Bali International Hospital (BIH) yang berlokasi di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, Bali, mencatatkan sejarah baru dalam dunia medis Indonesia. Memasuki tahun pertama operasionalnya, rumah sakit ini resmi meluncurkan teknologi operasi saluran cerna berbasis robotik. Pencapaian ini menandai langkah signifikan dalam transformasi layanan kesehatan nasional yang semakin modern dan berstandar global.
President Director & CEO Bali International Hospital, Dr. Noel Yeo, menyatakan bahwa keberhasilan ini merupakan tonggak sejarah yang membanggakan. Mengingat usia operasional rumah sakit yang masih muda, kemampuan untuk mengadopsi teknologi medis canggih seperti sistem robotik menunjukkan komitmen kuat BIH dalam memberikan layanan kesehatan unggulan bagi masyarakat Indonesia.
Pada akhir Juni 2025, BIH mencatat rekor medis dengan melaksanakan operasi saluran cerna robotik pertama di Bali dan wilayah Indonesia Timur, yakni prosedur pengangkatan kantung empedu. Tidak berhenti di situ, rumah sakit ini juga berhasil melakukan prosedur kombinasi robotic-assisted pertama di tanah air, yang melibatkan pengangkatan tumor adrenal sekaligus pengangkatan kantung empedu dalam satu tindakan medis yang kompleks.
Inisiatif ini merupakan bagian dari visi besar Kementerian BUMN untuk menjadikan KEK Kesehatan Sanur sebagai pusat wisata medis terpadu di Asia-Pasifik. Dengan menghadirkan teknologi mutakhir, BIH berharap masyarakat Indonesia tidak perlu lagi mencari pengobatan ke luar negeri seperti Singapura atau Malaysia, karena fasilitas dan kualitas dokter bedah di dalam negeri kini telah setara dengan standar internasional.
Dokter Spesialis Bedah Digestif, Dr. I Made Mulyawan, MD, PhD, menjelaskan bahwa teknologi robotik, khususnya sistem Edge® MP1000 Multi-port Endoscopic, menawarkan presisi yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode konvensional. Melalui sistem ini, dokter dapat melakukan tindakan bedah dengan tingkat invasif yang minimal, yang pada akhirnya mempercepat masa pemulihan pasien secara signifikan.
Dalam pelaksanaannya, prosedur ini tetap melibatkan tim medis ahli yang terdiri dari dokter bedah, anestesi, dan perawat. Perbedaannya terletak pada konsol robotik yang digunakan, di mana dokter mengendalikan lengan robot dengan akurasi tinggi. Dengan durasi operasi yang lebih efisien dan hasil yang lebih akurat, teknologi ini diproyeksikan dapat diterapkan pada berbagai jenis prosedur pembedahan di masa depan.