Jakarta – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan tujuh perusahaan berhasil melangsungkan Initial Public Offering (IPO) hingga 10 Juli 2026, dengan total dana yang terhimpun mencapai Rp2,16 triliun. Data ini disampaikan oleh Direktur Penilaian Perusahaan BEI, Saidu Solihin, yang menegaskan bahwa momentum pencatatan baru di pasar modal domestik terus berlanjut meski menghadapi tantangan makroekonomi global.
Saat ini, masih terdapat empat emiten yang berada dalam antrean (pipeline) pencatatan saham. Dari keempat perusahaan tersebut, dua diklasifikasikan sebagai perusahaan beraset skala besar dengan total aset di atas Rp250 miliar, sementara dua lainnya termasuk perusahaan skala kecil dengan aset di bawah Rp50 miliar. Klasifikasi ini merujuk pada Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 53/POJK.04/2017 yang mengatur ketentuan penawaran umum efek dan pencatatan efek di bursa efek.
Analisis komposisi sektor dari emiten dalam pipeline menunjukkan diversifikasi yang sehat. Dua perusahaan berasal dari sektor kesehatan, satu dari sektor barang konsumen primer, dan satu dari sektor barang baku. Kehadiran sektor kesehatan yang mendominasi antrean IPO mencerminkan minat investor terhadap industri yang bersifat defensif dan memiliki prospek pertumbuhan struktural seiring transisi demografis dan peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat Indonesia.
Per 10 Juli 2026, total perusahaan tercatat di BEI telah mencapai 963 emiten. Angka ini masih berjarak dari target 1.100 perusahaan pada tahun 2030 sebagaimana tertuang dalam Rencana Pengembangan Pasar Modal Indonesia (RPPI) 2025-2029. Pencapaian target ini memerlukan rata-rata 20-25 IPO per tahun, angka yang signifikan lebih tinggi dari realisasi 7 IPO dalam setengah tahun pertama 2026. BEI dan OJK terus mendorong program "Go Public" bagi BUMN, BUMD, serta perusahaan swasta nasional melalui insentif pajak dan penyederhanaan prosedur.
Di sisi pasar utang, segmen Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) menunjukkan dinamika yang lebih aktif. Sepanjang periode yang sama, BEI mencatat 109 emisi EBUS dari 59 penerbit dengan total dana terhimpun Rp100,12 triliun. Volume ini mencerminkan kebutuhan pembiayaan jangka panjang perusahaan dan pemerintah daerah yang semakin bergeser ke pasar modal sebagai alternatif perbankan. Masih terdapat 12 emisi dari 11 penerbit EBUS dalam pipeline, mencakup berbagai sektor industri.
Aktivitas Rights Issue (Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu/HMETD) juga memberikan kontribusi pada likuiditas pasar. Empat perusahaan telah melaksanakan aksi rights issue dengan total nilai Rp3,89 triliun. Satu perusahaan properti masih mengantre untuk melakukan rights issue, menandakan kebutuhan penguatan struktur modal di tengah siklus bisnis properti yang mulai pulih seiring penurunan suku bunga acuan.
Kinerja pasar modal Indonesia tahun 2026 ini terjadi di tengah lingkungan suku bunga Bank Indonesia yang mulai mengarah ke siklus penurunan (easing cycle) setelah periode peningkatan sepanjang 2023-2024. Kebijakan moneter yang lebih longgar umumnya mendorong aliran dana ke aset berisiko, termasuk saham dan obligasi korporasi. Namun, ketidakpastian global seperti perang dagang, volatilitas harga komoditas, dan kebijakan Fed AS tetap menjadi risiko eksternal yang perlu diwaspadai.
Ke depannya, tantangan utama BEI bukan hanya kuantitas IPO, tetapi kualitas emiten dan likuiditas pasca-pencatatan. Banyak emiten IPO tahun-tahun sebelumnya mengalami likuiditas rendah (thin trading), mengurangi daya tarik bagi investor institusional. OJK dan BEI saat ini menyusun kerangka kerja untuk memperkuat tata kelola emiten, mendorong program buyback, serta memperluas basis investor ritel melalui edukasi dan platform digital. Keberhasilan menembus target 1.100 emiten 2030 akan sangat bergantung pada kemampuan ekosistem pasar modal menciptakan siklus positif: emiten berkualitas menarik investor, investor menyediakan likuiditas, dan likuiditas mendorong lebih banyak emiten berkualitas go public.