Berita

Kebijakan Efisiensi Milei Picu Krisis Utang Masif di Argentina, 21 Juta Warga Terjerat

Ringkasan

  • Kebijakan efisiensi ketat Presiden Javier Milei untuk mengendalikan inflasi justru mendorong 21 juta warga Argentina ke dalam lubang utang, dengan 5,8 juta di antaranya menunggak lebih dari 90 hari.

Jakarta — Kebijakan efisiensi radikal yang digulir Presiden Javier Milei sejak memasuki Istana Presiden Casa Rosada berhasil menahan laju inflasi, namun biayanya ditanggung rakyat kecil. Data Bank Sentral Argentina mencatat sekitar 21 juta dari 46 juta penduduk kini terjerat utang dalam berbagai bentuk, angka yang melonjak tiga kali lipat dalam setahun terakhir. Lebih parah, 5,8 juta di antaranya sudah menunggak pembayaran melebihi 90 hari — tingkat tertinggi dalam dua dekade.

Andrea, ibu berusia 32 tahun, menjadi salah satu korban domino kebijakan tersebut. Usaha catering yang ia bangun setelah toko alat tulis tempatnya bekerja tutup justru mengantarkannya ke jurang keuangan. Pinjaman untuk membeli oven baru yang awalnya satu juta peso, kini membengkak menjadi lima juta peso karena bunga yang melonjak. "Saya tidur dan bangun memikirkan cara melunasinya," ujarnya, menggambarkan keseharian jutaan Argentina lain.

Latar belakang krisis ini tak terpisah dari "therapy shock" yang diterapkan Milei. Pemangkasan subsidi masif untuk transportasi, gas, listrik, hingga obat-obatan membuat biaya hidup meledak, sementara upah stagnan. Ekonomi keluarga berada di ambang kehancuran. Menurut Center for Argentine Political Economy, pinjaman pribadi dan kartu kredit mendominasi 70 persen total utang penunggak. Ini bukan sekadar kesalahan manajemen keuangan pribadi, melainkan konsekuensi struktural dari konteks makroekonomi yang merusak daya beli.

Presiden Banco Provincia Buenos Aires, Juan Cuattromo, menolak narasi bahwa rakyat bersalah karena terlalu banyak berutang. Ia menegaskan tunggakan melonjak akibat pendapatan yang tersiksa, lapangan kerja yang menyusut, dan aktivitas ekonomi yang melambat. Namun Milei tetap keras. Dalam wawancara terbaru, ia menjawab dengan retoris: "Apakah ada yang menodongkan senjata ke kepala mereka untuk memaksa berutang?" Sikap acuh tak acuh ini memicu kemarahan publik dan kritik dari oposisi.

Di sisi lain, akses kredit yang semakin mudah justru memperparah situasi. Dompet digital Mercado Pago, milik raksasa e-commerce Mercado Libre, menawarkan "uang tunai instan" hingga ke remaja usia 13 tahun. Pemimpin Partai Pekerja Gabriel Solano melaporkan CEO Marcos Galperin ke pengadilan atas dugaan praktik rentenir. Total biaya keuangan efektif pinjaman Mercado Pago dicatat mencapai 1.375 persen per tahun — angka yang menggeramkan dan menjebak peminjam muda dalam siklus utang tak berujung.

Kasus Argentina ini mengingatkan pada dinamika serupa yang pernah terjadi di sejumlah negara berkembang. Ketika konsolidasi fisik diterapkan tanpa jaring pengaman sosial yang memadai, beban paling berat jatuh ke segmen rentan. Di Indonesia, meskipun konteksnya berbeda, fenomena pinjaman online (pinjol) berbingkai bunga tinggi dan praktik penagihan kasar pernah menimbulkan tragedi serupa. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memperketat aturan, namun tantangan literasi keuangan dan perlindungan konsumen tetap menjadi rumah pekerjaan.

Bagi pengamat ekonomi, krisis Argentina menjadi studi kasus nyata: penstabilan makro tidak berkelanjutan jika dibangun di atas penderitaan mikro. Inflasi memang turun, tapi kemiskinan melonjak. Bank Dunia memperkirakan tingkat kemiskinan Argentina naik ke 57 persen pada awal 2024. Angka utang rumah tangga yang melonjak justru menjadi indikator ketidakstabilan sosial yang berpotensi meledak sewaktu-waktu.

Masa depan Argentina kini bergantung pada apakah pemerintah mau menyesuaikan kebijakan. FMI yang baru saja menyetujui fasilitas pinjaman baru menuntut reformasi struktural, namun tekanan politik domestik semakin besar. Demonstrasi serikat buruh dan organisasi sosial semakin sering. Jika Milei tetap menolak memperluas bantuan sosial atau mengontrol praktik pinjaman predatori, krisis utang ini bisa berubah menjadi krisis legitimasi pemerintahan.

Bagi Indonesia, pelajaran utamanya jelas: efisiensi fiskal harus seimbang dengan perlindungan sosial. Ekspansi ekosistem fintech dan pinjaman digital harus diiringi regulasi ketat soal batas bunga, transparansi biaya, dan edukasi konsumen. Jangan biarkan "uang tunai instan" menjadi racun lambat bagi generasi muda. Krisis Argentina bukan sekadar berita luar negeri — itu cerminan risiko yang juga mengancam ekonomi rumahan di tanah air.

Mengapa Ini Penting

Krisis utang Argentina adalah peringatan keras bagi Indonesia soal bahaya kebijakan efisiensi tanpa jaring pengaman sosial. Paralelnya nyata: ekspansi pinjaman digital berbingkai bunga tinggi di Argentina (1.375%/tahun) mirip praktik pinjol ilegal yang pernah merajalela di Indonesia. Jika literasi keuangan dan regulasi fintech tidak diperkuat, segmen rentan — termasuk remaja — akan terjebak siklus utang yang sama. Artikel ini juga menyoroti bagaimana data makro (inflasi turun) bisa menutupi penderitaan mikro (utang rumah tangga melonjak 3x), metrik yang sering diabaikan dalam evaluasi kebijakan ekonomi.

Sumber Asli
CNN Indonesia Internasional
Tanggal
18 Agustus 2026
Waktu Baca
4 menit