Berita

Bank Indonesia Petakan Klaster Wisata Baru untuk Pemerataan Ekonomi Bali

Bank Indonesia Petakan Klaster Wisata Baru untuk Pemerataan Ekonomi Bali

Ringkasan

  • Bank Indonesia memetakan klaster wisata di Bali untuk mengatasi kepadatan di Bali Selatan dan mendorong pemerataan ekonomi di wilayah utara, timur, dan barat.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali kini tengah mengintensifkan pemetaan klaster wisata strategis guna mendorong pemerataan ekonomi di luar kawasan Bali Selatan. Langkah ini diambil menyusul kondisi kepadatan berlebih atau over capacity di destinasi populer seperti Uluwatu, Pandawa, dan Mertasari, yang dinilai telah melampaui daya dukung infrastruktur dan lingkungan setempat.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan BI Provinsi Bali, Yusuf Wicaksono, menyatakan bahwa diversifikasi produk wisata menjadi kunci utama dalam strategi ini. Dengan memanfaatkan keunggulan kompetitif di setiap wilayah, BI berharap dapat menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi baru di sisi utara, timur, dan barat Pulau Dewata yang selama ini masih belum tergarap secara maksimal.

Strategi spesifik yang dipetakan mencakup pengembangan pariwisata maritim dan pelestarian ekosistem laut di Kabupaten Jembrana (Bali Barat). Sementara itu, Kabupaten Buleleng di Bali Utara diproyeksikan menjadi hub untuk wisata kebugaran serta wisata agro spiritual. Di sisi lain, wilayah Klungkung dan Bangli akan difokuskan pada pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya serta kuliner khas daerah.

Implementasi rencana ini membutuhkan integrasi yang kuat antara pemerintah daerah, desa adat, akademisi, serta pelaku usaha. BI menekankan pentingnya penegakan aturan tata ruang dan pengendalian izin pembangunan yang lebih tegas untuk menjaga keberlanjutan lingkungan dan kenyamanan wisatawan di masa depan, mengingat pariwisata menyumbang 66 persen bagi pertumbuhan ekonomi Bali.

Di sisi lain, tantangan utama yang harus segera diatasi adalah konektivitas antarwilayah. Diperlukan percepatan pembangunan koridor pariwisata yang menghubungkan timur, barat, dan utara, serta realisasi proyek transportasi publik seperti MRT yang menghubungkan Denpasar, Klungkung, Bangli, hingga Singaraja. Revitalisasi pelabuhan strategis seperti Gilimanuk, Padangbai, dan Celukan Bawang juga menjadi prioritas untuk mendukung mobilisasi.

Sektor pariwisata tetap menjadi tulang punggung ekonomi Bali yang sangat krusial bagi devisa nasional. Dengan kontribusi devisa mencapai Rp176 triliun, atau 55 persen dari total nasional, diversifikasi pasar dan wilayah menjadi langkah preventif untuk mengurangi kerentanan terhadap gangguan eksternal seperti krisis geopolitik maupun masalah kesehatan global, seiring dengan target kunjungan wisatawan mancanegara yang terus meningkat.

Mengapa Ini Penting

Langkah ini krusial bagi keberlanjutan industri pariwisata nasional agar tidak hanya terpusat di satu titik dan lebih tahan terhadap guncangan eksternal. Inisiatif ini juga membuka peluang bagi pengembangan teknologi transportasi cerdas dan manajemen destinasi berbasis data yang sangat relevan bagi pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
1 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit