Berita

Venezuela Sepakat Tarik 31 Ton Emas dari Bank of England

Ringkasan

  • Pemerintah dan oposisi Venezuela menyepakati penarikan 31 ton emas senilai US$4 miliar dari Bank of England untuk pembangunan pasca gempa, mediasi AS.

Pemerintah Venezuela dan blok oposisi mencapai kesepakatan historis untuk menarik 31 ton emas yang disimpan di Bank of England sejak enam tahun lalu. Aset bernilai US$4 miliar atau sekitar Rp71 triliun itu akan dialokasikan untuk rehabilitasi infrastruktur pasca dua gempa bumi besar yang melanda negara Amerika Selatan itu pada Juni 2025.

Kesepakatan ini lahir setelah dua pekan negosiasi intensif yang dimediasi oleh Washington. Ramon Lopez, anggota parlemen yang terlibat dalam perundingan, mengonfirmasi bahwa pelepasan emas akan mengikuti mekanisme pengendalian ketat. Dana akan disetorkan ke rekening Kementerian Keuangan AS sebelum dialokasikan ke Venezuela.

Blokir aset berawal dari ketidakakuan Inggris terhadap pemerintahan Nicolas Maduro pasca pemilu 2018 yang dinilai tidak demokratis. Bank of England menahan 31 ton emas milik bank sentral Venezuela, mengikuti sanksi Barat yang membekukan akses Caracas ke sistem keuangan global. Selama enam tahun, emas itu terkunci di guci bawah tanah di Threadneedle Street, London.

Perubahan geopolitik mulai terlihat saat AS melonggarkan sejumlah sanksi dan bersedia bekerja sama dengan administrasi di bawah Delcy Rodriguez. Rodriguez, mantan wakil presiden, kini memimpin negara setelah Maduro dan istrinya diculik pasukan AS pada Januari 2026 — peristiwa yang mengubah dinamika kekuasaan internal Venezuela secara drastis.

Gempa bumi magnitudo 7,2 dan 7,4 yang melanda Venezuela Juni lalu menewaskan 6.438 jiwa, meruntuhkan 190 gedung, dan meninggalkan 24.000 rumah tidak layak huni. Kerusakan infrastruktur masif mendesak kedua belah pihak politik untuk mengesampingkan ego demi kepentingan kemanusiaan. Lopez menegaskan mekanisme perencanaan dan pengendalian akan diterapkan ketat agar dana tidak disalahgunakan.

Bank of England menolak mengomentari status emas tersebut. Kementerian Luar Negeri Inggris menegaskan mereka bukan pihak yang menentukan kendali aset, namun menggemakan dukungan untuk transisi kekuasaan demokratis yang mencerminkan kehendak rakyat Venezuela. Pernyataan ini menandakan Londres tidak akan menghalangi proses hukum pelepasan aset.

Bagi Indonesia, kasus Venezuela menawarkan pelajaran tentang manajemen cadangan devisa dan emas di tengah krisis politik. Bank Indonesia menyimpan cadangan emas sekitar 165 ton per Oktober 2024, sebagian disimpan di luar negeri. Kejadian Venezuela mengingatkan pentingnya diversifikasi lokasi penyimpanan dan kerangka hukum yang jelas untuk pengelolaan aset negara saat krisis geopolitik.

Analis keuangan menilai pelepasan emas ini menjadi uji coba nyata untuk tata kelola kolaboratif antara pemerintah dan oposisi. Jika berhasil, model ini bisa menjadi referensi negara lain yang mengalami kebekuan aset akibat sanksi internasional. Kunci keberhasilan terletak pada transparansi aliran dana dan akuntabilitas pelaksanaan proyek rehabilitasi.

Langkah selanjutnya adalah putusan hukum dari pengadilan Inggris mengenai hak milik atas emas. Proses hukum ini diantisipasi akan berlangsung beberapa bulan. Sementara itu, tim teknis dari kedua belah pihak Venezuela sudah mulai menyusun rencana detail alokasi dana per sektor: perumahan, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur jalan.

Jangka panjang, stabilitas politik Venezuela akan menentukan apakah emas 31 ton ini benar-benar menjadi katalis pemulihan ekonomi, atau sekadar bantuan sementara. Komunitas internasional mengawakati dengan cermat: apakah kolaborasi lintas blok ini bertahan, atau akan runtuh begitu tekanan darurat mereda.

Mengapa Ini Penting

Kasus Venezuela menunjukkan bagaimana krisis kemanusiaan bisa memaksa rekonsiliasi politik yang mustahil terjadi dalam kondisi normal. Bagi Indonesia, ini menggarisbawahi urgensi kerangka hukum cadangan emas nasional yang tahan terhadap geopolitik — BI menyimpan 165 ton emas, sebagian di luar negeri. Model kolaboratif pemerintah-oposisi Venezuela juga menjadi studi kasus langka tentang tata kelola aset negara di tengah polarisasi ekstrem, relevan untuk diskusi reformasi MPR/DPR soal pengawasan aset negara.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
19 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit