Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara (KPwBI Sumut) mengambil langkah strategis untuk mempromosikan kekayaan kopi daerah ke kancah internasional. Melalui kegiatan bertajuk Sumatera Coffee Journey, lembaga tersebut mempertemukan ratusan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan jaringan pembeli global dan nasional.
Kegiatan ini berlangsung sebagai bagian dari rangkaian Karya Kreatif Sumatera Utara (KKSU) yang diselenggarakan pada 15-26 Juli 2026 di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Medan. Tidak sekadar pameran, festival tersebut dirancang sebagai ekosistem kolaborasi yang mempertemukan pelaku usaha, investor, akademisi, komunitas, hingga pembeli mancanegara dalam satu atap.
Sumatera Utara memiliki keunggulan komparatif yang sulit ditiru daerah lain. Ragam kopi bercitarasa khas seperti Kopi Lintong, Kopi Mandailing, dan Kopi Sidikalang telah lama menghiasi peta kopi dunia. Namun, akses pasar yang terbatas dan minimnya sentuhan teknologi sering kali menjadi penghalang bagi petani lokal untuk mendapatkan nilai tambah yang setara.
Bank Indonesia menyadari bahwa untuk membuat kopi daerah bersaing di pasar global, pendekatan konvensional tidak lagi cukup. Diperlukan sebuah platform yang mengawal rantai pasok dari hulu hingga hilir sekaligus mendorong adopsi digital di kalangan UMKM. Sumatera Coffee Journey lahir dari urgensi ini, yakni menjembatani kesenjangan antara produsen lokal dan dinamika pasar internasional yang bergerak cepat.
Karya Kreatif Sumatera Utara sendiri menargetkan perluasan akses pasar UMKM dari tingkat nasional hingga internasional. Dengan menghadirkan sekitar 300 UMKM dalam pameran produk unggulan, business matching, hingga showcase produk ekspor, BI menciptakan ruang yang memungkinkan pelaku usaha kecil merasakan langsung denyut pasar global.
Bagi industri kopi Tanah Air, inisiatif ini membawa angin segar di tengah meningkatnya apresiasi dunia terhadap kopi Indonesia. Data dari berbagai pameran internasional sebelumnya menunjukkan minat yang tinggi terhadap biji kopi Nusantara, seperti potensi transaksi jutaan dolar yang sempat dicatatkan di Korea Selatan dan Denmark. Kehadiran festival berbasis ekosistem seperti ini mempercepat proses sertifikasi dan standardisasi yang kerap menjadi syarat mutlak buyer asing.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pedagang kopi skala menengah. Petani di pedalaman Sumut yang selama ini bergantung pada tengkulak turut terdorong untuk beradaptasi dengan teknologi pemasaran digital. Akselerasi digital yang digaungkan BI berpotensi menekan disparitas harga dan memberi keuntungan lebih besar bagi peracik kopi lokal.
Di sisi lain, kolaborasi lintas sektor dalam KKSU menunjukkan bahwa penguatan ekonomi daerah tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Akademisi dan komunitas kopi dilibatkan untuk memberikan edukasi mengenai penyulingan cita rasa, sementara investor difasilitasi untuk masuk ke sektor hilirisasi. Sinergi ini menjadi kunci agar kopi Sumut tidak hanya laku terjual, tetapi juga membangun merek (branding) yang kuat di benak konsumen global.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara, Didit Widiana, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan wujud komitmen nyata bank sentral dalam mendorong UMKM agar semakin kreatif dan berdaya saing. "Kegiatan itu juga menjadi bagian dari upaya membuka akses pasar luar negeri bagi produk UMKM peserta, sekaligus mendorong akselerasi digital dan mengangkat kearifan lokal Sumatera Utara," ujar Didit di Medan.
Menurut Didit, penyelenggaraan kompetisi dan pameran kopi ini sangat vital karena Sumut merupakan salah satu daerah penghasil kopi terbaik dengan karakter yang khas. Pengembangan industri dari hulu hingga hilir harus terus didorong agar pemasarannya semakin luas dan tidak lagi terpaku pada pasar tradisional.
Proyeksi ke depan, model festival berbasis business matching seperti Sumatera Coffee Journey berpotensi menjadi cetak biru bagi provinsi penghasil kopi lainnya di Indonesia. Pemerintah daerah dan bank sentral di wilayah lain dapat meniru format kolaborasi ini untuk mempromosikan komoditas unggulan mereka masing-masing, seperti yang telah dilakukan BI dengan kopi Papua di World of Coffee Copenhagen.
Tren konsumsi kopi global yang terus bergeser ke arah single-origin dan sustainable farming memberi ruang besar bagi kopi Indonesia. Peluang tersebut terbuka lebar jika akselerasi digital dan pendampingan UMKM terus dirawat, sehingga dalam beberapa tahun ke depan kopi Mandailing atau Lintong dapat menjadi langganan wajib kedai kopi specialty di Eropa dan Asia Timur.