Internasional

Bayi Palestina Meninggal di Tepi Barat Usai Akses Medis Darurat Dihambat Israel

Bayi Palestina Meninggal di Tepi Barat Usai Akses Medis Darurat Dihambat Israel

Ringkasan

  • Seorang bayi Palestina berusia empat bulan meninggal dunia setelah militer Israel menghambat akses ambulans menuju rumah sakit di Tepi Barat.

Seorang bayi laki-laki Palestina berusia empat bulan dilaporkan meninggal dunia setelah terjebak di pos pemeriksaan militer Israel di sebelah barat Ramallah. Bayi tersebut, yang diidentifikasi sebagai Ahmad Marouf Zeid, tidak mendapatkan akses pertolongan medis darurat karena militer Israel menghalangi ambulans yang membawanya selama lebih dari satu jam. Kejadian tragis ini memicu kecaman keras dari berbagai pihak atas pelanggaran hak asasi manusia dan akses terhadap kesehatan di wilayah pendudukan.

Gubernur Ramallah dan el-Bireh, Laila Ghannam, menyatakan bahwa dokter di Rumah Sakit Arab Specialized telah mengonfirmasi kematian Ahmad pada Minggu malam. Menurut keterangan Ghannam, pasukan Israel tidak hanya menghambat pergerakan kendaraan medis, tetapi juga menembakkan gas air mata kepada warga Palestina yang mencoba melintasi pos pemeriksaan di pintu masuk desa Deir Ammar. Ia menegaskan bahwa insiden ini merupakan cerminan dari kebijakan sistemik Israel yang membatasi kebebasan bergerak dan hak dasar warga Palestina.

Dalam insiden terpisah di wilayah Tepi Barat yang diduduki, seorang remaja berusia 16 tahun tewas ditembak oleh pasukan Israel di kamp pengungsi Qalandiya, dekat Ramallah. Kementerian Kesehatan Palestina melaporkan bahwa selain korban tewas, dua remaja lainnya yang berusia 14 tahun juga mengalami luka-luka dalam peristiwa penembakan tersebut. Eskalasi kekerasan ini terus meningkat seiring dengan ketegangan yang belum mereda di wilayah Tepi Barat.

Data dari Kementerian Kesehatan Palestina menunjukkan situasi yang semakin memprihatinkan. Sejak Oktober 2023, tercatat setidaknya 1.087 warga Palestina telah tewas di Tepi Barat akibat tindakan pasukan militer maupun pemukim Israel. Angka ini mencerminkan tingginya risiko keamanan bagi warga sipil Palestina yang hidup di bawah pendudukan militer yang terus berlangsung selama lebih dari 1.000 hari terakhir.

Sementara itu, di Jalur Gaza, serangan udara melalui drone Israel menargetkan sekelompok warga Palestina di Jalan Omar al-Mukhtar, pusat Kota Gaza, pada hari Minggu. Serangan ini menewaskan sedikitnya dua orang dan menyebabkan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Pihak kesehatan setempat menyatakan bahwa pelanggaran terhadap gencatan senjata yang disepakati sejak Oktober terus memakan korban jiwa, dengan total 1.066 orang tewas dan lebih dari 3.400 terluka akibat aksi militer tersebut.

Secara kumulatif, dampak kemanusiaan dari konflik berkepanjangan ini sangat masif. Hingga saat ini, Kementerian Kesehatan Gaza mencatat total kematian telah mencapai 73.090 jiwa dengan 173.550 orang mengalami luka-luka sejak dimulainya perang pada Oktober 2023. Komunitas internasional terus didesak untuk mengambil tindakan nyata guna menghentikan krisis kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah pendudukan tersebut.

Mengapa Ini Penting

Berita ini menyoroti pelanggaran hak akses kesehatan dasar yang menjadi isu kemanusiaan global yang krusial. Bagi pembaca di Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya advokasi diplomasi kemanusiaan dan kepatuhan terhadap hukum internasional dalam menjaga stabilitas serta martabat manusia di tengah konflik bersenjata.

Sumber Asli
Aljazeera
Tanggal
5 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit