Pemerintah Amerika Serikat dan Kanada menyatakan kemajuan signifikan dalam perundingan kesepakatan dagang komprehensif, menyusul pengumuman Presiden Donald Trump untuk menunda tarif impor sebesar 50 persen yang sebelumnya akan diterapkan pada barang-barang kanada. Trump menyampaikan melalui akun media sosialnya bahwa kedua belah pihak telah mencapai kesepakatan bersyarat, dengan pencantuman tertentu yang mas masih dalam proses finalisasi dokumen.
Dalam pernyataannya, Trump menekankan bahwa kesepakatan ini akan memberikan manfaat langsung bagi petani AS, yang selama ini mengeluhkan akses terbatas ke pasar kanada. Sementara itu, Perdana Perorangan Kanada Mark Carney menyampaikan pesan yang lebih hati-hati, menyatakan bahwa kedua negara kini berada dalam fase akhir menuju kesepakatan namun masih membutuhkan waktu untuk menyelesaikan detail teknis.
Sebelumnya, tarif sebesar 50 persen yang ditetapkan AS sebelumnya seharusnya mulai berlaku pada hari Selasa (19/8), namun ditolak oleh pemerintah Kanada yang menuduh langkah ini merupakan bentuk perlakuan diskriminatif terhadap sektor pertanian, otomotif, dan keju AS. White House juga menuding Kanada memberlakukan kebijakan proteksionis terhadap produk-produk AS, termasuk di bidang alkohol, otomotif, dan dairy.
Konflik dagang ini adalah bagian dari ketegangan yang telah berlangsung selama lebih dari setahun, sejak Trump mengambati ulang kebijekaan dagang AS terhadap Kanada. Pemerintah Kanada telah berupaya keras untuk memperbarui Perjanjian Perdagangan Utara (NAFTA) yang lama, namun Trump menolak memperpanjangnya tanpa perubahan mendasar. Sejak Juli 2025, Kanada juga sempat mengajukan permohonan resmi untuk memperbarui kesepakatan lama, tetapi ditolak karena AS menuntut reformasi struktural yang lebih luas.
Dampak dari ketegangan ini terasa kuat pada perekonomian Kanada, terutama pada sektor otomotif, stal, aluminium, dan kayu. Nilai ekspor Kanada ke AS pun mengalami penurunan sejak kebijakan tarif baru diberlakukan. Di sisi lain, petani AS juga mengalami kerugian akibat akses yang dibatasi ke pasar kanada, sehingga menjadi salah satu isu sentral dalam perundingan ini.
Dari perspektif global, perkembangan ini juga menjadi sorotan negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang erat dengan AS. Negara-negara anggota Persetujuan Ekonomi Regional inklusi AS (Asean) sekaligus mengawasi perkembangan ini sebagai pelajaran penting dalam diplomasi dagang di tengah ketidakpastian kebijakan AS.
Menariknya, perundingan ini juga menjadi uji coba bagi strategi perdagangan AS di bawah pemerintahan Trump yang cenderung proteksionis. Jika kesepakatan berhasil diselesaikan, hal ini bisa menjadi model baru bagi cara AS menegosiasikan ulang hubungan dagang dengan mitra strategisnya.
Dominic LeBlanc, Menteri Perdagangan Kanada, menyatakan optimisme usai pertemuan dengan Jamieson Greer, Wakil Perdana Menteri AS untuk Urusan Dagang, yang berlangsung pada hari Rabu (20/8). Greer menyampaikan keyakinan bahwa kesepakatan ini akan memperkuat perekonomi Amerika Serikat dan Kanada secara keseluruhan.
"Kami yakin bahwa kesepakatan ini tidak hanya menghilangkan sumber ketidakpuasan yang ada selama setahun terakhir, tetapi juga membuka jalan bagi langkah-langkah strategis ke depan," ujar Greer, sebagaimana dikutip oleh CNBC.
Sementara itu, Carney menyampaikan apresiasi tersendiri kepada tim negosiasi Kanada atas progres yang dicapai. Ia memastikan bahwa pemerintahannya tetap menekankan kepentingan strategis Kanada di sektor-sektor kunci sekaligus memberikan jaminan jangka panjang mengenai masa depan hubungan dagang kedua negara.
Meski demikian, Carney juga menegaskan bahwa masih ada ruang bagi perbaikan dan penegasan terhadap istilah-istilah yang disepakati. Ia menegaskan komitmen pemerintahannya untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan nasional Kanada dan kerja sama strategis dengan AS.
Di tingkat internasional, banyak analis menilai bahwa kesepakatan ini bisa menjadi sinyal penting bagi pasar global, terutama di tengah ketidakpastian peraturan perdagangan multilateral yang semakin retak. Jika berhasil, kesepakatan ini bisa menjadi fondasi baru bagi kerja sama ekonomi regional di Amerika Utara.
Langkah selanjutnya, kedua pihak diperkirakan akan melanjutkan pembahasan akhir pada minggu depan, dengan target untuk menandatangani kesepakatan resmi paling lambat pada akhir September 2025. Para pengamat menilai bahwa kesuksesan perundingan ini akan sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi kawasan dan mencegah dampak negatif yang lebih luas bagi rantai pasok global.