Bisnis & Startup

Dorong Kemandirian Ekonomi, Legislator Ajak Mahasiswa Mulai Berbisnis Sejak Kuliah

Dorong Kemandirian Ekonomi, Legislator Ajak Mahasiswa Mulai Berbisnis Sejak Kuliah

Ringkasan

  • Dua anggota DPR RI mendorong mahasiswa untuk mulai membangun kemandirian ekonomi dan berwirausaha sejak bangku kuliah guna mengatasi kesenjangan antara jumlah lulusan dan lapangan kerja.

Dua anggota DPR RI, Syahrul Aidi Maazat dari Komisi V dan Hendry Munief dari Komisi VII, secara tegas mendorong mahasiswa untuk segera membangun kemandirian ekonomi tanpa harus menunggu hingga lulus kuliah. Seruan ini disampaikan dalam gelaran Summit Event Legislative DPM Universitas Riau di Pekanbaru, Sabtu (19/9), sebagai respon atas tantangan kesenjangan antara jumlah lulusan perguruan tinggi dengan ketersediaan lapangan kerja di Indonesia.

Syahrul Aidi menyoroti kurikulum pendidikan saat ini yang dinilai masih berorientasi pada pencetakan tenaga kerja, bukan pencipta lapangan kerja. Menurutnya, sistem pendidikan yang ada terlalu fokus pada kemampuan menjawab soal ujian, namun kurang membekali mahasiswa dengan keterampilan praktis untuk menghadapi dinamika dunia nyata. Akibatnya, setiap tahun angka pengangguran terdidik terus membayangi seiring dengan bertambahnya jumlah sarjana baru.

Kesenjangan antara teori di bangku kuliah dan realitas ekonomi menjadi perhatian serius bagi para legislator tersebut. Mereka berpendapat bahwa kemandirian ekonomi adalah kunci untuk memutus rantai ketergantungan pada sektor formal yang kini semakin kompetitif. Syahrul menekankan bahwa seseorang tidak akan mampu memimpin atau mendorong kemandirian ekonomi masyarakat jika dirinya sendiri belum memiliki fondasi ekonomi yang kuat.

Di sisi lain, Hendry Munief menekankan pentingnya aspek kelembagaan bagi mahasiswa yang ingin merintis usaha. Ia menilai bahwa banyak mahasiswa memiliki potensi besar, namun sering kali terhambat karena tidak memahami cara mengakses pembinaan atau program pemberdayaan pemerintah. Dengan membentuk kelompok usaha yang terlembaga, mahasiswa akan lebih mudah mendapatkan akses pendampingan dan dukungan teknis dari berbagai pihak terkait.

Fenomena pengangguran di kalangan sarjana memang menjadi tantangan struktural yang krusial bagi Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) secara berkala, tingkat pengangguran terbuka dari lulusan universitas sering kali menunjukkan angka yang mengkhawatirkan. Hal ini menegaskan bahwa ijazah saja tidak lagi cukup menjadi jaminan di tengah pesatnya perubahan pola ekonomi digital.

Bagi mahasiswa, memulai bisnis saat masih kuliah bukanlah perkara mencari keuntungan instan semata, melainkan tentang membangun kapasitas diri. Hendry Munief mengajak mahasiswa untuk mulai dari apa yang ada di depan mata, seperti memanfaatkan jejaring pertemanan, keahlian teknis, hingga kemampuan komunikasi. Langkah kecil seperti menjadi penghubung antara pemilik sumber daya dengan mereka yang membutuhkan akses, sebagaimana disarankan Syahrul, adalah bentuk nyata dari peran strategis mahasiswa sebagai agen perubahan.

Analisis terhadap kondisi ekonomi nasional menunjukkan bahwa UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Dorongan agar mahasiswa terjun ke dunia usaha diharapkan dapat meningkatkan rasio kewirausahaan nasional yang saat ini masih di bawah standar negara maju. Transformasi pola pikir dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja akan memberikan dampak domino bagi pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah, terutama dalam mendorong konektivitas pembangunan.

Transformasi ini tentu memerlukan dukungan dari ekosistem pendidikan yang lebih adaptif. Perguruan tinggi dituntut untuk tidak sekadar memberikan gelar, tetapi juga menyediakan inkubator bisnis yang mampu menjembatani ide-ide kreatif mahasiswa dengan kebutuhan pasar. Tanpa inkubasi yang memadai, semangat kewirausahaan mahasiswa berisiko hanya menjadi euforia sesaat tanpa keberlanjutan bisnis yang jelas.

Menanggapi tantangan tersebut, Syahrul Aidi optimistis bahwa keberanian adalah modal utama. Ia mencatat banyak sosok sukses yang justru merintis usaha di sela-sela kesibukan akademisnya. Baginya, kampus adalah laboratorium terbaik untuk menguji keberanian dan kemampuan manajerial sebelum benar-benar terjun ke medan persaingan ekonomi yang sesungguhnya setelah lulus.

Ke depannya, sinergi antara kebijakan legislatif, dukungan pemerintah, dan kesiapan mahasiswa menjadi kunci. Langkah selanjutnya yang diharapkan adalah adanya kebijakan yang lebih inklusif dalam memfasilitasi startup mahasiswa agar bisa naik kelas. Fokus tidak lagi pada kuantitas lulusan, melainkan pada kualitas dan daya saing lulusan dalam menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.

Kemandirian ekonomi, menurut kedua legislator, adalah bentuk kontribusi nyata terhadap pembangunan bangsa. Mahasiswa tidak perlu menunggu memiliki modal besar untuk mulai berkontribusi; cukup dengan memulai dari skala kecil secara konsisten, mereka sudah ikut andil dalam memperkuat fondasi ekonomi domestik. Inilah momentum yang harus dimanfaatkan mahasiswa selagi masih memiliki ruang untuk berinovasi dan berani mengambil risiko.

Pada akhirnya, pesan dari diskusi di Universitas Riau ini menjadi pengingat bagi seluruh mahasiswa di Indonesia. Dunia kerja masa depan akan semakin mengutamakan mereka yang memiliki jiwa kewirausahaan dan kemampuan adaptasi tinggi. Pendidikan bukan hanya tentang apa yang dipelajari di kelas, melainkan tentang bagaimana ilmu tersebut diubah menjadi solusi nyata bagi permasalahan ekonomi masyarakat.

Mengapa Ini Penting

Berita ini krusial karena menyoroti kegagalan sistem pendidikan tinggi dalam mengantisipasi ledakan pengangguran terdidik di Indonesia. Dengan mendorong kewirausahaan sejak dini, ketergantungan pada sektor formal dapat diminimalisir dan rasio kewirausahaan nasional dapat meningkat. Hal ini juga memberikan tekanan kepada institusi pendidikan untuk segera mereformasi kurikulum agar lebih relevan dengan tuntutan ekonomi riil saat ini.

Pertanyaan Umum

Apa isi utama artikel "Dorong Kemandirian Ekonomi, Legislator Ajak Mahasiswa Mulai Berbisnis Sejak Kuliah"?

Dua anggota DPR RI mendorong mahasiswa untuk mulai membangun kemandirian ekonomi dan berwirausaha sejak bangku kuliah guna mengatasi kesenjangan antara jumlah lulusan dan lapangan kerja.

Mengapa Bisnis & Startup ini penting?

Berita ini krusial karena menyoroti kegagalan sistem pendidikan tinggi dalam mengantisipasi ledakan pengangguran terdidik di Indonesia. Dengan mendorong kewirausahaan sejak dini, ketergantungan pada sektor formal dapat diminimalisir dan rasio kewirausahaan nasional dapat meningkat. Hal ini juga memberikan tekanan kepada institusi pendidikan untuk segera mereformasi kurikulum agar lebih relevan den

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
20 September 2026
Waktu Baca
5 menit