Internasional

Bank Dunia Kembali Klasifikasikan Sri Lanka sebagai Negara Berpendapatan Menengah Atas

Bank Dunia Kembali Klasifikasikan Sri Lanka sebagai Negara Berpendapatan Menengah Atas

Ringkasan

  • Sri Lanka kembali diklasifikasikan sebagai negara berpendapatan menengah atas oleh Bank Dunia setelah mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen di tahun 2025.

Sri Lanka secara resmi kembali menyandang status sebagai negara berpendapatan menengah atas (upper-middle-income economy) menurut klasifikasi terbaru yang dirilis oleh Bank Dunia per 1 Juli. Pencapaian ini menjadi tonggak sejarah penting bagi negara tersebut, mengingat Sri Lanka sempat terpuruk dalam krisis ekonomi terburuk dalam sejarahnya yang hampir membawa negara itu menuju kebangkrutan total empat tahun silam.

Laporan resmi Bank Dunia mengungkapkan bahwa pemulihan ekonomi Sri Lanka didorong oleh pertumbuhan output yang signifikan di berbagai sektor strategis. Sektor industri, manufaktur, jasa keuangan, dan pariwisata menjadi motor penggerak utama yang berhasil mendongkrak perekonomian nasional hingga mencatatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil sebesar 5 persen sepanjang tahun 2025.

Pihak Bank Dunia memberikan apresiasi atas ketangguhan ekonomi negara tersebut. Dalam pernyataan resminya, lembaga keuangan internasional ini menyebut bahwa kisah pemulihan Sri Lanka merupakan contoh nyata bagaimana sebuah negara dapat bangkit dari ambang kehancuran hanya dalam waktu tiga tahun setelah mengalami krisis hebat pada tahun 2022.

Proses klasifikasi ini dilakukan secara rutin setiap tahun oleh Kelompok Data Pembangunan Bank Dunia dengan menggunakan estimasi pendapatan nasional bruto (GNI) per kapita dari tahun kalender sebelumnya. Data tersebut menjadi acuan global untuk memetakan kondisi ekonomi 218 negara ke dalam empat kategori, yakni berpendapatan rendah, menengah bawah, menengah atas, serta berpendapatan tinggi.

Meskipun Sri Lanka baru saja kembali masuk ke dalam kategori berpendapatan menengah atas dengan margin yang cukup tipis di atas ambang batas yang ditetapkan, pencapaian ini dinilai sebagai sinyal positif bagi para investor global. Stabilitas ekonomi yang mulai terjaga diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pasar internasional terhadap iklim investasi di negara kepulauan tersebut.

Klasifikasi terbaru ini akan menjadi referensi global resmi yang berlaku hingga akhir Juni 2027. Dengan status barunya, Sri Lanka kini memiliki tantangan baru untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi agar tetap berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah, sembari terus melakukan reformasi struktural untuk mencegah terulangnya krisis di masa depan.

Mengapa Ini Penting

Keberhasilan Sri Lanka bangkit dari krisis ekonomi memberikan pelajaran berharga bagi negara berkembang lain, termasuk Indonesia, mengenai pentingnya diversifikasi sektor industri dan jasa keuangan. Bagi pelaku bisnis, pemulihan ini membuka peluang kolaborasi ekonomi baru di kawasan Asia Selatan yang kini kembali stabil dan potensial.

Sumber Asli
Antaranews
Tanggal
2 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit