Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi serangan dimulai pukul 17.30 waktu setempat atas perintah Panglima Tertinggi, dengan tujuan melemahkan kemampuan Iran mengancam aliran perdagangan di Selat Hormuz. Serangan itu menghantam kota pesisir Bushehr, termasuk area gardu listrik, serta sejumlah titik di Provinsi Khuzestan dan Hormozgan. Gubernur Bushehr, Mohammad Mozaffari, menyatakan ledakan terjadi di lokasi militer sekitar pukul 04.00 waktu setempat, memaksa tim darurat dikerahkan ke tempat kejadian.
Di Khuzestan, wakil gubernur menyebut rudal AS menjebol pinggiran kota Andimeshk. Kantor berita Fars melaporkan paling tidak tiga kota menjadi sasaran, di antaranya Ramshir di mana fasilitas aspal hancur, serta wilayah Ahvaz dan Mahshahr — pelabuhan vital Iran. Di Hormozgan, ledakan bergema di Sirik, kota yang mengawal jalur strategis Selat Hormuz. Seluruh insiden masih diselidiki otoritas Iran, namun skala serangan menunjukkan eskalasi signifikan dibanding hari-hari sebelumnya.
Kembali ke latar belakang, konflik terbaru ini meledak kembali usai gencatan senjata rapuh runtuh pada awal Juli. Washington menuduh Iran menyediakan rudal dan drone ke Houthi Yaman yang menyerbu kapal komersial di Laut Merah, serta mempercepat program nuklir melebihi batas kesepakatan 2015. Sebaliknya, Tehran menuding AS melanggar kedaulatan dengan kehadiran armada di Teluk Persia dan dukungan militer tak terbatas ke Israel. Pertemuan diplomatik di Oman pekan lalu gagal menemukan titik temu, membuka jalan untuk konfrontasi terbuka yang kini memasuki hari ke-12.
Respons Iran tidak menunggu lama. Menurut Al Jazeera, militer Kuwait mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk menembak jatuh drone yang diluncurkan dari arah Iran menuju basis AS di wilayahnya. Staf Umum Angkatan Bersenjata Kuwait menegaskan suara ledakan yang terdengar warga berasal dari proses pencegatan, bukan ledakan di darat. Pemerintah Kuwait mengimbau warga mengikuti protokol keamanan, sementara aktivitas bandara dan pelabuhan berlangsung normal dengan pengawasan ketat.
Ekspansi medan tempur ke Kuwait menandai pergulatan proxy beralih ke konfrontasi langsung antarnegara teluk. Analis keamanan Teluk Persia menilai Tehran sengaja menyerang aset AS di Kuwait untuk memaksa Washington menghadapi biaya politik di kalangan sekutu Arab. Langkah itu juga menguji komitmen keamanan kolektif yang baru saja dikukuhkan melalui kerjasama nuklir sipil AS-Arab Saudi — perjanjian yang dinilai Tehran sebagai ancaman jangka panjang.
Dampak ekonomi mulai terasa nyata. Harga minyak Brent melonjak 4 persen dalam seminggu terakhir menyentuh USD 87 per barel, didorong kekhawatiran gangguan aliran 20 juta barel harian lewat Selat Hormuz. Asuransi kapal melonjak 300 persen, memaksa sejumlah pengusaha pengangkut mengalihkan rute ke Laut Merah — di mana Houthi justru mempertajam blokade. Untuk Indonesia, kenaikan harga impor minyak mentah berpotensi memperbesar defisit neraca dagang dan menekan anggaran subsidi energi.
Kementerian ESDM telah mengaktifkan tim mitigasi untuk memantau pasokan BBM dan LPG. Pertamina mengklaim stok aman hingga 20 hari ke depan, namun mengakui risiko harga spot akan naik jika konflik melebihi bulan Agustus. Di sisi lain, kenaikan harga komoditas mineral seperti tembaga dan nikel — yang Indonesia kuasai — bisa menjadi kesempatan ekspor, asalkan logistik laut tetap terbuka. Bank Indonesia siap intervensi stabilisasi rupiah jika tekanan impor memperdalam defisit transaksi berjalan.
"Kami memantau perkembangan setiap jam dan berkoordinasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk keamanan WNI di wilayah konflik," ujar Dirjen Perlindungan WNI Kemlu, Judha Nugraha, saat dikonfirmasi Rabu (22/7). Catatannya, sekitar 1.200 WNI bekerja di Iran dan 3.500 di Kuwait, mayoritas di sektor konstruksi dan kesehatan. Rencana evakuasi darurat sudah disusun, menunggu sinyal merah dari tim diplomatik di Teheran dan Kuwait City.
Secara militer, superioritas udara AS tetap dominan dengan jet F-35 dan bomber B-2 yang terbang dari Diego Garcia. Namun Iran mengandalkan jaringan rudal balistik dan drone murah — strategi "asimetris" yang sudah diuji di Ukraina dan Laut Merah. Pakar Lembanhankam, Letjen (Purn) Agus Widjojo, menilai Iran tidak akan menyerah karena menganggap survival rezim bergantung pada deterrensi nuklir dan kemampuan menutup Hormuz. "Ini perang habis-habisan bagi Tehran," tandasnya.
Di fronts diplomatik, China dan Rusia memanggil kedua belah pihak berlatih conteng, sementara Uni Eropa mendesak kembali ke meja negosiasi nuklir. Indonesia, sebagai ketua non-blok ASEAN, mengeluarkan pernyataan menentang penggunaan kekuatan dan menawarkan good offices — meski realitasnya, pengaruh Jakarta di Teluk Persia minimal. Fokus utama pemerintah tetap pada stabilitas harga energi domestik dan keamanan warga negara.
Ke depan, tiga skenario utama diantisipasi: pertama, eskalasi total dengan AS menyerang fasilitas nuklir Fordow dan Natanz — risiko paling berbahaya bagi ekonomi global. Kedua, perang abrasi lama dengan serangan titik-titik dan blokade parsial Hormuz. Ketiga, intervensi Oman atau Qatar memaksa gencatan senjata sementara demi negosiasi ulang. Para analis condong pada skenario kedua, mengingat tahun pemilu AS dan keengganan Iran memasuki perang total tanpa jaminan dukungan Rusia-China penuh.
Bagi publik Indonesia, pelajaran utamanya jelas: ketergantungan impor energi dan logistik laut membuat ekonomi rentan terhadap geopolitik jauh. Percepatan transisi energi, diversifikasi rute impor, dan penguatan cadangan strategis BBM bukan lagi pilihan — tapi keharusan. Perang di Teluk Persia mungkin terasa jauh, tetapi tagihannya akan terasa di SPBU dan tagihan listrik setiap rumah tangga jika kita tidak bersiap sejak sekarang.