Presiden Luiz Inacio Lula da Silva pada Kamis (21/8) meresmikan program strategis yang membagi proyek infrastruktur AI antara dua kekuatan teknologi global. Sebesar 1,3 miliar real dialokasikan untuk superkomputing di Rio de Janeiro melalui kemitraan dengan Huawei Technologies dan iFlytek dari China, sementara 1 miliar real disisihkan untuk tender superkomputer terpisah di Rio Grande do Norte yang diprediksi akan dimenangkan Nvidia dari AS.
Pemilihan Rio Grande do Norte sebagai lokasi superkomputer kelas dunia didasarkan pada potensi energi terbarukan yang melimpah di negara bagian tersebut. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi akhir tahun depan dan diharapkan masuk daftar sepuluh superkomputer AI terkuat dunia. Dana berasal dari Fundo Nacional de Desenvolvimento Científico e Tecnológico (FNDCT) dengan pencairan bertahap.
Kebijakan ini mencerminkan pergeseran geopolitik Brasil di era digital. China kini menjadi mitra dagang terbesar Brasil, menggeser posisi AS yang tetap menjadi sumber investasi langsung terbesar di ekonomi terbesar Amerika Latin. Namun, Washington baru-baru ini mengenakan tarif tambahan pada barang Brasil, menciptakan dinamika kompleks yang memaksa Brasilia mencari keseimbangan.
Menteri Sains dan Teknologi Luciana Santos menegaskan strategi ini bukan sekadar pembelian hardware, melainkan upaya memastikan kedaulatan data nasional. "Kita tidak ingin bergantung pada satu perusahaan, satu teknologi, atau satu negara," ujarnya kepada Folha de S Paulo pekan lalu. Pendekatan ganda ini memungkinkan Brasil mengakses ekosistem AI paling canggih dari kedua blok teknologi sekaligus.
Bagi Indonesia, langkah Brasil menawarkan pelajaran strategis. Sebagai negara berkembang dengan populasi besar dan kebutuhan transformasi digital, Indonesia menghadapi tekanan serupa: bergantung pada infrastruktur cloud dan AI dari AS (AWS, Google Cloud, Microsoft Azure) maupun China (Alibaba Cloud, Huawei Cloud). Investasi Brasil menunjukkan model alternatif — membangun kapasitas komputasi soberan sendiri sambil memanfaatkan teknologi terbaik dari kedua sisi.
Saat ini Indonesia telah memulai inisiatif serupa melalui program Nasional AI dan kolaborasi dengan Nvidia untuk pengembangan talenta dan riset. Namun, skala investasi Brasil — setara Rp4,7 triliun hanya untuk infrastruktur komputasi — jauh melampaui anggaran yang dialokasikan Indonesia untuk tujuan serupa. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) baru-baru ini menggarisbawahi kebutuhan GPU berjumlah ribuan unit untuk mendukung ekosistem AI domestik.
Kerjasama Brasil dengan Huawei dan iFlytek juga menarik perhatian karena keduanya adalah pemain utama di pasar AI China yang tumbuh pesat. iFlytek menguasai teknologi pengenalan suara dan pemrosesan bahasa alami Mandarin, sedangkan Huawei mengembangkan chip Ascend sebagai alternatif GPU Nvidia. Kombinasi ini memberikan Brasil akses ke tumpukan teknologi AI China yang relatif mandiri dari rantai pasokan AS.
Di sisi lain, keputusan Brasil mengundang Nvidia untuk superkomputer kedua menguatkan posisi Jensen Huang sebagai raja tak tertandingi chip AI global. Meski China berusaha mengembangkan chip sendiri melalui Huawei, Cambricon, dan Biren, kinerja dan ekosistem perangkat lunak CUDA Nvidia tetap menjadi standar industri. Brasil dengan cerdas memanfaatkan ketergantungan teknis ini sambil membangun alternatif jangka panjang.
Analis teknologi menilai langkah Brasil ini sebagai respons terhadap kebijakan ekspor chip AS yang semakin ketat. Larangan penjualan GPU kelas atas ke China memaksa negara-negara Global South memilih sisi — atau mencari jalan tengah. Brasil memilih opsi ketiga: berinvestasi pada infrastruktur sendiri yang kompatibel dengan kedua ekosistem.
Tantangan utama kini beralih ke eksekusi. Brasil harus mengelola dua proyek superkomputer dengan arsitektur berbeda — satu berbasis ekosistem China, satu berbasis Nvidia — secara bersamaan. Integrasi perangkat lunak, pelatihan tenaga ahli, dan pengembangan model bahasa besar (LLM) untuk bahasa Portugal Brasil memerlukan koordinasi lintas kementerian yang ketat.
Pemerintah Lula menargetkan kerjasama dengan perusahaan China dimulai Juli 2027, memberikan waktu dua tahun untuk persiapan teknis dan hukum. Sementara tender superkomputer Nvidia diharapkan diselesaikan lebih cepat agar mesin bisa beroperasi akhir 2025. Keberhasilan jadwal ini akan menentukan apakah Brasil benar-benar menjadi pemain AI regional atau terjebak dalam proyek-proyek infrastruktur yang tertunda.
Jangka panjang, keberhasilan Brasil bisa memicu efek domino di Amerika Latin. Argentina, Chile, dan Kolombia sudah mengekspresikan minat mengembangkan kapasitas AI soberan. Jika Brasil terbukti mampu membangun ekosistem AI mandiri dengan pendekatan non-aligned, model ini bisa menjadi cetak biru bagi negara-negara berkembang lain — termasuk Indonesia — yang ingin memanfaatkan revolusi AI tanpa terjebak dalam geopolitik teknologi.