinan dan ketidakadilan. Pendekatan "seluruh desa" yang Fam perintis — integrasi data, kolaborasi lintas sektor, dan sentralisasi manajemen kasus — relevan untuk dorong reformulasi kebijakan Perlindungan Sosial di Indonesia. Lebih jauh, narasi pribadinya mengingatkan bahwa kepemimpinan sosial bukan soal jabatan, tapi komitmen jangka panjang yang lahir dari empati nyata — nilai yang butuh ditanamkan sejak pendidikan karakter dan penguatan kurikulum kepemimpinan non-profit di perguruan tinggi negeri.