Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Purwokerto terus mengencangkan gerakan perluasan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di wilayah Banyumas Raya. Upaya itu dilaksanakan melalui serangkaian program edukasi dan aktivasi langsung yang menyasar segmen masyarakat yang selama ini kurang tersentuh layanan keuangan formal, seperti lansia, komunitas wanita perbankan, santri pesantren, hingga pedagang pasar tradisional.
Hasilnya terlihat pada kinerja transaksi semester pertama 2026. Secara kumulatif, Januari hingga Juni 2026 mencatat 112,57 juta transaksi QRIS dengan nilai total Rp8,577 triliun. Bulan Juni saja menyumbang 26,43 juta transaksi bernilai Rp1,74 triliun. Angka tersebut merepresentasikan pertumbuhan volume 278,06 persen dan nilai 181,72 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Perluasan ini merupakan turunan langsung dari strategi nasional Bank Indonesia yang mengusung inklusi pembayaran digital sebagai pilar transformasi ekonomi. Sejak diluncurkan 2019, QRIS diposisikan sebagai standar pembayaran universal yang memecah fragmentasi dompet digital. Di tingkat daerah, KPwBI Purwokerto menerjemahkan kebijakan itu ke dalam pendekatan hiperlokal yang mengakui karakteristik sosial-ekonomi masyarakat Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
Pertumbuhan merchant menjadi indikator kekuatan ekosistem. Per Juni 2026, merchant QRIS di keempat kabupaten mencapai 627.115 unit. Kepadatan merchant yang merata — dari pusat kota hingga desa — menandakan pembayaran digital telah menembus lapisan ekonomi informal yang selama ini bergantung pada uang tunai. Bagi pelaku usaha mikro, QRIS tidak hanya menyederhanakan transaksi, tapi juga menciptakan jejak digital yang potensial membuka akses ke pembiayaan perbankan.
Strategi segmentasi menjadi kunci penetrasi. KPwBI Purwokerto menggelar program QRIS Ramadan, mengaktifkan komunitas pramuka, hingga mengadakan Purwokerto QRIS Run 2026 yang diikuti lebih dari 6.000 pelari dan meraih Rekor MURI. Acara olahraga massal itu berfungsi sebagai media edukasi non-formal yang menormalkan QRIS di ruang publik. Pendekatan ini berbeda dengan sosialisasi konvensional yang sering terasa kaku dan tidak sampai ke akar rumput.
Lonjakan transaksi di Banyumas Raya mencerminkan pergeseran struktural perilaku bayar di wilayah yang dulunya murni berbasis tunai. Pertumbuhan 278 persen year-on-year jauh melebihi rata-rata nasional, menandakan efektivitas model aktivasi berbasis komunitas. Jika direplikasi ke kabupaten lain dengan demografi serupa — mayoritas petani, pedagang kecil, dan populasi muslim padat — potensi percepatan inklusi digital di Jawa Tengah dan wilayah sejenisnya sangat terbuka.
Namun, tantangan keberlanjutan tetap ada. Kepadatan merchant yang tinggi harus diimbangi ketahanan infrastruktur jaringan, literasi keamanan siber bagi pengguna baru, dan perlindungan konsumen yang adaptif. Tanpa itu, kepercayaan yang baru dibangun bisa goyah akibat insiden penipuan atau kegagalan sistem.
"QRIS sebagai kanal pembayaran digital yang mudah, aman, dan inklusif terus kami perluas melalui edukasi dan aktivasi kepada berbagai segmen masyarakat," ujar Kepala KPwBI Purwokerto Aswin Gantina. Ia menegaskan bahwa capaian volume dan merchant menunjukkan ekosistem pembayaran digital di Banyumas Raya semakin berkembang dan menjadi bagian penting aktivitas ekonomi masyarakat.
Menurut Aswin, QRIS kini telah melampaui domain perdagangan konvensional. Penggunaannya mulai meresap ke kegiatan komunitas, ibadah, hingga layanan publik. Integrasi ini menciptakan efek jaringan: semakin banyak titik sentuh QRIS dalam kehidupan sehari-hari, semakin tinggi biaya opportunitas bagi yang menolak beralih.
Ke depan, KPwBI Purwokerto akan mendalami penetrasi ke kecamatan terpencil dan mendorong integrasi QRIS ke layanan pemerintah daerah, seperti pembayaran retribusi pasar dan transportasi umum. Langkah ini akan mengubah QRIS dari alat bayar belanja menjadi infrastruktur pembayaran universal di tingkat daerah.
Tren yang terlihat menujuk pada satu arah: pembayaran digital akan menjadi modalitas primer di Banyumas Raya dalam beberapa tahun mendatang. Bagi Bank Indonesia, keberhasilan model ini menjadi bukti nyata bahwa inklusi keuangan tidak hanya soal teknologi, tapi soal pendekatan sosial yang tepat sasaran.