Rantai makanan cepat saji asal Amerika Serikat, Chick-fil-A, akan membuka gerai kedua di Singapura pada 30 Juli mendatang. Lokasinya berada di pusat perbelanjaan Millenia Walk, kurang dari setahun sejak peluncuran perdana mereka di Asia melalui gerai Bugis+ pada Desember 2025.
Gerai anyar tersebut akan menyajikan menu andalan Chick-fil-A, mulai dari chicken sandwich, kentang goreng potong waffle, hingga es krim soft-serve. Menu perluasan yang diperkenalkan pada Juni lalu juga tersedia di sini, sebagaimana halnya di outlet pertama mereka di Bugis+.
Jam operasional Millenia Walk ditetapkan setiap hari pukul 10.30 pagi hingga 9.30 malam. Sementara itu, gerai Bugis+ beroperasi pukul 10 pagi sampai 10 malam. Keduanya tutup pada hari Minggu, Hari Natal, serta hari pertama Imlek, mengikuti kebiasaan perusahaan yang memang tidak beroperasi tiap akhir pekan.
Penunjukan pemimpin gerai baru menjadi bagian penting dari ekspansi ini. Deborah Ku dipercaya sebagai owner-operator lokal kedua Chick-fil-A di Singapura. Ia menggantikan posisi yang sebelumnya dipegang Chyn Koh untuk gerai Bugis+.
Ku bukan nama asing di industri kuliner Negeri Singa. Ia tumbuh besar membantu restoran prasmanan milik keluarganya dan telah mengantongi lebih dari 20 tahun pengalaman di sektor food and beverage. Pengalaman itu diharapkan memperkuat operasional gerai kedua di tengah persaingan F&B yang ketat.
Ekspansi Chick-fil-A ke gerai kedua menunjukkan respons pasar Singapura yang cukup positif terhadap merek tersebut. Model waralaba berbasis owner-operator lokal terbukti membantu penetrasi merek asing di Asia Tenggara. Strategi serupa kerap dipakai pesaing seperti McDonald's dan KFC dalam mengelola rantai regional.
Bagi pembaca Indonesia, kabar ini relevan karena menunjukkan betapa cepatnya merek F&B global mengejar pasar Asia setelah pandemi. Indonesia sendiri belum kedatangan Chick-fil-A secara resmi. Namun, animo terhadap merek makanan cepat saji premium terus tumbuh, ditandai dengan antrean panjang saat brand luar menguji pasar lewat pop-up store.
Produsen lokal seperti Ayam Gepuk dan gerai ayam goreng modern lainnya dapat mengambil pelajaran dari pendekatan layanan pelanggan ala Chick-fil-A. Fokus pada kualitas bahan dan pengalaman gerai menjadi kunci yang belum banyak dimaksimalkan pelaku domestik. Di sisi lain, konsumen Indonesia makin selektif terhadap menu ayam yang tidak hanya murah, tetapi juga memiliki cerita merek kuat.
Chick-fil-A juga menunjukkan sisi tanggung jawab sosial dalam pembukaan gerai ini. Perusahaan menyumbang S$25.000 atau sekitar US$19.360 kepada The Food Bank Singapore. Dana itu mendukung inisiatif bantuan pangan bagi mahasiswa yang akan diluncurkan pada kuartal keempat 2026.
Langkah filantropi tersebut sekaligus menjadi alat pemasaran halus yang memperkuat citra merek di mata masyarakat lokal. Ku sendiri dalam pernyataan pers perusahaan menekankan komitmen untuk melayani komunitas, bukan sekadar berjualan. Pendekatan ini sering menjadi pembeda merek asing yang bertahan lama di Asia.
Ke depan, kehadiran gerai kedua memicu spekulasi apakah Chick-fil-A akan melirik negara tetangga seperti Malaysia atau Indonesia. Jika tren permintaan ayam goreng premium stabil, ekspansi lintas batas sangat mungkin terjadi dalam dua hingga tiga tahun. Tren konsumsi makanan siap saji dengan nuansa gaya hidup diperkirakan terus mendominasi pasar urban Asia Tenggara.
Industri kuliner Singapura diprediksi makin sesak dengan kompetitor dari Korea Selatan dan Jepang yang juga agresif membuka cabang. Chick-fil-A harus menjaga konsistensi rasa dan operasional Minggu tutup agar loyalis tidak beralih. Keberhasilan di Millenia Walk akan menjadi tolok ukur sebelum mereka berani melangkah lebih jauh di kawasan ini.