Pemerintah Daerah Otonom Etnis Zhuang Guangxi, China, secara resmi meningkatkan status respons darurat banjir ke level tertinggi pada Senin (6/7) menyusul jebolnya Bendungan Liulan di Hengzhou, Kota Nanning. Keputusan ini diambil sebagai langkah antisipatif untuk merespons situasi pengendalian banjir yang memburuk di wilayah tersebut.
Kondisi darurat ini dipicu oleh kerusakan parah pada infrastruktur Bendungan Liulan yang terjadi pada Senin pagi. Sebagai fasilitas konservasi air berskala menengah, jebolnya tanggul bendungan tersebut menimbulkan ancaman serius bagi keselamatan warga di area hilir dan infrastruktur di sekitarnya.
Menanggapi situasi kritis tersebut, otoritas Kota Nanning telah menaikkan status respons darurat pengendalian banjir dari Level III menjadi Level I yang mulai berlaku efektif sejak pukul 11.30 waktu setempat. Peningkatan level ini memungkinkan mobilisasi sumber daya yang lebih besar dan cepat untuk menangani dampak bencana.
Berbagai instansi terkait, mulai dari departemen penanggulangan kedaruratan, unit penyelamatan kebakaran, hingga otoritas sumber daya air, telah diterjunkan ke lokasi kejadian. Mereka bahu-membahu menjalankan operasi penyelamatan, perbaikan tanggul darurat, serta memberikan bantuan logistik bagi masyarakat yang terdampak langsung oleh banjir.
Proses evakuasi warga yang berada di zona rawan banjir saat ini tengah berlangsung secara intensif. Pemerintah setempat memprioritaskan keselamatan jiwa dengan memindahkan penduduk ke lokasi penampungan yang lebih aman guna meminimalisir risiko korban jiwa akibat luapan air yang tidak terkendali.
Berdasarkan data dari Komite Penanggulangan Kedaruratan Kota Nanning, bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu (4/7). Sebagian besar wilayah Nanning mengalami hujan lebat hingga sangat lebat, yang menyebabkan kapasitas tampungan air bendungan melampaui batas keamanan dan memicu kegagalan struktur tanggul.