Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Amerika Serikat melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Jumat (26/6). Langkah tegas ini diambil sebagai respons atas serangan drone yang menargetkan kapal kargo berbendera Singapura di Selat Hormuz sehari sebelumnya. Insiden ini menjadi ujian signifikan bagi kesepakatan gencatan senjata sementara yang baru saja disepakati kedua negara pekan lalu untuk mengakhiri konflik berbulan-bulan.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menyatakan bahwa serangan drone Iran tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap gencatan senjata yang telah disepakati. Dalam pernyataannya di Gedung Putih, Trump menegaskan bahwa empat tembakan yang dilepaskan Iran tidak dapat ditoleransi. Meskipun sebelumnya ia mengklaim bahwa negosiasi dengan Teheran berjalan positif, serangan ini menunjukkan dinamika yang masih sangat rapuh di lapangan.
Komando Pusat Amerika Serikat (US Central Command) mengonfirmasi bahwa militer mereka telah menargetkan sejumlah fasilitas strategis di Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal, pangkalan drone, serta situs radar pesisir. Tindakan ini merupakan upaya pertahanan ini dilakukan untuk memastikan keamanan jalur pelayaran internasional yang krusial bagi ekonomi global, di tengah upaya diplomasi yang sedang berlangsung.
Di sisi lain, Ebrahim Azizi, tokoh parlemen Iran, membantah bahwa tindakan mereka melanggar gencatan senjata. Ia justru melabeli serangan tersebut sebagai bagian dari 'manajemen gencatan senjata'. Azizi menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Iran dan memperingatkan pihak luar untuk menghormati kedaulatan mereka, seraya menyatakan bahwa kontrol wilayah tidak boleh disalahartikan sebagai eskalasi militer.
Insiden ini terjadi saat Organisasi Maritim Internasional (IMO) tengah memfasilitasi evakuasi kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz melalui rute alternatif di lepas pantai Oman. Serangan terhadap kapal kargo milik Evergreen Marine Corp tersebut memaksa IMO untuk menghentikan sementara operasi evakuasi. Sekretaris Jenderal IMO, Arsenio Dominguez, menyatakan bahwa evakuasi tidak akan dilanjutkan sampai ada jaminan keamanan mutlak bagi kapal-kapal yang melintas.
Saat ini, sekitar 500 kapal masih terjebak di kawasan Selat Hormuz, sementara 115 kapal lainnya berhasil keluar dalam beberapa hari terakhir. Kegagalan dalam menjaga jalur ini memberikan tekanan besar pada ekonomi global dan melemahkan posisi tawar Iran dalam negosiasi permanen dengan AS. Kedua negara kini memiliki waktu 60 hari untuk merundingkan detail kesepakatan, termasuk penanganan stok uranium Iran dan jaminan kebebasan navigasi maritim.