Tiga warga Palestina dilaporkan tewas dalam serangkaian serangan udara yang dilancarkan militer Israel di Jalur Gaza pada Rabu (1/7). Insiden mematikan ini terjadi di tengah situasi kemanusiaan yang terus memburuk di wilayah kantong pesisir tersebut, memicu kekhawatiran mendalam dari berbagai otoritas lokal.
Berdasarkan laporan dari saksi mata dan sumber setempat, pesawat tempur Israel menargetkan kerumunan warga di kawasan Sheikh Radwan, bagian barat laut Kota Gaza. Serangan tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia di tempat, sementara empat warga lainnya mengalami luka-luka yang cukup serius akibat ledakan tersebut.
Dalam insiden terpisah, juru bicara Badan Pertahanan Sipil di Gaza, Mahmoud Basal, mengonfirmasi tewasnya seorang pemuda Palestina. Korban tersebut menjadi sasaran serangan udara Israel saat tengah berada di dalam kendaraan sipil yang melintasi pusat Kota Gaza. Serangan ini menambah daftar korban jiwa dalam eskalasi kekerasan yang terus berlangsung.
Di sisi lain, krisis kemanusiaan di Gaza kini mencapai titik nadir. Direktur bantuan medis di Jalur Gaza, Bassam Zaqout, memberikan peringatan keras mengenai potensi kolaps total pada sistem kesehatan dan sanitasi. Gelombang panas yang melanda wilayah tersebut membuat kondisi para pengungsi di tenda-tenda semakin tidak manusiawi, di mana sanitasi buruk dan krisis air memicu risiko penyebaran penyakit yang masif.
Otoritas Air Palestina melalui Direktur Jenderal Unit Manajemen Proyek, Saadi Ali, menggambarkan krisis air saat ini sebagai situasi yang katastropik. Menurut data terbaru, sekitar 80 persen pengungsi di kamp-kamp penampungan tidak memiliki akses memadai terhadap air bersih. Ali mendesak komunitas internasional untuk segera melakukan intervensi guna membuka kembali jalur perlintasan agar bantuan esensial dapat masuk ke wilayah tersebut.
Ketegangan di lapangan tetap tinggi meskipun kesepakatan gencatan senjata telah dinyatakan berlaku sejak 10 Oktober 2025. Hingga saat ini, Hamas dan Israel masih saling melayangkan tuduhan terkait pelanggaran perjanjian tersebut. Situasi yang tidak menentu ini terus mengancam keselamatan warga sipil di tengah upaya diplomatik yang belum membuahkan hasil signifikan untuk meredam konflik berkepanjangan.