Internasional

Argentina Tenang Hadapi Inggris di Semifinal Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Gelandang Argentina Alexis Mac Allister menegaskan timnasnya tidak merasakan tekanan menjelang laga semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris di Stadion Atlanta, Rabu (15/7) waktu setempat.

Gelandang Argentina Alexis Mac Allister menegaskan skuad La Albiceleste tidak merasakan beban psikologis menjelang semifinal Piala Dunia 2026 melawan Inggris. Pernyataan itu disampaikannya usai latihan di Atlanta United Training Ground, Marietta, Georgia, Selasa (14/7) waktu setempat. "Kami tidak merasakan tekanan. Kami sudah berpengalaman bermain di semifinal Piala Dunia dan kami berharap itu membantu," ujar pemain Liverpool itu.

Ketenangan yang dipancarkan Mac Allister bukan berarti Argentina memandang rendah lawan. Pria kelahiran 1998 itu justru mengakui kualitas tim yang dibesut Thomas Tuchel. "Inggris mempunyai sederet pemain yang luar biasa dan mereka ditangani pelatih yang bagus. Saya sama sekali tidak terkejut mereka bisa sampai sejauh ini," tuturnya. Penghargaan itu wajar mengingat Inggris telah menelan korban-korban berat di fase gugur, termasuk kekuatan tradisional seperti Prancis dan Jerman.

Laga di Stadion Atlanta akan menjadi pertemuan ke-15 antara kedua negara. Sejarah mencatat Inggris unggul dengan enam kemenangan, sementara Argentina hanya tiga kali menang, dan lima laga berakhir imbang. Kemenangan terakhir Argentina atas Inggris di panggung Piala Dunia terjadi di babak 16 besar edisi 1998. Saat itu, kedua tim imbang 2-2 hingga babak tambahan sebelum Argentina menang 4-3 lewat adu penalti.

Kenangan paling ikonik tetap melekat pada perempat final 1986. Diego Maradona mencetak dua gol legendaris — "Tangan Tuhan" dan "Gol Terbaik Abad Ini" — mengantar Argentina ke final dan akhirnya meraih trofi kedua mereka. Tiga gelar dunia (1978, 1986, 2022) kini menjadi beban sekaligus motivasi bagi generasi pemain saat ini untuk menambah koleksi di Amerika Utara.

Pelatih Lionel Scaloni telah membangun tim yang menggabungkan pengalaman veteranan seperti Lionel Messi, Nicolás Otamendi, dan Ángel Di María dengan energi muda ala Julián Álvarez dan Enzo Fernández. Kombinasi itu terbukti efektif di Qatar 2022 dan kini diuji lagi di tahap kritis. Mac Allister sendiri menjadi salah satu kunci transisi di lini tengah, mampu memutus serangan lawan sekaligus memulai konstruksi.

Di sisi lawan, Thomas Tuchel membawa pendekatan taktis yang fleksibel sejak mengantikan Gareth Southgate pasca-Euro 2024. Jerman itu menerapkan sistem 3-4-2-1 yang berubah menjadi 4-3-3 saat menyerang, memanfaatkan kecepatan Bukayo Saka dan Phil Foden di sayap serta ketajaman Harry Kane di kotak penalti. Pertahanan Inggris yang dipimpin Marc Guéhi dan John Stones baru kebobolan dua kali di lima laga terakhir.

Kedua tim sama-sama memiliki alasan kuat untuk berjuang. Argentina ingin menjadi tim pertence sejak Brasil 1962 yang berhasil mempertahankan gelar. Inggris mengincar trofi pertama sejak 1966 — kehausan yang sudah berusia 60 tahun. Narasi "Coming Home" kembali bergema di media Inggris, namun Tuchel menekankan fokus pada proses, bukan sejarah.

Rodrigo De Paul, rekan Mac Allister di lini tengah, menegaskan aspek mental akan menentukan nasib laga. "Di semifinal Piala Dunia, detail kecil memisahkan pemenang dan pecundang. Kita harus tetap tenang di bawah tekanan," kata pemain Atlético Madrid itu. Gonzalo Montiel menambah, Argentina akan berusaha mengendalikan tempo permainan agar Inggris tidak bisa memaksakan gaya konter mereka.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, laga ini menawarkan tayangan kelas dunia di waktu yang relatif ramah. Anak usia dini di zona waktu WIB dapat menyaksikan kick-off pukul 02.00 dini hari Kamis (16/7) tanpa harus begadang terlalu larut. Popularitas Argentina di Indonesia — didorong faktor Lionel Messi — memastikan antusiasme tinggi di media sosial dan komunitas futsal.

Secara taktis, pertarungan di lini tengah akan menjadi penentu. Mac Allister, De Paul, dan Enzo Fernández harus mengunci Declan Rice dan Jude Bellingham agar Inggris kesulitan membangun serangan dari belakang. Sementara itu, pertahanan Argentina harus waspada terhadap gerakan tanpa bola Kane dan penetrasi Trent Alexander-Arnold dari posisi back kanan yang sering naik ke lini tengah.

Sejarah mencatat Argentina belum pernah kalah dari Inggris di babak semifinal Piala Dunia — karena ini पहली kali mereka bertemu di tahap ini. Siapa pun pemenangnya, akan menghadapi Prancis atau Spanyol di final. Bagi Scaloni dan Tuchel, 90 menit (atau 120 menit, bahkan adu penalti) di Atlanta akan menentukan apakah perjalanan mereka berakhir dengan keluh kesah atau kesatrian.

Mengapa Ini Penting

Argentina memiliki basis penggemar terbesar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, di mana Messi dianggap ikon global. Laga semifinal ini menjadi momen langka: dua raksasa sepak bola dengan narasi sejarah yang kental bertemu di panggung tertinggi. Untuk penonton Indonesia, ini bukan sekadar pertandingan — melainkan pertemuan budaya sepak bola yang mengikat generasi. Hasilnya akan memengaruhi narasi 'GOAT' Messi serta legacy Tuchel di Inggris. Juga, jam tayang 02.00 WIB memungkinkan partisipasi masif tanpa mengorbankan produktivitas esok hari.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit