Folarin Balogun, penyerang timnas Amerika Serikat, membuka suara soal keputusan FIFA yang membatalkan suspensi satu pertandingan atas kartu merah yang ia terima di babak 16 besar. Dalam wawancara dengan CBS Mornings yang tayang Selasa, Balogun mengakui ia sudah menduga keputusan itu akan memicu gelombang kontroversi meski awalnya merasa senang bisa kembali beraksi.
"Reaksi awal saya memang senang bisa kembali ke tim. Tapi saat mulai merenung, saya tahu ini akan menimbulkan banyak kontroversi," ujar Balogun. Keputusan FIFA diambil setelah Presiden Donald Trump meminta Ketua Umum FIFA Gianni Infantino meninjau kasus kartu merah yang diterima Balogun saat AS mengalahkan Bosnia Herzegovina 2-0.
Kartu merah itu diberikan setelah Balogun terlambat menarik kaki dan menginjakkan kakinya ke pergelangan kaki kanan Tarik Muharemovic, pemain Bosnia. Secara standar, pelanggaran itu mengakibatkan suspensi otomatis satu pertandingan, yang berarti Balogun harus absen di perempat final lawan Belgia. Namun FIFA mengumumkan suspensi hukuman itu ditangguhkan selama satu masa percobaan setahun.
Keputusan itu segera memicu protes keras dari berbagai pihak. Persatuan Sepak Bola Belgia, UEFA, mantan pejabat tinggi FIFA, hingga sejumlah bekas pemain top menilai langkah itu merusak integritas turnamen dan menciptakan preseden berbahaya. Kritik utama tertuju pada campur tangan politik langsung dari Kepala Negara AS ke badan pengelola sepak bola dunia.
Di sisi lain, Balogun mengungkapkan dinamika di dalam tim saat berita itu tersebar. "Saya bisa melihat sedikit kegelisahan di rekan-rekan tim saya karena ini situasi yang sangat unik," katanya. Kabar pembatalan hukuman disampaikan saat seluruh tim berada di bus menuju lapangan latihan. "Semua orang berteriak dan bersorak. Perjalanan bus itu cukup intens," kenangnya.
Meski terdengar emosional, Balogun menegaskan ia dan rekan-timnya berusaha memisahkan perasaan dari tugas profesional. "Kita semua profesional, jadi bukan hal yang terlalu sulit untuk memisahkan emosi dari pekerjaan begitu melewati kejut awal pengumuman kembali saya ke tim," tandasnya. Namun di lapangan, AS dikalahkan Belgia 1-4, dengan Balogun kesulitan memberikan pengaruh signifikan.
Kinerja Balogun di Piala Dunia 2026 sebelum insiden ini cukup gemilang. Ia mencetak tiga gol dan menjadi salah satu andalan lini depan AS. Kekalahan telak lawan Belgia mengakhiri perjalanan Tim Garuda di perempat final, serta menutup turnamen yang awalnya menjanjikan untuk Balogun dan timnya.
Kasus ini menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan FIFA di era kepemimpinan Infantino. Ahli hukum olahraga menilai keputusan ini menciptakan *precedent* berbahaya di mana tekanan politik bisa mengubah keputusan disiplin yang seharusnya netral. Beberapa federasi sepak bola Eropa bahkan mempertimbangkan mengajukan protes formal ke Mahkamah Arbitrase Olahraga (CAS).
Bagi sepak bola Indonesia, kasus Balogun jadi pengingat penting soal independensi badan disiplin. PSSI dan Liga Indonesia Baru (LIB) perlu memastikan komite disiplin beroperasi bebas tekanan eksternal, baik dari pemerintah, sponsor, maupun klub. Integritas kompetisi hanya terjaga jika hukum berlaku sama untuk semua pihak tanpa kecuali.
Di Indonesia sendiri, kasus intervensi politik ke keputusan disiplin sepak bola tak asing. Beberapa musim lalu, keputusan komite disiplin PSSI pernah diprotes karena diduga terpengaruh tekanan pihak berkuasa. Pelajaran dari kasus Balogun: transparansi proses *review* dan komposisi komite disiplin yang independen jadi kunci mencegah kontroversi serupa.
FIFA hingga kini belum mengeluarkan penjelasan detail soal dasar hukum pembatalan suspensi berbasis "masa percobaan" — konsep yang tidak ada di Kode Disiplin FIFA edisi terbaru. Para pengamat menilai keputusan ini longsor dari landasan yuridis dan lebih bersifat politik. Jika tidak diklarifikasi, kepercayaan publik ke tata kelola FIFA akan terus erosi.
Ke depan, kasus ini kemungkinan besar akan dibahas di Kongres FIFA mendatang. Beberapa federasi besar seperti Jerman, Prancis, dan Spanyol didorong untuk mengusulkan penguatan otonomi komite disiplin serta larangan intervensi eksternal. Bagi Balogun, fokus kini bergeser ke musim klub baru dan usaha membangun kembali reputasi setelah turnamen yang berakhir pahit.