Di tengah kondisi keamanan global yang semakin tidak menentu, Asia Timur kini muncul sebagai kandidat kuat untuk menggantikan posisi Eropa sebagai tolok ukur perdamaian dan pertumbuhan ekonomi dunia. Analisis ini disampaikan oleh Yan Xuetong, seorang ilmuwan politik terkemuka yang menjabat sebagai presiden kehormatan di Institute of International Relations, Universitas Tsinghua, Beijing.
Yan berpendapat bahwa Eropa saat ini tidak lagi menjadi model yang layak untuk diikuti, terutama mengingat ketegangan geopolitik yang melanda kawasan tersebut. Menurutnya, keretakan yang semakin lebar antara Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya di Eropa justru akan memberikan peluang bagi Asia Timur untuk meningkatkan pengaruh dan statusnya di kancah global.
Dalam sebuah acara media di Beijing, Yan memberikan peringatan keras bahwa situasi keamanan dunia diprediksi akan terus memburuk dalam lima tahun ke depan, terlepas dari hasil negosiasi diplomatik yang sedang berlangsung, termasuk terkait isu Iran. Ia menegaskan bahwa risiko konflik antarnegara secara global terus meningkat seiring dengan melemahnya stabilitas di kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika.
Salah satu sorotan utama dari analisis Yan adalah ketidakmampuan negara-negara Eropa dalam menangani konflik Rusia-Ukraina. Ia mempertanyakan kapasitas Eropa dalam menjaga perdamaian menyeluruh jika mereka sendiri gagal menyelesaikan krisis di halaman belakang mereka. Ketidakpastian ini kontras dengan stabilitas yang selama ini terjaga di Asia Timur.
Berbeda dengan kawasan lain yang terus diguncang oleh ketegangan militer, Asia Timur dinilai telah berhasil mempertahankan periode perdamaian yang cukup panjang. Keberhasilan dalam menjaga stabilitas ini menjadi modal utama kawasan tersebut untuk memfokuskan sumber daya pada pembangunan ekonomi dan inovasi, yang pada akhirnya akan memperkuat posisi tawar Asia Timur di masa depan.
Dengan pergeseran dinamika kekuatan dunia, Asia Timur tidak hanya dipandang sebagai mesin ekonomi, tetapi juga sebagai jangkar stabilitas. Jika tren ini berlanjut, kawasan ini kemungkinan besar akan menjadi pusat gravitasi baru yang menentukan arah kebijakan internasional serta arus investasi global di dekade mendatang.