Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali bersama sejumlah pemerintah daerah (pemda) di wilayah tersebut resmi menginisiasi kolaborasi strategis dalam pengelolaan distribusi pangan. Langkah ini diambil sebagai upaya preventif untuk menjaga stabilitas harga di tengah tantangan transisi cuaca yang berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian.
Kepala BI Bali, Achris Sarwani, mengungkapkan bahwa fasilitasi distribusi pangan dilakukan melalui optimalisasi peran Perumda Pangan di setiap kabupaten/kota. Sinergi ini dirancang agar wilayah yang mengalami surplus produksi dapat segera menyalurkan komoditasnya ke daerah yang mengalami defisit atau keterbatasan pasokan, sehingga disparitas harga dapat ditekan.
Ketidakpastian iklim yang dipicu oleh peralihan dari musim hujan ke kemarau, ditambah dengan potensi fenomena El Nino moderat, menjadi perhatian serius bagi otoritas moneter dan fiskal. Kondisi cuaca yang tidak menentu ini dikhawatirkan akan menurunkan hasil panen petani lokal, yang secara langsung berdampak pada pasokan pangan pokok di pasar.
Selain faktor cuaca, tekanan inflasi di Bali juga dipicu oleh tingginya permintaan barang dan jasa selama periode liburan sekolah. Sebagai destinasi wisata utama, Bali memiliki beban ganda dalam memastikan ketersediaan pangan bagi penduduk lokal serta jutaan wisatawan domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke Pulau Dewata.
BI Bali juga mewaspadai tekanan inflasi dari faktor eksternal, seperti kenaikan biaya logistik global yang berdampak pada harga barang impor. Untuk memitigasi risiko tersebut, pemerintah daerah tetap menjalankan langkah-langkah konvensional yang terbukti efektif, seperti penyelenggaraan pasar murah, pengawasan distribusi LPG bersubsidi, serta pemantauan harga secara berkala di tingkat pengecer.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali, inflasi bulanan pada Juni 2026 tercatat sebesar 0,71 persen, meningkat dari 0,42 persen pada bulan sebelumnya. Secara tahunan, inflasi Bali berada di level 3,27 persen, yang menunjukkan perlunya kewaspadaan ekstra karena angka tersebut sudah mendekati batas atas target inflasi daerah di rentang 1,5 hingga 3,5 persen.