Pemerintah Amerika Serikat dan Jepang melakukan intervensi terkoordinasi untuk menghentikan pelemahan yen. Langkah ini diambil setelah mata uang Jepang tersebut jatuh ke level terendah dalam 40 tahun terhadap dolar AS, sempat menyentuh 163 yen per dolar pada akhir Juli lalu. Intervensi yang mulai dilakukan pada 31 Juli ini melibatkan penjualan euro untuk membeli yen oleh Departemen Keuangan AS, sementara otoritas Jepang juga membeli yen dalam jumlah besar. Hasilnya, yen berhasil menguat ke kisaran 157 per dolar dolar pada Rabu pekan ini.
Intervensi mata uang adalah aksi ketika bank sentral atau pemerintah membeli atau menjual mata uang asing dalam jumlah besar untuk menstabilkan nilai tukar mata uangnya sendiri. Dalam kasus ini, AS dan Jepang sama-sama membeli yen untuk mengangkat nilainya. Aksi bersama ini tergolong tidak lazim. Lazimnya, sebuah negara hanya melakukan intervensi untuk memperkuat mata uangnya sendiri, bukan mata uang negara lain.
Namun, kekhasan situasi ini terletak pada peran yen di keuangan global. Yen merupakan mata uang ketiga yang paling sering diperdagangkan di dunia setelah dolar AS dan euro. Pelemahan yen yang tajam dan tidak terkendali berpotensi menciptakan guncangan berantai pada pasar keuangan global. Karena itu, kejatuhan yen bukan lagi masalah domestik Jepang.
Akar melemahnya yen berpangkal pada stagnasi ekonomi Jepang yang berkepanjangan sejak awal 1990-an. Selama puluhan tahun, Bank of Japan mempertahankan suku bunga ultra-rendah, bahkan sempat menerapkan suku bunga negatif, untuk merangsang pertumbuhan. Kebijakan ini menjadi tekanan struktural bagi nilai tukar yen.
Kebijakan fiskal dan moneter pemerintahan Perdana Menteri Sanae Takaichi justru memperburuk kondisi tersebut. Di satu sisi, Takaichi ingin mendorong pertumbuhan dengan kebijakan fiskal longgar, tetapi di sisi lain ia juga ingin yen stabil. Padahal, campuran kebijakan itu menghasilkan yen yang lemah dan memicu masalah inflasi. "Takaichi menginginkan semuanya: pertumbuhan, kebijakan fiskal longgar, kebijakan moneter longgar, dan yen yang stabil. Namun, campuran kebijakan mereka justru menghasilkan yen lemah yang menyebabkan masalah inflasi," kata Chris Turner, kepala pasar global di ING. Sejak 2022, Tokyo telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk mempertahankan yen, namun hasilnya masih jauh dari memuaskan.
Lalu mengapa AS selaku negara adidaya bersusah payah membantu Jepang? Jawabannya, jelas, demi kepentingan nasionalnya sendiri. Masahiko Loo, ahli strategi pendapatan tetap senior di State Street Investment Management di Tokyo, menegaskan bahwa Washington tidak melakukan ini demi Jepang. "Washington tidak mencoba memperkuat yen demi kepentingan Jepang. Ini untuk mencegah penurunan yang tidak teratur yang dapat meluas ke pasar Treasury, kondisi pembiayaan global, dan stabilitas keuangan yang lebih luas," jelas Loo. Yen yang jatuh bebas pada titik tertentu menjadi masalah likuiditas global.
Kekhawatiran terbesar Washington adalah Jepang mulai menjual kepemilikan obligasi Treasury AS miliknya yang mencapai 1,114 triliun dolar per Mei lalu. Jika yen terus melemah, Tokyo akan tergoda untuk menjual Treasury AS dalam jumlah besar untuk mendapatkan dolar dan membiayai intervensi. Aksi jual obligasi Paman Sam itu akan mendorong imbal hasil (yield) naik dan berujung pada biaya utang AS yang semakin mahal, di tengah utang nasional yang telah menembus 39 triliun dolar. "Biaya finansial intervensi bagi AS rendah, dan karena Presiden Donald Trump menyukai dolar yang lebih lemah, biaya politik domestiknya minimal," tulis Shigeto Nagai, kepala ekonom Jepang di Oxford Economics.
Intervensi terkoordinasi ini juga menjadi cara hemat biaya bagi Washington untuk membantu sekutu setianya di Asia, sambil menekan tingkat bunga di dalam negeri. Trump memang dikenal selama ini mendukung dolar yang lebih lemah untuk menjaga daya saing ekspor AS, sehingga campur tangan ini tidak terlalu menuai resistensi politik domestik.
Bagi Indonesia, dinamika yen ini patut dicermati dengan saksama. Pelemahan yen telah membuat barang-barang ekspor Jepang murah, termasuk kendaraan dan elektronik yang banyak bersaing dengan produk Indonesia di pasar global. Namun, ada sisi lain yang lebih penting: intervensi yen dan gejolak nilai tukar mata uang besar selalu menciptakan efek limpahan pada pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia. Investor global kerap melakukan aksi jual aset berisiko saat terjadi turbulensi di pasar mata uang utama, dan rupiah biasanya ikut tertekan.
Bank Indonesia selama ini juga memiliki strategi intervensi serupa untuk menstabilkan rupiah, yakni dengan melakukan operasi pasar dan menjaga pasokan valuta asing. Namun, efektivitas intervensi semata memiliki batas. Ekonom mengingatkan bahwa tanpa perubahan fundamental, intervensi hanyalah solusi sementara. Derek Tang, ekonom dan CEO Monetary Policy Analytics, menyebut intervensi yen terbaru ini ibarat "melempar uang baik ke dalam lubang" bila Jepang tidak mengubah kebijakan suku bunganya. "Pada akhirnya, gaya gravitasi fundamental ekonomi akan mengalahkan upaya intervensi," tegas Tang.
Ke depan, Jepang menghadapi dilema besar. Suku bunga acuan Jepang saat ini berada di level 1,0 persen, tertinggi sejak 1995, tetapi masih jauh lebih rendah dibandingkan negara maju lain seperti AS. Kesenjangan suku bunga yang lebar ini menjadi pendorong utama pelemahan yen. Namun, pemerintah Jepang tampaknya sangat enggan menaikkan suku bunga secara agresif karena khawatir mengganggu pertumbuhan ekonomi yang baru saja pulih. Dengan demikian, tekanan terhadap yen kemungkinan akan terus berlanjut, dan intervensi semacam ini bisa terulang lagi dalam beberapa waktu ke depan.