Dominasi Paris dan Milan sebagai pusat mode global kini mulai mendapatkan tantangan serius dari kekuatan-kekuatan baru. Sebanyak perwakilan industri mode dari lebih dari 60 negara berkumpul dalam gelaran BRICS+ Fashion Summit di Moskow, Rusia, pada 28 hingga 30 September lalu. Ajang ini menjadi panggung strategis bagi desainer dan pelaku bisnis dari negara berkembang untuk unjuk gigi sekaligus membangun jejaring lintas batas yang selama ini jarang tersentuh oleh label-label arus utama.
Pergeseran ini dipicu oleh kebutuhan akan ruang ekspresi baru yang lebih inklusif bagi talenta-talenta luar Eropa dan Amerika Serikat. Peserta yang hadir tidak hanya berasal dari negara-negara BRICS, tetapi juga mencakup perwakilan dari Vietnam, Brasil, Afrika Selatan, hingga Maroko. Mereka membawa perspektif desain yang segar, yang selama ini sering kali terpinggirkan oleh standar mode tradisional yang kaku.
Bagi Rusia, gelaran ini memiliki urgensi khusus. Pasca hengkangnya berbagai jenama besar Barat seperti Zara, H&M, hingga rumah mode mewah Chanel dan Gucci akibat sanksi internasional, pasar Rusia mengalami kekosongan pasokan produk fashion. Konsumen Rusia kini mulai beralih melirik karya desainer dari Asia dan negara-negara berkembang lainnya untuk mengisi lemari pakaian mereka dengan sesuatu yang baru dan berbeda.
Fenomena ini tidak hanya soal estetika, melainkan juga restrukturisasi rantai pasok global. Dalam konferensi tersebut, terlihat kolaborasi lintas negara yang semakin cair. Seorang desainer dari India bisa saja menggunakan manufaktur asal Tiongkok untuk memproduksi koleksi yang kemudian dipasarkan ke Rusia. Jaringan kerja sama ini membuktikan bahwa industri mode sedang bergerak menuju diversifikasi manufaktur yang tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pusat-pusat mode lama.
Desainer asal India, Kanika Goyal, yang telah malang melintang di panggung New York dan Paris, turut hadir dalam perhelatan ini. Ia memandang pertemuan tersebut sebagai peluang emas untuk bertukar perspektif kreatif dengan sesama desainer dari berbagai belahan dunia. Baginya, paparan internasional bagi talenta dari pasar berkembang adalah langkah krusial untuk mematahkan hegemoni industri yang selama ini terkonsentrasi di segmen elit Barat.
Di sisi lain, produsen asal Tiongkok melihat Rusia sebagai pasar potensial yang menjanjikan. Shan Wei, pendiri sekaligus direktur desain jenama MOMIWEI, menyatakan bahwa partisipasi mereka di Moskow adalah gerbang untuk menjajaki kemitraan waralaba dan menjangkau konsumen yang menyukai gaya desain mereka. Hal ini menunjukkan bahwa arus barang dan ide kini lebih banyak mengalir di antara negara-negara berkembang itu sendiri.
Bagi industri fashion Indonesia, tren ini membawa sinyal penting. Indonesia memiliki potensi besar dalam ekspor tekstil dan desain kreatif yang berbasis pada keberagaman budaya. Jika para pelaku industri lokal mampu memanfaatkan jejaring yang terbentuk di forum seperti BRICS+ Fashion Summit, peluang untuk mendistribusikan produk ke pasar Rusia atau negara anggota lainnya tentu terbuka lebar.
Namun, tantangan terbesar bagi para pemain baru ini adalah kesinambungan. Membangun koneksi di sebuah acara adalah langkah awal, namun mengubahnya menjadi kemitraan bisnis yang tahan lama dan kompetitif di pasar global memerlukan dukungan infrastruktur manufaktur yang kuat. Di Rusia, pemerintah kota Moskow telah mengambil inisiatif melalui program 'Made in Moscow' untuk memfasilitasi kolaborasi antara desainer lokal dengan manufaktur Tiongkok.
Indonesia dapat belajar dari model kolaborasi tersebut, di mana dukungan pemerintah berperan sebagai katalisator dalam mempertemukan desainer dengan mitra produksi yang tepat. Tanpa integrasi rantai pasok yang efisien, karya desainer berbakat akan sulit untuk diproduksi secara massal dengan harga yang kompetitif di pasar internasional.
Ke depannya, ajang seperti BRICS+ Fashion Summit diprediksi akan semakin relevan seiring dengan meningkatnya kesadaran konsumen akan pentingnya diversitas dalam fashion. Tren mode di masa mendatang tidak lagi akan ditentukan oleh satu atau dua kota saja, melainkan oleh kolaborasi lintas budaya yang mampu menciptakan nilai tambah baru.
Para pemain baru ini kini berada pada fase pembuktian. Jika mereka mampu menjaga kualitas serta efisiensi produksi, bukan tidak mungkin peta kekuatan mode dunia akan berubah secara permanen. Industri fashion dunia sedang menyaksikan babak baru di mana kreativitas dari negara berkembang mulai mendapatkan pengakuan yang setara dengan rumah mode legendaris.
Pada akhirnya, keberhasilan desainer emerging market akan sangat bergantung pada kemampuan mereka dalam menavigasi jaringan bisnis global yang semakin kompleks. Adaptasi cepat terhadap permintaan pasar, didukung oleh rantai pasok yang tangguh, akan menjadi kunci utama bagi para desainer ini untuk bertahan dan berkembang dalam persaingan fashion global yang kian dinamis.