Bisnis & Startup

China Siap Investasi Hortikultura, Pemerintah Fasilitasi Rantai Pasok Buah

Ringkasan

  • Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan pemerintah siap memfasilitasi rencana investasi sektor hortikultura dari China yang berfokus pada rantai pasok buah premium seperti durian, alpukat, manggis, dan buah naga merah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso memastikan pemerintah Indonesia siap memfasilitasi rencana investasi dari delegasi bisnis Provinsi Jiangsu, China, di sektor hortikultura. Rencana tersebut mencakup pengembangan rantai pasok untuk buah premium seperti durian, alpukat, manggis, dan buah naga merah.

Pernyataan itu disampaikan Budi saat menerima delegasi di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (30/7). Menurutnya, investasi ini sangat strategis untuk meningkatkan hasil produksi dalam negeri sekaligus memperkuat kapasitas ekspor Indonesia. "Kami ingin hasil produksi Indonesia yang melimpah bisa terserap melalui ekspor. Kami siap membantu memfasilitasi, termasuk menghubungkan investor dengan mitra usaha yang sesuai," ujar Budi dalam keterangan resmi.

Investasi yang ditawarkan tidak hanya sebatas modal, tetapi juga pembangunan infrastruktur pendukung: sistem pengadaan langsung, fasilitas pre-cooling, penyortiran, serta gudang pendingin (cold storage). Selama ini, salah satu hambatan utama ekspor buah segar Indonesia adalah lemahnya rantai dingin dan standar pascapanen. Dengan adanya investasi ini, diharapkan kualitas buah Indonesia bisa bersaing di pasar internasional.

Langkah ini menjadi penting mengingat tingginya permintaan buah tropis dari China. Selama bertahun-tahun, Indonesia masih kalah bersaing dengan Thailand dan Vietnam yang lebih dulu menguasai pasar buah durian dan manggis di China. Minimnya investasi di sektor pengolahan dan logistik dingin membuat potensi ekspor belum termanfaatkan maksimal.

Pemerintah sendiri terus berupaya memperbaiki iklim usaha. Budi menegaskan bahwa berbagai kebijakan, termasuk di bidang perdagangan, bertujuan memberi kepastian hukum dan transparansi bagi investor. "Kami selalu terbuka terhadap masukan untuk menciptakan iklim usaha yang baik," tambahnya.

Salah satu perwakilan delegasi, Sherman Yan dari ONC Lawyers, menyatakan pihaknya hadir untuk membangun kemitraan jangka panjang yang sejalan dengan prioritas pembangunan ekonomi Indonesia. Ia menekankan komitmen untuk mendukung pengembangan UMKM, transfer teknologi, dan peningkatan nilai tambah produk agar makin kompetitif di pasar global.

Dari sisi dampak, investasi ini berpotensi mengubah struktur rantai pasok hortikultura nasional. Selama ini petani kerap menghadapi fluktuasi harga karena hasil panen tidak terserap optimal. Dengan adanya skema pengadaan langsung dan cold storage, risiko susut pascapanen bisa ditekan. Petani juga bisa mendapatkan harga yang lebih stabil karena ada kepastian pembelian.

Di sisi lain, tantangan tetap ada. Kesiapan petani lokal dalam memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang diminta investor China perlu dipersiapkan. Pemerintah harus hadir tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga sebagai penyedia pelatihan dan pendampingan teknis. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset pertanian akan menjadi kunci keberhasilan.

Mendag juga menyatakan bahwa Indonesia terbuka untuk kerja sama transfer teknologi dan pengembangan pemasok lokal. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah mendorong hilirisasi di sektor pertanian. Alih-alih hanya mengekspor bahan mentah, Indonesia ingin produk olahan bernilai tambah bisa ikut dikembangkan.

Ke depan, realisasi investasi ini diharapkan menjadi model bagi kerja serupa dari negara mitra lainnya. Jika infrastruktur rantai dingin terbangun dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia bisa menjadi pemasok utama buah tropis ke Asia Timur. Namun, semua itu membutuhkan konsistensi kebijakan dan komitmen jangka panjang dari investor dan pemerintah.

Masyarakat dan pelaku usaha tentu berharap agar rencana ini tidak berhenti pada nota kesepahaman. Dengan fasilitasi yang tepat, investasi hortikultura dari China bisa menjadi motor baru pertumbuhan ekspor Indonesia dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di dalam negeri.

Mengapa Ini Penting

Berita ini penting karena investasi China di sektor hortikultura bisa menjadi game changer bagi ekspor buah Indonesia yang selama ini terhambat infrastruktur rantai dingin. Dengan adanya investasi cold storage dan pengadaan langsung, petani lokal berpotensi mendapatkan harga lebih stabil dan akses pasar yang lebih pasti. Namun, tantangan seperti standar kualitas dan kapasitas produksi masih harus diatasi. Jika berhasil, ini bisa meningkatkan posisi tawar Indonesia di pasar buah premium global dan menekan defisit neraca perdagangan nonmigas dengan China.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
30 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit