Seorang pria asal Provinsi Guangdong, China, memicu kemarahan publik yang luas setelah memutuskan untuk memaafkan kekasihnya yang telah membunuh putranya yang berusia 18 bulan. Tindakan tersebut dilakukan dengan menandatangani surat pernyataan damai, yang memungkinkan pelaku terhindar dari konsekuensi hukum yang lebih berat atas perbuatannya yang kejam.
Kasus tragis ini mencuat setelah ibu kandung korban, yang merupakan mantan istri pria tersebut, menuntut penyelidikan mendalam atas kematian anaknya. Sang ibu, yang dikenal dengan nama keluarga Xie, menyatakan bahwa ia dan mantan suaminya, Li, telah bercerai pada April tahun lalu setelah membina rumah tangga selama lebih dari satu dekade dan dikaruniai dua orang anak laki-laki.
Berdasarkan kesepakatan hak asuh pasca-perceraian, Xie mendapatkan hak asuh atas anak sulung mereka, sementara Li memegang hak asuh atas putra bungsu mereka yang masih balita. Tragisnya, pada November lalu, Xie menerima telepon mendadak dari mantan ayah mertuanya yang mengabarkan kematian putra bungsunya dan meminta izin untuk memakamkan sang anak di tanah leluhur mereka.
Merasa curiga dengan situasi tersebut, Xie segera bergegas menuju rumah sakit. Di sana, ia mendapati Li tengah sibuk mengurus dokumen kremasi tanpa memberikan penjelasan yang memadai mengenai penyebab kematian anak mereka. Xie yang tidak percaya begitu saja, menuntut keterangan lebih lanjut dari pihak medis mengenai kondisi fisik anaknya sebelum proses kremasi dilakukan.
Dokter yang menangani korban mengungkapkan temuan yang mengejutkan. Terdapat luka serius di bagian belakang kepala balita tersebut, sementara bagian perutnya dilaporkan membengkak parah menyerupai balon. Kondisi fisik yang tidak wajar ini menjadi bukti kuat adanya kekerasan fisik ekstrem, yang diduga dilakukan oleh kekasih Li dengan cara menendang perut balita tersebut hingga tewas.
Reaksi Li yang justru memilih untuk melindungi kekasihnya dan memaafkan pelaku pembunuhan anaknya sendiri memicu gelombang kecaman di media sosial China. Banyak netizen mengungkapkan rasa tidak percaya dan menyebut sikap apatis sang ayah jauh lebih mengerikan dibandingkan tindakan brutal pelaku. Kasus ini kini menjadi sorotan nasional terkait pentingnya perlindungan anak dan keadilan bagi korban kekerasan dalam rumah tangga.