Wakil Menteri Agrikultur dan Pangan Belarus Alexander Yakovchits menegaskan komitmen negaranya untuk membangun kemitraan strategis dengan Indonesia, bukan sekadar hubungan jual-beli musiman. Negara Eropa Timur itu dikenal sebagai salah satu eksportir produk olahan susu terbesar dunia, dengan mentega dan keju menjadi andalan utama yang kini mulai merambah pasar Indonesia.
Kehadiran 18 produsen yang membawa keju, cokelat, kue, hingga minuman di pameran Food & Hospitality Indonesia (FHI) 2026 menjadi bukti nyata seriusnya Belarus. Yakovchits mengungkapkan, 17 perusahaan Belarus telah lolos akreditasi ekspor ke Indonesia — fondasi yang memungkinkan aliran barang berjalan lancar begitu permintaan pasar meningkat.
Momentum diplomasi ekonomi ini tidak muncul tiba-tiba. Pada 21 Desember 2025, Indonesia resmi menandatangani Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA), membuka akses preferensial ke blok ekonomi yang beranggotakan Rusia, Kazakhstan, Belarus, Armenia, dan Kirgizstan. Perjanjian itu menurunkan atau menghapus tarif Bea Masuk untuk ribuan produk, termasuk komoditas pertanian dan pangan olahan.
Tiga bulan sebelumnya, kunjungan Presiden Belarus Aleksandr Lukashenko ke Jakarta pada 1-2 Juli 2025 telah melahirkan tujuh kesepakatan kerja sama prioritas. Cakupannya meluas: mulai dari industri, kebudayaan, jasa keuangan, kesehatan, riset ilmiah, hingga pertukaran intelijen keuangan dan akreditasi nasional. Kerangka bilateral yang padat itu menciptakan kepercayaan hukum bagi pelaku usaha kedua negara.
Duta Besar Belarus untuk Indonesia Raman Ramanouski menilai FHI 2026 sebagai arena strategis untuk bertemu mitra baru dan menghasilkan perjanjian komersial konkret. Ia menyoroti potensi besar perdagangan bilateral yang hingga kini masih relatif kecil dibanding potensinya. Nilai perdagangan dua arah tahun 2024 mencatat sekitar 200 juta dolar AS — angka yang dianggap baru menggarap permukaan.
Bagi Indonesia, masuknya produk susu Belarus membawa dua sisi pedang. Di sisi positif, ketersediaan mentega, keju, dan susu bubuk impor berkualitas dengan tarif lebih rendah bisa menstabilkan harga bahan baku industri makanan dan minuman domestik. Hal ini relevan mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang membutuhkan volume protein hewani masif dan berkelanjutan.
Di sisi lain, peternak dan industri susu dalam negeri harus bersiap menghadapi tekanan kompetitif. Produk Belarus unggul dalam skala produksi, efisiensi biaya, dan standar kualitas internasional yang sudah mapan. Tanpa upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi rantai pasok lokal, peternak skala kecil berisiko terpinggirkan.
Pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengantisipasi dinamika ini. Kementerian Pertanian terus mendorong program pemupukan sapi perah, perbaikan genetik, serta pembangunan sentra industri susu terintegrasi. Namun, hasil kebijakan struktural itu butuh waktu tahunan, sedangkan aliran impor bisa tiba dalam hitungan minggu begitu saluran distribusi terbentuk.
Yakovchits menegaskan, Belarus tidak hanya menawarkan komoditas mentah. Negara itu siap berbagi teknologi pengolahan susu, manajemen ternak modern, hingga sistem jaminan halal yang sudah diakui global. Kesiapan 17 perusahaan lolos akreditasi halal Indonesia menjadi bukti komitmen serius menyesuaikan standar pasar muslim terbesar dunia.
Ramanouski menambahkan, pembukaan rute penerbangan langsung antara Minsk dan Jakarta menjadi prasyarat logistik vital. Tanpa konektivitas udara yang efisien, barang mudah rusak seperti produk susu segar dan kue akan sulit bersaing pada biaya dan kecepatan kirim. Saat ini, pengiriman harus transit di hub Timur Tengah atau Eropa, menambah biaya hingga 30 persen.
Ke depan, integrasi ekonomi Indonesia-Belarus akan diuji pada eksekusi lapangan: seberapa cepat izin impor diterbitkan, apakah standar halal diterapkan konsisten, dan bagaimana industri domestik beradaptasi. FHI 2026 hanyalah pemicu awal. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada kemampuan kedua negara menerjemahkan kerangka diplomatik menjadi nilai nyata bagi peternak, pengusaha, dan konsumen Indonesia.