Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) menggelar operasi tanggap darurat skala besar pasca gempa bumi magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Tim BAZNAS Tanggap Bencana (BTB) dan Rumah Sehat BAZNAS (RSB) telah tiba di Labuan Bajo sejak hari Minggu untuk mendirikan posko komando, dapur umum, dan menyalurkan bantuan logistik ke Desa Reo, Kabupaten Manggarai — salah satu titik terdampak paling parah.
Kegiatan ini diluncurkan selaras dengan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Ketua Baznas Sodik Mudjahid memimpin upacara bendera di Kantor Pusat Baznas, Jakarta, pada Senin, 17 Agustus 2026, sambil menegaskan bahwa penyaluran bantuan ini merupakan wujud pengabdian kemanusiaan. "Ini adalah bagian pengabdian kita kepada Allah, bagian dari pengabdian kita kepada sesama bangsa," ujarnya di hadapan personel dan donatur.
Gempa bumi itu terjadi pada pukul 03.27 WITA dengan hiposentrum 10 kilometer di bawah laut. Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Ahad, 16 Agustus 2026 pukul 16.00 WIB, gempa susulan telah tercatat 995 kali. Akibatnya, 53 jiwa hilang, 137 orang luka-luka, dan 5.659 warga terpaksa mengungsi. Kerusakan fisik meluas: 2.403 unit rumah rusak berat hingga ringan, serta 213 fasilitas umum — sekolah, masjid, dan MCK — ikut hancur.
Kondisi geografis NTT yang kepulauan menambah tantangan logistik. Akses jalan ke sejumlah desa terpencil di Manggarai terputus akibat longsoran. Personel Baznas harus bergerak kombinasi darat dan laut untuk menjangkau titik-titik terisolasi. Dapur umum yang didirikan di Desa Reo kini melayani ratusan porsi makanan panas per hari, sementara tim medis RSB menangani luka-luka serta memberikan pemeriksaan kesehatan rutin bagi ibu hamil dan balita.
Peran lembaga amal zakat nasional ini strategis mengisi celah waktu sebelum bantuan pusat dan daerah beroperasi penuh. Baznas memiliki jaringan amil di tingkat kecamatan dan desa yang memungkinkan penetrasi cepat ke wilayah terdepan. Model ini terbukti efektif saat bencana Lombok 2018 dan Cianjur 2022, di mana Baznas mampu hadir dalam 24 jam pertama pasca kejadian.
Sodik Mudjahid mengapelasikan dukungan berkelanjutan dari muzaki dan donatur. "Kami berharap pasukan kami di NTT mendapat kepercayaan untuk terus menerima infak, sedekah, dan donasi," katanya. Dana yang terkumpul akan dialokasikan tidak hanya untuk fase darurat, tapi juga rehabilitasi jangka menengah — pembangunan rumah tidak layak huni, revitalisasi PAUD, dan penyediaan air bersih.
Keterlibatan organisasi berbasis keagamaan dalam penanggulangan bencana di Indonesia semakin vital. Data BNPB menunjukkan 60 persen bencana hidrometeorologi dan geologi terjadi di wilayah dengan akses terbatas. Lembaga seperti Baznas, Dompet Dhuafa, dan PKPU sering menjadi "first responder" de facto sebelum aparat negara tiba dengan skala penuh. Kolaborasi ini butuk diperkuat melalui protokol standar yang jelas.
Di sisi lain, tantangan transparansi pengelolaan dana amal tetap jadi sorotan publik. Baznas mengklaim telah menerapkan sistem pelaporan berbasis blockchain sejak 2023 untuk memastikan jejak dana dari donatur hingga penerima manfaat. Namun, verifikasi independen dari LSM anti-korupsi dan media masih diperlukan agar kepercayaan masyarakat terjaga.
Pemulihan pasca gempa NTT diproyeksikan memakan waktu minimal dua tahun. Fokus prioritas: penanganan trauma psikologis korban, pengamanan lokasi longsoran rawan, dan pembangunan infrastruktur tahan gempa. Baznas telah menyiapkan rencana pembangunan 200 unit rumah tahan gempa berbasis teknologi beton ringan yang dikembangkan bersama Institut Teknologi Bandung.
Kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas harus jadi investasi jangka panjang, bukan sekadar reaksi saat krisis. Pengalaman NTT ini mengingatkan bahwa kekuatan sosial — zakat, infak, sedekah — bisa jadi tulang punggung ketahanan bangsa jika dikelola profesional, transparan, dan berkelanjutan.