Beijing mulai memberi sinyal serius terhadap Pakta Pertahanan Makkah, aliansi baru yang dibentuk Turki, Arab Saudi, dan Pakistan. Menteri Luar Negeri China Wang Yi secara eksplisit menyatakan dukungan penuh terhadap kesepakatan itu dan membuka peluang kerja sama keamanan dengan ketiga negara.
Dalam pernyataan yang dikutip CGTN pada Minggu (9/8), Wang Yi menilai kerangka kerja semacam itu dapat membantu mencari solusi jangka panjang untuk konflik regional. Ia juga menyebut aliansi ini mampu melindungi hak dan kepentingan sah negara-negara berkembang.
Sinyal dukungan ini muncul di tengah perubahan dinamika geopolitik kawasan Timur Tengah dan Asia Selatan. Pakta Pertahanan Makkah sendiri merupakan perjanjian pertahanan bersama yang baru disepakati tiga negara muslim berpengaruh, sebuah format yang kerap dibandingkan dengan NATO.
Para pengamat hubungan internasional menilai langkah Beijing bukan sekadar dukungan diplomatik. China memiliki hubungan militer yang sangat erat dengan Pakistan, yang selama ini menjadi pembeli utama persenjataan buatan Beijing. Islamabad bahkan sangat bergantung pada pasokan militer dari China.
Imran Khurshid, pakar hubungan internasional dari Middle East Forum, dalam analisisnya di South China Morning Post menyebut China memanfaatkan Pakistan sebagai pintu masuk untuk menembus lanskap pertahanan kawasan. Menurutnya, Beijing secara agresif mengiklankan platform senjatanya dan membangun narasi keunggulan sistem pertahanannya di kawasan.
Salah satu contohnya adalah jet tempur JF-17 yang kerap dipromosikan China melalui Pakistan. Pesawat ini sempat diklaim sukses digunakan dalam konflik India-Pakistan tahun lalu, menjadi bahan promosi yang efektif bagi industri pertahanan China.
Jika aliansi baru ini benar-benar terwujud, Khurshid menilai China akan melihat pasar yang jauh lebih besar. Turki dan Arab Saudi adalah dua negara dengan anggaran pertahanan raksasa, dan keduanya tengah giat melakukan modernisasi militer.
Hubungan militer China dengan kawasan ini semakin menguat setelah perjanjian pertahanan bersama Saudi-Pakistan tahun lalu. Islamabad mengirimkan jet tempur JF-17 dan sistem persenjataan buatan Beijing lainnya ke Riyadh, memberi China visibilitas dan pengalaman operasional yang berharga.
Kesepakatan semacam ini menciptakan kemitraan jangka panjang yang menguntungkan Beijing. Kontrak pemeliharaan, suku cadang, pelatihan, dan dukungan logistik biasanya berlangsung bertahun-tahun, memastikan China tetap tertanam dalam sistem pertahanan negara-negara pembeli.
Namun, tidak semua pengamat meyakini aliansi ini akan menjadi pasar besar bagi China. Michael Kugelman dari Atlantic Council menilai ketiga negara penandatangan pakta berusaha keras menghindari citra ala NATO. Mereka tidak ingin terlihat antusias menggabungkan sumber daya untuk membeli senjata China.
Kugelman menduga transaksi senjata dengan China akan dilakukan secara diam-diam dan tidak dalam volume besar. Ia bahkan menilai Turki bisa menyediakan apa yang ditawarkan China kepada Pakistan dan Saudi, dengan harga yang lebih kompetitif.
Kendati demikian, kombinasi hubungan dekat China-Pakistan dan ambisi strategis Beijing di Timur Tengah memberi China jalur tak langsung untuk memasuki arsitektur pertahanan Teluk. Ali Chisthi dari New Pakistan Foundation menilai Beijing "sangat gembira" dengan kesepakatan tiga negara itu.
Bagi Indonesia, perkembangan ini layak dicermati. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia memiliki hubungan baik dengan ketiga negara anggota Pakta Pertahanan Makkah. Namun, Indonesia selama ini konsisten menganut politik bebas aktif dan tidak akan serta merta bergabung dalam aliansi pertahanan semacam itu.
Yang lebih relevan bagi Indonesia adalah dinamika industri pertahanan kawasan. China terus memperluas pengaruh militernya di Asia Selatan dan Timur Tengah, sementara Indonesia masih berupaya memperkuat industri pertahanan dalam negeri melalui program hilirisasi dan transfer teknologi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah bagaimana aliansi baru ini akan beroperasi. Apakah Pakta Pertahanan Makkah akan menjadi sekadar deklarasi politik atau menjelma menjadi kekuatan militer nyata? Yang jelas, China sudah mengambil posisi di awal permainan.