Internasional

Antara Nyeri dan Ketakutan: Anak-anak Gaza Menanggung Dampak Serangan Israel

Antara Nyeri dan Ketakutan: Anak-anak Gaza Menanggung Dampak Serangan Israel

Ringkasan

  • Hala Lubbad, bocah 7 tahun asal Gaza, menjadi yatim piatu setelah serangan udara Israel menghancurkan keluarganya, mencerminkan krisis kemanusiaan yang menimpa 17.000 anak di wilayah tersebut.

Di sebuah bangsal Rumah Sakit al-Shifa, Kota Gaza, Hala Lubbad, seorang bocah berusia tujuh tahun, terbaring lemah dengan luka bakar parah yang menyelimuti tubuh kecilnya. Suaranya lirih saat ia terus menanyakan keberadaan orang tua dan saudara-saudaranya. Hala tidak tahu bahwa pada dini hari tanggal 2 Juni, serangan udara Israel telah menghancurkan rumah keluarganya, menewaskan ayah, ibu, serta dua saudaranya seketika.

Haneen Lubbad, bibi yang kini merawat Hala, menceritakan betapa sulitnya situasi ini. Hala dan kakaknya, Mohammed (16), adalah satu-satunya anggota keluarga yang selamat dari tragedi tersebut. Hingga saat ini, pihak keluarga dan tim medis harus berhati-hati dalam menyampaikan kebenaran pahit mengenai kematian keluarganya, khawatir kondisi psikologis Hala akan runtuh jika mendengar kabar tersebut sekaligus.

Kondisi fisik Hala pun kian mengkhawatirkan. Tim dokter menyatakan bahwa ia membutuhkan tindakan medis lanjutan yang tidak tersedia di Jalur Gaza. Ada risiko serius akan hilangnya fungsi jari-jemari akibat kerusakan jaringan yang terus memburuk. Haneen mendesak agar Hala segera mendapatkan izin untuk dirujuk ke luar Gaza demi mendapatkan perawatan medis dan rehabilitasi psikologis yang komprehensif.

Kisah Hala hanyalah satu dari ribuan potret kelam anak-anak Gaza. Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan bahwa sedikitnya 17.000 anak kini berstatus yatim piatu atau terpisah dari orang tua mereka akibat eskalasi konflik yang dimulai sejak Oktober 2023. Mereka adalah saksi hidup dari kehancuran yang merenggut masa kecil, keluarga, dan rasa aman mereka.

Para ahli psikologi memberikan peringatan keras mengenai dampak jangka panjang yang akan dihadapi anak-anak ini. Kehilangan sosok pelindung di usia pertumbuhan yang krusial membuat mereka rentan terhadap trauma mendalam, kecemasan kronis, hingga depresi berat. Hilangnya identitas keluarga menjadi beban tambahan yang harus mereka pikul di tengah situasi perang yang belum menunjukkan tanda berakhir.

Secara keseluruhan, jumlah anak Palestina yang menjadi korban dalam konflik berkepanjangan ini terus melonjak, melampaui angka 21.000 jiwa. Bagi anak-anak seperti Hala, perang bukan sekadar statistik, melainkan kehancuran total atas dunia yang mereka kenal. Tanpa intervensi kemanusiaan yang mendesak, masa depan ribuan anak di Gaza terancam hilang bersama dengan puing-puing rumah mereka.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti krisis kemanusiaan mendalam yang menjadi perhatian global, termasuk bagi masyarakat Indonesia yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu Palestina. Dampak trauma psikologis pada anak-anak di zona konflik menjadi pengingat penting bagi komunitas internasional akan urgensi perlindungan hak asasi manusia dalam situasi perang.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
28 Juni 2026
Waktu Baca
3 menit