Gaya Hidup

Bryan Johnson, Biohacker yang Habiskan Miliaran Rupiah per Tahun, Didiagnosis Penyakit Autoimun

Bryan Johnson, Biohacker yang Habiskan Miliaran Rupiah per Tahun, Didiagnosis Penyakit Autoimun

Ringkasan

  • Pengusaha teknologi Bryan Johnson mengungkapkan diagnosis autoimmune gastritis di tengah upayanya menjalani gaya hidup anti-penuaan ekstrem.

Bryan Johnson, pengusaha teknologi asal Amerika Serikat yang dikenal karena ambisinya mencapai umur panjang melalui pengeluaran biaya mencapai US$2 juta per tahun, baru saja mengungkapkan kondisi kesehatan terbarunya. Pria berusia 48 tahun yang secara terbuka menyatakan keinginannya untuk hidup hingga tahun 2140 ini, didiagnosis menderita autoimmune gastritis (AIG). Melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Kamis (2 Juli), Johnson menggambarkan kondisi tersebut dengan pernyataan dramatis bahwa "perut saya sedang memakan dirinya sendiri."

Diagnosis ini muncul setelah ia menjalani serangkaian tes medis selama berbulan-bulan untuk menyelidiki penyebab defisiensi zat besi yang dialaminya. Johnson telah menjadi sorotan global selama beberapa tahun terakhir berkat rezim anti-penuaan ekstrem yang ia jalankan. Rutinitas ketat tersebut melibatkan pengawasan dari tim yang terdiri dari lebih dari 30 dokter, serta prosedur eksperimental seperti pertukaran plasma dan penelitian terapi gen.

Dalam refleksi kesehatannya, Johnson mengakui bahwa gaya hidup masa lalunya menjadi faktor pemicu. Ia menceritakan kebiasaan mengonsumsi makanan cepat saji, sereal bergula, dan minuman bersoda saat muda, ditambah dengan tekanan stres tinggi saat membangun bisnis dan mengurus tiga anak. Kondisi tersebut menyebabkan ia sempat mengalami kenaikan berat badan signifikan dan depresi kronis, yang ia yakini menjadi awal mula proses autoimun menyerang tiroid serta lapisan lambungnya.

Menurut Global Autoimmune Institute, autoimmune gastritis adalah penyakit kronis di mana sistem kekebalan tubuh menyerang lapisan lambung itu sendiri. Penyakit ini dapat menyebabkan kekurangan nutrisi vital seperti zat besi dan Vitamin B12. Jika tidak ditangani dengan tepat, kondisi ini meningkatkan risiko kanker lambung. Meskipun gejalanya sering kali tidak spesifik seperti perut kembung atau nyeri ulu hati, AIG sering kali luput dari deteksi medis awal.

Johnson menjelaskan bahwa sebelum mencapai diagnosis AIG, tim medisnya sempat melakukan berbagai pemeriksaan intensif, termasuk tes untuk mendeteksi kemungkinan kanker usus besar. Setelah diagnosis formal ditegakkan, ia menyatakan tekad untuk tidak menerima standar medis yang ada saat ini sebagai batasan. Ia beranggapan bahwa dalam era kecerdasan buatan, multiomik, dan rekayasa DNA, tidak ada kondisi yang seharusnya dianggap tidak dapat disembuhkan hanya karena belum ada solusi klinis yang tersedia saat ini.

Lebih lanjut, Johnson berencana menggunakan pendekatan eksperimental yang melampaui standar medis saat ini. Ia berencana mengeksplorasi penggunaan antibodi hasil rancangan kecerdasan buatan untuk menargetkan sel-sel imun yang menyerang lambungnya. Langkah ini mencerminkan upayanya untuk melakukan reset pada sistem kekebalan tubuhnya, sebuah upaya ambisius yang hingga kini masih berada dalam ranah bukti klinis preklinis dan terus menuai perdebatan di kalangan komunitas medis profesional.

Mengapa Ini Penting

Kasus Bryan Johnson menyoroti batasan antara optimasi kesehatan berbasis teknologi dengan realitas biologis tubuh manusia yang kompleks. Bagi industri di Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa meskipun teknologi medis berkembang pesat, gaya hidup dasar dan pencegahan dini tetap menjadi fondasi utama kesehatan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh intervensi eksperimental.

Sumber Asli
Channelnewsasia
Tanggal
6 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit