Pemerintah Kota Jakarta Selatan mengambil langkah preventif menghadapi musim penghujan dengan menggelar kerja bakti massal secara serentak di 65 kelurahan. Aksi gotong royong ini menyasar pembersihan saluran air lingkungan hingga normalisasi badan sungai yang menjadi titik krusial penumpukan sedimen.
Wali Kota Jakarta Selatan, Syafrin Liputo, memimpin langsung kegiatan tersebut di Kelurahan Kuningan Barat, Kecamatan Mampang Prapatan, Minggu. Sebanyak 300 petugas gabungan yang terdiri dari satuan tugas penanganan prasarana dan sarana umum (PPSU) serta berbagai unsur terkait dikerahkan untuk memastikan kelancaran aliran air.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah penanganan sedimentasi di Kali Mampang serta saluran air yang berada di permukiman padat penduduk. Langkah ini diambil sebagai upaya memastikan seluruh infrastruktur drainase dalam kondisi prima sebelum intensitas curah hujan meningkat drastis.
Selain petugas lapangan, keterlibatan aktif Aparatur Sipil Negara (ASN) dari tingkat sekretariat kota hingga kelurahan menjadi simbol komitmen pemerintah dalam memberikan contoh nyata bagi masyarakat. Partisipasi lintas sektor ini diharapkan dapat memicu kesadaran kolektif warga untuk turut menjaga kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.
Syafrin menegaskan bahwa pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menghadapi ancaman banjir. Kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan ke dalam saluran air maupun sungai menjadi variabel penentu keberhasilan pengendalian banjir di ibu kota.
Sementara itu, Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, Santo, memaparkan data teknis pengerukan Kali Mampang yang telah berjalan sejak 8 Agustus. Hingga saat ini, progres pengerukan telah mencapai 61 persen dengan total volume sedimen yang diangkat mencapai 1.055 meter kubik sepanjang 437 meter.
Target penyelesaian pengerukan ini dijadwalkan rampung pada 30 Oktober mendatang. Selain pengerukan, pembangunan turap di sekitar Kali Mampang pun terus dikebut sebagai upaya memperkuat dinding sungai agar tidak mudah longsor saat debit air meningkat.
Progres pembangunan turap sepanjang 400 meter tersebut kini telah menyentuh angka 70 persen. Suku Dinas SDA menargetkan seluruh pekerjaan konstruksi ini akan selesai sepenuhnya pada awal Desember 2026, guna memberikan perlindungan maksimal bagi warga di sekitar bantaran sungai.
Dalam operasionalnya, Dinas SDA mengerahkan tiga unit alat berat dan lima unit dump truck untuk mempercepat mobilisasi material hasil kerukan. Sebagian besar material dibuang ke lokasi pembuangan di Ancol, sementara sisanya ditempatkan di area sekitar pengerjaan untuk efisiensi waktu.
Keberhasilan mitigasi banjir di Jakarta sangat bergantung pada sinergi antara infrastruktur fisik dan perilaku warga. Tanpa adanya pemilahan sampah dari sumbernya, saluran air yang telah dibersihkan akan kembali tertutup oleh tumpukan sampah dalam waktu singkat.
Pemkot Jakarta Selatan berkomitmen untuk terus menggencarkan sosialisasi pengelolaan sampah mandiri. Inisiatif ini diharapkan mampu mengubah budaya masyarakat dalam memperlakukan sampah, dari yang awalnya sekadar membuang, menjadi mengelola dan memilah untuk mengurangi beban di tempat pembuangan akhir.
Ke depan, pemeliharaan rutin pasca-pengerukan akan menjadi kunci utama keberlanjutan sistem drainase. Pemerintah daerah perlu memastikan bahwa setiap saluran air yang telah diperbaiki tetap terjaga kapasitas tampungnya melalui pengawasan ketat dan partisipasi warga yang berkelanjutan.