Penyerang tim nasional Ghana, Antoine Semenyo, melontarkan pernyataan kontroversial pasca pertandingan penyisihan grup Piala Dunia. Ia menegaskan bahwa para pemain Ghana seharusnya lebih berani melakukan protes dan mengerumuni wasit di lapangan, terutama setelah insiden penalti yang tidak ditinjau oleh perangkat pertandingan saat melawan Inggris.
Dalam pertandingan Grup L yang berakhir imbang 0-0 melawan Inggris tersebut, Ghana merasa dirugikan oleh keputusan wasit Said Martinez. Insiden yang melibatkan tekel keras Ezri Konsa terhadap Prince Kwabena tidak membuahkan hukuman penalti, yang membuat Semenyo merasa timnya perlu bersikap lebih vokal dan agresif di depan pengadil lapangan.
Semenyo berargumen bahwa dalam sepak bola modern, tekanan dari pemain di lapangan serta instruksi pelatih kepada ofisial keempat sangat krusial untuk memastikan keadilan. Menurutnya, pemain perlu menunjukkan reaksi yang lebih nyata atau bahkan berpura-pura cedera lebih lama agar wasit mau meninjau kembali keputusan melalui teknologi yang tersedia.
Di sisi lain, pelatih Ghana, Carlos Queiroz, mengungkapkan dilema yang dihadapi para pemainnya. Ia menjelaskan bahwa jika pemain terlalu agresif memprotes wasit, mereka justru berisiko mendapatkan kartu kuning, yang menciptakan situasi sulit bagi tim. Queiroz mengaku sering dikritik karena pemainnya dianggap terlalu pasif dalam menuntut keadilan di lapangan.
Queiroz juga melayangkan kritik keras terhadap efektivitas teknologi VAR yang dinilainya belum maksimal meski sudah berjalan selama satu dekade. Ia mendesak FIFA untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendukung keputusan di balik layar agar kejadian serupa tidak terulang dan merugikan tim yang bertanding.
Selain persoalan teknis di lapangan, timnas Ghana juga menghadapi tantangan logistik terkait visa bagi gelandang mereka, Thomas Partey, untuk laga di Kanada. Queiroz menantang media untuk lebih vokal dalam mempertanyakan keputusan otoritas imigrasi Kanada, menekankan bahwa peran pers sangat besar dalam membentuk opini publik terkait isu-isu yang menghambat profesionalisme atlet.