Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, bersama istrinya, Sara, melakukan kunjungan ke jaringan terowongan yang terletak di bawah kawasan Kota Tua Yerusalem Timur dan kompleks Masjid Al-Aqsa pada Sabtu (19/9). Langkah ini segera memicu gelombang kritik tajam karena dinilai sebagai provokasi politik yang mengusik sensitivitas status situs suci bagi umat Muslim tersebut.
Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram pribadinya, Netanyahu mengeklaim bahwa keberadaan mereka di terowongan Tembok Barat merupakan bentuk kedekatan spiritual dengan apa yang ia sebut sebagai Ruang Kudus. Ia menegaskan kembali narasi sejarah mengenai periode Hasmonean, sebuah era dalam sejarah Yahudi kuno antara tahun 141 hingga 37 SM, sebagai fondasi legitimasi kehadiran Israel di lokasi tersebut.
Narasi yang dibangun Netanyahu menekankan bahwa masa pemerintahan Dinasti Hasmini adalah satu-satunya periode di mana bangsa Yahudi berhasil mendirikan kerajaan yang berdaulat penuh. Dengan latar belakang tersebut, ia menyatakan komitmennya untuk mempertahankan kehadiran Israel di Yerusalem dengan pernyataan tegas bahwa mereka akan selalu berada di sana.
Bagi publik Indonesia, isu mengenai kompleks Masjid Al-Aqsa memiliki kedekatan emosional dan politis yang sangat kuat. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, setiap dinamika yang terjadi di Yerusalem sering kali memicu respons diplomatik dari pemerintah maupun sentimen publik yang signifikan. Aksi Netanyahu ini dipandang oleh banyak pihak sebagai upaya untuk memperkuat narasi dominasi Israel atas situs-situs bersejarah di Yerusalem Timur.
Kecaman keras datang dari kelompok Hamas yang menyebut kunjungan tersebut sebagai serangan terang-terangan terhadap perasaan rakyat Palestina serta bangsa-bangsa Arab dan Islam secara luas. Hamas menuding Netanyahu menggunakan klaim sejarah yang dianggap palsu terkait Tembok Al-Buraq untuk melegitimasi tindakan politisnya di wilayah pendudukan.
Analisis geopolitik menunjukkan bahwa kunjungan simbolis seperti ini bukanlah sekadar aktivitas wisata religi biasa. Dalam konteks Yerusalem yang statusnya masih diperebutkan, setiap langkah fisik pejabat tinggi Israel di area sensitif sering kali dibaca sebagai pesan politik untuk mengubah status quo di lapangan secara perlahan.
Sementara itu, Sara Netanyahu dalam kesempatan yang sama menyoroti sisi personal dari kunjungan tersebut dengan menyebutkan bahwa kedua putra mereka pernah merayakan Bar Mitzvah di area itu. Ia menilai kunjungan tersebut sebagai upaya untuk menyambungkan kembali generasi muda Yahudi dengan akar sejarah mereka yang berada di bawah kompleks tersebut.
Ketegangan ini memperlihatkan betapa rapuhnya situasi di Yerusalem Timur. Bagi Indonesia, insiden ini menambah daftar panjang alasan mengapa posisi Indonesia dalam mendukung kemerdekaan Palestina tetap menjadi prioritas kebijakan luar negeri, mengingat situs suci seperti Al-Aqsa merupakan simbol martabat bagi umat Islam global.
Ke depannya, langkah Netanyahu ini diprediksi akan semakin memperkeruh suasana di tengah upaya mediasi yang sering kali menemui jalan buntu. Penggunaan narasi sejarah sebagai alat politik di lapangan akan terus menjadi pemicu utama ketegangan, terutama saat Israel berupaya memperkuat klaim teritorialnya di jantung Yerusalem.
Situasi ini menuntut perhatian dari komunitas internasional untuk tetap menjaga status quo di Yerusalem. Tanpa adanya dialog yang inklusif dan pengakuan terhadap hak-hak penduduk lokal, tindakan-tindakan sepihak di kawasan sensitif seperti Al-Aqsa hanya akan memperpanjang siklus konflik yang sudah berlangsung selama berdekade.
Sebagai catatan, Indonesia secara konsisten mendesak agar perlindungan terhadap situs-situs suci di Yerusalem menjadi bagian dari penyelesaian konflik menyeluruh. Dampak dari provokasi di lapangan akan terus dirasakan oleh masyarakat Palestina yang setiap hari harus menghadapi batasan akses, yang berbanding terbalik dengan narasi kebebasan beribadah yang sering dikumandangkan oleh pihak otoritas pendudukan.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa eskalasi retorika akan terus berlanjut. Ketegangan di terowongan bawah tanah ini hanyalah puncak gunung es dari persaingan klaim sejarah dan politik yang mendalam, yang akan terus mewarnai dinamika Timur Tengah di masa mendatang.