Bisnis & Startup

Baznas Gaungkan Balai Ternak Kambing Perah untuk Angkat Ekonomi Wonogiri

Ringkasan

  • Baznas meluncurkan Balai Ternak kambing perah di Wonogiri untuk 20 KK mustahik dengan dana Rp517 juta guna naikkan pendapatan.

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI meluncurkan program Balai Ternak di Desa Sumberharjo, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, guna memberdayakan 20 keluarga mustahik melalui usaha peternakan kambing perah. Program yang digagas bersama Baznas Kabupaten Wonogiri dan Pemerintah setempat itu menyerap dana Rp517.460.000 dan diproyeksikan menaikkan pendapatan bulanan peternak dari Rp1,8 juta menjadi Rp3,66 juta.

Langkah ini merupakan bagian dari upaya pengentasan kemiskinan berbasis pemberdayaan ekonomi produktif. Baznas tidak sekadar menyalurkan aset, melainkan membangun ekosistem usaha yang berkelanjutan di wilayah dengan potensi peternakan strategis. Wonogiri memiliki sumber daya alam dan tenaga kerja yang memadai sehingga cocok dikembangkan menjadi sentra kambing perah.

Idy Muzayyad, Pimpinan Baznas RI Bidang Pendistribusian, Pendayagunaan, dan Pemberdayaan, menegaskan bahwa pemanfaatan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) harus menghasilkan dampak ekonomi jangka panjang. Menurutnya, bantuan yang diberikan harus diikuti pendampingan agar mustahik benar-benar mandiri. Hal ini sejalan dengan visi transformasi sosial keagamaan Baznas yang ingin melihat penerima zakat kelak menjadi pembayar zakat.

Program Balai Ternak di Wonogiri menyerap total bantuan Rp517.460.000 hasil kolaborasi tiga pihak. Dana tersebut digunakan membeli 42 ekor kambing perah unggul, termasuk pejantan dan indukan strain saanen yang dikenal sebagai penghasil susu berkualitas tinggi. Selain ternak, dibangun pula kandang seluas 600 meter persegi, rumah perah untuk sterilisasi, serta freezer berkapasitas 1.000 liter.

Sarana pengolahan dan pengemasan susu kambing juga disiapkan agar nilai jual produk meningkat. Pendampingan usaha menyertai seluruh proses agar peternak memahami manajemen ternak dan hygiene produksi susu. Dengan rantai pasok yang lebih terstruktur, hasil ternak tidak lagi dijual mentah dengan harga rendah.

Kolaborasi lintas lembaga seperti ini penting karena kemiskinan di pedesaan kerap berakar pada minimnya akses modal dan pasar. Melalui skema Balai Ternak, mustahik mendapat aset sekaligus jaringan pendukung. Model serupa berpotensi menekan angka kemiskinan ekstrem yang masih menjadi tantangan nasional.

Bagi industri peternakan lokal, kehadiran balai ternak berbasis zakat membuka jalur distribusi susu kambing yang selama ini didominasi peternak skala besar. Susu kambing memiliki permintaan khusus untuk kesehatan, namun pasokan domestik belum stabil. Program ini dapat mendorong swasembada protein hewani bergizi tinggi di tingkat kabupaten.

Dampaknya tidak terbatas pada pendapatan bulanan. Jika pendapatan peternak naik dua kali lipat, daya beli keluarga ikut terangkat dan putaran ekonomi desa menguat. Anak mustahik berpeluang mendapat akses pendidikan lebih layak karena beban orang tua berkurang. Ini bentuk nyata pertumbuhan inklusif dari dana filantropi.

Rujito, Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Wonogiri, menyambut baik program tersebut. Ia menilai kegiatan itu selaras dengan strategi pemda mengembangkan sektor peternakan sebagai pengungkit kesejahteraan warga. Pemerintah daerah berkomitmen memperkuat sinergi dengan Baznas dan masyarakat agar program strategis serupa meluas.

Idy Muzayyad menggarisbawahi bahwa tujuan akhir pemberdayaan Baznas ialah mendorong mustahik bertransformasi menjadi muzaki. Artinya, keluarga prasejahtera yang dibina kelak mampu menyisihkan sebagian rezeki untuk zakat. Siklus kebaikan itu membuat program tidak bergantung pada bantuan terus-menerus.

Ke depan, Baznas perlu mengevaluasi secara berkala produktivitas kambing saanen dan stabilitas harga susu di pasar regional. Penetrasi ke ritel modern atau platform digital akan memperluas jangkauan konsumen. Jika terbukti sukses, model Balai Ternak Wonogiri layak direplikasi di kabupaten lain dengan profil agraris serupa.

Penguatan kapasitas peternak melalui pelatihan rutin akan menentukan keberlanjutan usaha. Pemerintah daerah dapat memfasilitasi sertifikasi halal dan izin edar agar produk susu olahan balai ternak legitimasinya kuat. Dengan fondasi itu, ekonomi mustahik Wonogiri berpeluang tumbuh menjadi industri mikro yang tangguh.

Mengapa Ini Penting

Model pemberdayaan zakat berbasis balai ternak menunjukkan bahwa filantropi bisa berubah dari konsumtif ke produktif, mengurangi ketergantungan bantuan jangka panjang. Keberhasilan di Wonogiri dapat menginspirasi daerah lain membangun sentra ekonomi desa tanpa APBD besar. Jika mustahik bertransformasi jadi muzaki, basis zakat nasional menguat dan mempercepat pengentasan kemiskinan struktural. Masyarakat luas terbantu karena pasokan susu kambing lokal naik dengan harga lebih terjangkau.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
17 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit