Pemerintah melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi menyerahkan hunian tetap (huntap) percontohan kepada warga penyintas bencana di Sumatera Barat. Rumah tersebut dibangun menggunakan teknologi bata saling mengunci (interlocking) bernama Sepablock yang diproduksi oleh PT Semen Padang. Sekretaris Utama BNPB, Rustian, menyatakan bahwa unit contoh ini menjadi standar acuan sebelum pembangunan massal digulirkan di wilayah terdampak.
Penyerahan kunci rumah tipe 36 tersebut dilakukan serentak di tiga wilayah prioritas, yakni Kota Padang, Kota Pariaman, dan Kabupaten Padang Panjang. Di Kota Padang, proses penyerahan dipusatkan di Kampung Tanjung, Kecamatan Kuranji, dan didampingi langsung oleh Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir. Langkah ini menandai babak baru dalam penanganan pascabencana yang mengutamakan kecepatan dan kekokohan struktur bangunan.
Bencana yang melanda Sumbar bermula dari terjangan banjir bandang disertai tanah longsor pada November 2025. Kondisi tersebut diperparah oleh gangguan atmosfer Siklon Senyar yang juga menerjang Aceh dan Sumatera Utara. Ribuan warga kehilangan tempat tinggal, memaksa pemerintah merumuskan strategi pemulihan yang tidak hanya cepat, tetapi juga berkelanjutan serta adaptif terhadap ancaman bencana di masa depan.
Berdasarkan rekapitulasi BNPB, target pembangunan huntap mandiri di Sumbar mencapai 695 unit. Rinciannya mencakup Kabupaten Padang Pariaman sebagai daerah dengan kebutuhan terbesar yakni 457 unit, disusul Tanah Datar 101 unit, dan Lima Puluh Kota 49 unit. Kabupaten lain seperti Pesisir Selatan, Agam, Pasaman Barat, Kota Pariaman, Pasaman, serta Padang Panjang juga masuk dalam skema distribusi. Pemerintah Kota Padang bahkan telah mengajukan tambahan 22 unit menyusul besarnya permintaan warga terdampak.
Penggunaan teknologi Sepablock bukan sekadar pergantian material biasa. Bata ini dirancang saling mengunci tanpa memerlukan banyak adukan semen di sisi vertikal, sehingga mempercepat proses pengerjaan di lapangan. Keunggulan ini krusial mengingat waktu yang tersedia bagi penyintas untuk kembali ke hunian layak sangat terbatas. Selain itu, karakteristik strukturnya terbukti mampu meredam guncangan, menjadikannya pilihan logis di wilayah rawan gempa seperti Sumatera Barat.
Ketersediaan material secara lokal dari PT Semen Padang juga menjadi nilai tambah tersendiri. Rantai pasok yang pendek memangkas biaya logistik sekaligus mendukung pemulihan ekonomi daerah pascabencana. Di sisi lain, pemanfaatan produk industri nasional dalam proyek strategis seperti ini mencerminkan sinergi antara BNPB dan pelaku usaha dalam membangun ketahanan bencana secara komprehensif.
Emridona, warga Desa Sintuak Naras, Kecamatan Pariaman Utara, Kota Pariaman, termasuk dalam penerima unit contoh huntap. Rumah lamanya hancur total akibat terjangan banjir dan longsor pada November 2025. Ia menyambut baik bantuan tersebut karena memberikan kepastian tempat tinggal yang aman bagi keluarganya setelah periode pengungsian yang panjang.
Wakil Wali Kota Padang Maigus Nasir berharap BNPB segera merealisasikan pembangunan 22 unit huntap tambahan beserta fasilitas sumur bor untuk warga terdampak lainnya. Infrastruktur air bersih menjadi kebutuhan kritis mengingat lokasi pengungsian sering kali terisolasi dari jaringan utilitas publik. Rustian menegaskan agar warga segera menempati rumah contoh tersebut karena telah teruji kokoh dan tahan cuaca ekstrem.
Proyek percontohan yang dimulai sejak peletakan batu pertama pada akhir Maret 2026 ini akan menjadi bahan evaluasi teknis menyeluruh. Jika standar kualitas terpenuhi, BNPB akan memperluas cakupan pembangunan ke seluruh kabupaten dan kota yang masuk dalam target 695 unit. Pendekatan berbasis inovasi seperti ini diyakini mampu menekan angka tunggakan hunian pascabencana yang kerap tersendat akibat keterbatasan material konvensional.
Ke depan, adaptasi teknologi konstruksi lokal harus menjadi norma dalam setiap penanganan bencana di Indonesia. Siklon Senyar telah menjadi pelajaran pahit bahwa ancaman hidrometeorologi semakin kompleks dan menuntut respons infrastruktur yang gesit. Kesuksesan Sepablock di Sumbar berpotensi mereplikasi model serupa ke wilayah rawan bencana lain, seperti Sulawesi Tengah atau Nusa Tenggara Timur, yang kerap menghadapi tantangan serupa.