Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menilai kehadiran Indonesia Open Network (ION) menjadi jawaban atas kendala digitalisasi UMKM yang selama ini terfragmentasi. Ketua Umum APINDO Shinta W. Kamdani menyatakan ION bakal memperluas akses pasar sekaligus menekan biaya operasional pelaku usaha dalam ekosistem perdagangan digital.
Pernyataan tersebut disampaikan Shinta di Jakarta pada Jumat menyusul peluncuran ION beberapa hari sebelumnya. Program nasional ini diperkenalkan di ibu kota pada 7 Juli 2026 dalam rangka kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia.
Peluncuran ION dilakukan bersama Presiden Prabowo Subianto dan Modi sebagai wujud penguatan kemitraan strategis Indonesia–India di bidang ekonomi digital. Infrastruktur ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang diteken kedua negara pada Januari 2025.
Kerja sama tersebut mencakup pengembangan Digital Public Infrastructure, kecerdasan buatan, dan inovasi digital. Indonesia dan India memang memiliki basis UMKM yang masif, sehingga kolaborasi infrastruktur terbuka dinilai krusial bagi inklusi ekonomi.
Shinta yang juga menjabat Ketua Dewan Penasihat ION menjelaskan bahwa selama ini digitalisasi UMKM terbentur pada fragmentasi marketplace. Biaya integrasi teknologi tinggi, akses logistik dan pembiayaan terbatas, serta mahalnya akuisisi pelanggan membuat banyak pelaku usaha tertinggal.
Melalui jaringan terbuka, pelaku usaha dari berbagai skala dapat memperoleh biaya transaksi lebih rendah dan konektivitas lebih baik. Marketplace, perusahaan logistik, perbankan, hingga penyedia pembayaran bisa berkolaborasi di atas infrastruktur yang sama.
ION berbeda dengan platform e-commerce konvensional karena bukan marketplace baru. Infrastruktur ini menghubungkan aplikasi pembeli, penjual, logistik, sistem pembayaran, dan layanan digital dalam satu ekosistem nasional yang interoperabel.
Dengan prinsip “Join Once. Sell Everywhere”, pelaku usaha cukup melakukan integrasi satu kali untuk terhubung ke berbagai platform. Pendekatan ini diharapkan memangkas biaya teknologi, merangsang inovasi, dan menciptakan persaingan sehat bagi UMKM maupun konsumen.
Menurut Shinta, interoperabilitas merupakan kunci menuju tahap berikutnya dalam perkembangan ekonomi digital Indonesia. APINDO sebagai representasi dunia usaha nasional pun menjalin kerja sama dengan ION untuk mempercepat adopsi jaringan terbuka di berbagai sektor industri.
“ION membangun infrastruktur bersama yang menurunkan hambatan inovasi, mengurangi biaya usaha, dan membuka peluang bagi perusahaan dari berbagai skala untuk berkembang dalam perdagangan digital,” ujar Shinta.
Ke depan, perluasan partisipasi pelaku usaha menjadi fokus utama agar manfaat ION merata hingga daerah. Dukungan regulator dan literasi digital UMKM akan menentukan kecepatan transisi dari marketplace tertutup ke jaringan terbuka.
Tren infrastruktur perdagangan terbuka seperti ION diperkirakan menjadi standar baru di Asia Tenggara. Kolaborasi lintas negara dalam Digital Public Infrastructure berpotensi mempercepat pemulihan dan pertumbuhan ekonomi inklusif pasca berbagai guncangan global.
Perspektif Indonesia: ION menyentuh langsung lebih dari 64 juta UMKM yang berkontribusi besar pada PDB nasional. Keberadaan infrastruktur bersama ini dapat mengurangi ketergantungan pada sedikit raksasa e-commerce yang selama ini mendominasi biaya komisi. Model serupa pernah terlihat pada sistem pembayaran QRIS, yang membuktikan interoperabilitas bisa diterima luas di tanah air. Jika eksekusi ION matang, UMKM di pedesaan dapat langsung menjangkau pembeli lintas platform tanpa beban integrasi berganda.