Asosiasi Benih Nusantara (Asbenas) yang berbasis di Kediri, Jawa Timur, baru saja mencatatkan sejarah penting dalam sektor pertanian nasional. Untuk pertama kalinya, asosiasi ini berhasil melakukan pengiriman sebanyak 200 ton jagung dengan spesifikasi kualitas pangan atau jagung industri. Komoditas tersebut diserap langsung oleh Perkumpulan Produsen Pemurni Jagung Indonesia (P3JI) serta sejumlah perusahaan industri pangan strategis lainnya di Tanah Air.
Wakil Ketua Asbenas, Dedy Supriadi, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan terobosan signifikan mengingat selama ini kebutuhan jagung pangan hampir 100 persen dipenuhi melalui jalur impor. Standar kualitas yang tinggi dan spesifik menjadi alasan utama mengapa industri pangan selama ini lebih memilih produk luar negeri dibandingkan jagung pakan ternak yang selama ini mendominasi produksi domestik.
Dalam distribusi perdana ini, jagung kualitas pangan tersebut dikirimkan ke berbagai titik industri strategis di Indonesia, meliputi Cilegon, Wonogiri, Pasuruan, Wonogiri, hingga Krian. Dedy mengungkapkan bahwa potensi pasar untuk jagung pangan di Indonesia sebenarnya cukup menjanjikan, dengan angka permintaan mencapai 1 juta hingga 1,5 juta ton per tahun dari anggota P3JI.
Meski demikian, angka tersebut memang masih jauh di bawah kebutuhan jagung pakan yang mencapai 15 juta ton per tahun. Menurut Dedy, stagnasi permintaan jagung pangan terjadi karena keterbatasan jumlah industri pengolah serta ketergantungan pada bahan baku setengah jadi seperti tepung jagung, dextrose, dan maltose yang selama ini diimpor langsung oleh industri besar.
Sebagai langkah jaminan kualitas, sebanyak 14 perusahaan dalam negeri yang terlibat dalam pengiriman ini telah memastikan bahwa jagung yang dikirim telah melalui uji standar mutu yang ketat. Parameter yang diuji meliputi kandungan pati, protein, dan berbagai unsur kimia lainnya agar benar-benar memenuhi spesifikasi industri pangan nasional yang sangat ketat.
Langkah konkret Asbenas ini diharapkan menjadi role model bagi ekosistem pertanian dari hulu ke hilir. Dengan dukungan sinergis dari Kementerian Pertanian dan industri pangan, diharapkan ketergantungan Indonesia terhadap impor jagung pangan dapat ditekan secara bertahap, sekaligus meningkatkan kemandirian pangan nasional melalui pemberdayaan benih dan budi daya petani lokal.