London, 19 Agustus 2024 – Richard Masters, CEO Premier League Inggris, meminta agar seorang calon presiden baru FIFA mengusung rencana reformasi yang dapat menyatukan seluruh konfederasi sepak bola dunia, menyusul krisis yang terjadi akibat kebijakan kontroversial dari Presiden FIFA Gianni Infantino.
Masters menyampaikan hal ini sehari setelah menyatakan kecaman terbuka terhadap Infantino, yang sempat mengusulkan penjualan saham hak komersial Piala Dunia sebelum akhirnya menarik diri. Menurutnya, situasi semacam ini menegaskan betapa pentingnya adanya alternatif kepemimpinan yang mampu menghindarkan fragmentasi dalam struktur paling tinggi sepak bola global.
"Saya yakin bahwa krisis ini justru membuka ruang bagi seseorang untuk muncul sebelum batas akhir nominasi pada 18 Maret mendatang," katanya kepada wartawan usai peluncuran musim baru Premier League. "Calon tersebut harus membawa penawaran baru — bukan hanya soal visi, tetapi juga soal reformasi tata kelola yang nyata."
Masters menekankan bahwa tidak semestinya kebijakan harus ditentukan oleh wilayah Eropa saja. Ia menegaskan pentingnya konsensus global, namun tetap mengakui bahwa momen ini menuntut evaluasi terhadap mekanisme kekuasaan yang ada di puncak hierarki sepak bola dunia.
"Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa peran presiden FIFA sangat besar, hampir berada di luar kendali," ujurnya. "Jika kita ingin perubahan yang tulus, maka kita perlu mempertanyakan kembali apa sebenarnya wewenang yang seharusnya dimiliki oleh seorang presiden."
Sebelumnya, rencana Infantino untuk menjual saham komersial Piala Dunia kepada pihak swasta sempat menuai kecaman luas dari berbagai pihak, termasuk klub-klub besar seperti yang ada di Inggris. Menurut Masters, Premier League sendiri tidak pernah mempertimbangkan model serupa, bahkan di tengah krisis keuangan akibat pandemi COVID-19.
"Kami percaya pada model bisnis kami yang sudah terbukti efektif," jelas Masters. "Premier League tidak butuh investasi eksternal untuk bertahan. Kami sudah sukses di bidang hak media, dengan pangsa pasar yang solid. Tidak ada alasan untuk mencari solusi di luar."
Musim baru Premier League 2024/25 resmi dimulai dengan Arsenal sebagai tuan rumah melawan Coventry City. Namun, atmosfer kompetisi terasa berbeda kali ini, terutama dengan kepergian figur ikonik seperti Pep Guardiola dan bintang-bintang lain seperti Mohamed Salah dan Rodri.
"Ini adalah titik balik bagi kompetisi kami," ungkapkan Masters. "Baru saja kita kehilangan beberapa tokoh besar, namun justru inilah kesempatan agar muncul generasi baru yang siap menulis bab berikutnya."
Dari sudut pandang pengamat sepak bola internasional, pernyataan Masters bisa menjadi sinyal penting bagi dinamika politik sepak bola global. Dampaknya pun tidak hanya terbatas pada Eropa, tetapi juga berpotensi memengaruhi cara federasi sepak bola di berbagai negara, termasuk Indonesia, menilik kinerja dan akuntabilitas pihak yang memegang keputusan strategis.
Di Indonesia sendiri, PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) juga sedang dalam proses transformasi pasca-Piala Dunia U-20 yang kontroversial. Banyak pihak menyoroti perlunya reformasi struktural agar sepak bola nasional bisa kembali bangkit secara kredibel dan transparan.
Sehingga, kemungkinan besar, isu reformasi tata kelola sepak bola yang diangkat oleh para pemimpin industri profesional seperti Masters akan terus relevansi, terutama sebagai pelajaran bagi negara-negara yang sedang membangun fondasi demi masa depan yang lebih adil dan inklusif.