Internasional

BRIN Ajak China Perkuat Kolaborasi Riset Ilmu Sosial dan Humaniora

BRIN Ajak China Perkuat Kolaborasi Riset Ilmu Sosial dan Humaniora

Ringkasan

  • Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra BRIN, Herry Jogaswara, mendorong kolaborasi riset ilmu sosial dengan China untuk memperkuat inovasi di industri kreatif.

Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Herry Jogaswara, secara resmi mendorong penguatan kerja sama penelitian antara Indonesia dan China, khususnya dalam bidang ilmu sosial. Pernyataan ini disampaikan di sela-sela acara 'Dialogue on China-ASEAN Cultural Heritage' yang berlangsung di Dunhuang, Provinsi Gansu, China.

Herry menekankan bahwa BRIN memiliki komitmen terbuka untuk menjalin kemitraan riset internasional. Menurutnya, seluruh platform riset di bawah naungan BRIN bersifat terbuka, sehingga peneliti dari China maupun negara mitra lainnya dapat mengajukan proposal kerja sama kapan saja. Pihaknya menyatakan kesiapan untuk mendukung fasilitas riset bagi para kolaborator.

Dalam paparannya, Herry menyoroti ketimpangan pola riset antara disiplin ilmu STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) dengan ilmu sosial. Ia mencatat bahwa riset di bidang STEM sudah memiliki pola yang sangat mapan, sementara riset ilmu sosial masih memerlukan perhatian dan pengembangan lebih lanjut agar dampaknya lebih terasa bagi masyarakat luas.

Sebagai bagian dari rumpun ilmu SHAPE (social sciences, humanities, arts, religion, and economy), BRIN kini berupaya mengintegrasikan hasil penelitian ke dalam sektor industri kreatif. Salah satu langkah konkretnya adalah peluncuran buku digital bertajuk '101 Ideas for Creative Industry' yang mengompilasi berbagai riset untuk diolah menjadi produk kreatif berbasis storytelling.

Tantangan utama dalam proses ini adalah menyelaraskan etika riset akademis dengan regulasi ekonomi kreatif yang dinamis. Meski demikian, BRIN terus berupaya menjembatani kesenjangan tersebut melalui mekanisme pendanaan inovatif, termasuk model 'no money cross borders' di mana masing-masing negara mengelola hibah penelitian secara mandiri namun tetap dalam kerangka kerja sama kolaboratif.

Selain pendanaan, BRIN juga memperkuat infrastruktur melalui pembentukan 'sister laboratory' dengan mitra internasional, seperti yang telah dirintis bersama Universitas Shandong. Kolaborasi ini difokuskan pada pertukaran akses laboratorium untuk mendalami penelitian arkeologi, bahasa, dan sastra, guna meningkatkan kualitas output riset Indonesia di kancah global.

Mengapa Ini Penting

Kolaborasi ini membuka peluang bagi peneliti Indonesia untuk mengakses infrastruktur riset global dan menerapkan hasil studi humaniora ke dalam ekonomi kreatif. Langkah ini sangat relevan bagi industri kreatif lokal yang membutuhkan basis riset kuat untuk meningkatkan daya saing produk di pasar internasional.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
2 Juli 2026
Waktu Baca
2 menit