Asosiasi Sepak Bola Ghana (GFA) pada Rabu (3/9) mengumumkan pengangkatan kembali Carlos Queiroz sebagai pelatih utama Timnas Ghana, atau yang dikenal sebagai Black Stars. Keputusan ini datang dua bulan penuh setelah pelatih berkebangsaan Portugal itu mengundurkan diri pasca kampanye Ghana di Piala Dunia 2022 di Qatar. GFA menegaskan bahwa mandat baru ini akan dimulai segera pada jendela internasional mendatang, yang dijadwalkan berlangsung 21 September hingga 6 Oktober.
Dalam pernyataan resmi, GFA menyatakan kepercayaan penuh pada pengalaman internasional yang luas, keahlian teknis, dan pemahaman mendalam Queiroz terhadap skuad Black Stars. "GFA percaya pengalaman internasional yang ekstensif, keahlian teknis, dan pengetahuan Queiroz tentang Black Stars memposisikannya dengan kuat untuk memimpin tim memasuki babak baru ini," ucap GFA. Kontrak baru ini bersifat tidak tentu jangka waktunya, berbeda dengan kontrak sebelumnya yang lebih terikat pada target Piala Dunia.
Kembalinya Queiroz menutup spekulasi yang beredar sejak Juli lalu, saat ia memutuskan mundur setelah Ghana gagal lolos ke babak 16 besar Piala Dunia. Saat itu, Ghana hanya mengumpulkan tiga poin dari tiga laga grup, meski sempat mengejutkan Korea Selatan 3-2. Queiroz sendiri hanya memiliki waktu persiapan sekitar dua bulan sebelum turnamen berlangsung, setelah diangkat menggantikan Milovan Rajevac pada September 2022. Performa yang dinilai cukup memuaskan mengingat keterbatasan waktu itu menjadi salah satu pertimbangan GFA untuk memanggilnya kembali.
Profil Queiroz memang tak diragukan lagi di panggung internasional. Ia pernah menguasai timnas Portugal, Iran, Kolombia, hingga Mesir. Di tangan Queiroz, Iran tampil konsisten di Piala Asia dan lolos ke Piala Dunia dua kali berturut-turut. Pengalaman membangun tim dari nol hingga siap berkompetisi di kancah dunia menjadi modal utama yang dicari Ghana. Umurnya yang sudah 73 tahun tidak dijadikan halangan, justru dianggap sebagai simbol kebijaksanaan dan kestabilan emosional di tengah tekanan.
Bagi sepak bola Indonesia, kasus Queiroz ini menawarkan pelajaran menarik. PSSI sendiri pernah merekrut pelatih senior berbobot dunia seperti Shin Tae-yong dan kini Patrick Kluivert. Pola merekrut pelatih berpengalaman internasional yang pernah menangani timnas level tinggi justru menjadi tren di Asia dan Afrika. Namun, bedanya, Ghana memilih konsistensi dengan mempertahankan sosok yang sudah mengenal karakter pemain dan budaya tim, sementara Indonesia cenderung berganti pelatih dengan siklus yang relatif cepat.
Kestabilan di posisi pelatih utama sering kali dikaitkan dengan jangka panjang pembangunan timnas. Queiroz sudah mengenal inti pemain seperti Mohammed Kudus, Thomas Partey, dan Inaki Williams. Ia tak perlu membangun kimia dari nol. Di sisi lain, Indonesia masih dalam fase adaptasi di bawah Kluivert yang baru resmi memulai tugas. Perbandingan ini menunjukkan betapa pentingnya kontinuitas proyek, bukan hanya nama besar di bangku pelatih.
Tantangan pertama Queiroz di era kedua ini akan segera hadir: laga kualifikasi Piala Afrika 2027 lawan Ivory Coast, berhadapan dengan negara tetangga dan rival sejarah. Laga lawan Gajah Putih itu bukan hanya soal poin, tapi juga pride dan momentum awal proyek baru. Ivory Coast sendiri baru saja juara Piala Afrika 2023 di kandang sendiri, membuat tantangan ini semakin berat. Queiroz harus membuktikan keputusannya mundur lalu bukan berarti lari dari tanggung jawab, melainkan strategi untuk kembali lebih siap.
GFA juga menjanjikan akan mengumumkan detail program Black Stars untuk jendela internasional September-Oktober dalam waktu dekat. Termasuk di dalamnya daftar pemain yang akan dipanggil, jadwal latihan, dan rencana uji coba. Masyarakat sepak bola Ghana menantikan apakah Queiroz akan mempertahankan kerangka tim Piala Dunia atau melakukan regenerasi dini. Beberapa nama senior seperti Andre Ayew dan Jordan Ayew sudah berusia 33 dan 32 tahun, membuka peluang bagi generasi muda.
Secara finansial, pengangkatan kembali ini juga menandakan GFA siap mengeluarkan biaya tidak kecil untuk gaji pelatih kelas dunia. Queiroz dikenal sebagai pelatih dengan gaji tinggi, namun GFA menganggapnya investasi yang layak demi target lolos Piala Dunia 2026 dan berprestasi di Piala Afrika. Ini kontras dengan kondisi beberapa federasi di Asia Tenggara yang sering terbatas anggaran sehingga terpaksa memilih pelatih lokal atau pelatih muda yang belum terbukti.
Ke depan, keberhasilan Queiroz akan diukur dari dua hal: kualifikasi ke Piala Afrika 2027 dan performa di kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika. Ghana masuk grup yang kompetitif. Jika Queiroz mampu membawa Black Stars kembali ke puncak Afrika dan lolos ke Piala Dunia keempat berturut-turut, keputusan GFA ini akan diklaim sebagai masterstroke. Jika gagal, pertanyaan akan muncul apakah GFA terlalu terpaku pada nama lama dan melewatkan peluang regenerasi pelatih.
Kisah Queiroz dan Ghana ini menjadi studi kasus klasik: apakah federasi harus bertahan pada pelatih yang sudah terbukti meski pernah gagal, atau berani memulai dari nol dengan wajah baru? Jawabannya akan terlihat di lapangan, mulai September mendatang.