Bek timnas Spanyol Marc Cucurella harus menepati janjinya dengan mencacah tato wajah pelatih Luis de la Fuente di tubuhnya. Kewajiban itu muncul setelah La Roja mengalahkan Argentina 1-0 pada laga final Piala Dunia, Minggu lalu, dan mengangkat trofi kampiun dunia.
De la Fuente membenarkan hal tersebut dalam konferensi pers usai pertandingan di East Rutherford, New Jersey. Pelatih berusia 65 tahun itu menyebut pemainnya adalah orang yang berpegang pada ucapan. Cucurella sebelumnya melontarkan janji akan memakai tato wajah pelatih andai Spanyol membawa pulang gelar juara.
Janji Cucurella bukan sekadar lelucon meja bundar. Ia mengungkapkannya pada awal pekan ini saat euforia tim masih menyongsong final. Kala itu, ia yakin pasukan De la Fuente bisa mengatasi Argentina. Kemenangan 1-0 membuktikan keyakinan itu tidak meleset.
Kemenangan tersebut menambah daftar prestasi pelatih asal Haro, La Rioja, itu. Sebelumnya, De la Fuente sudah mengantar Spanyol menjuarai Euro 2024. Dengan trofi Piala Dunia, ia menjadi arsitek tim yang menyatukan dua gelar mayor dalam kurun singkat.
Di ruang pers, De la Fuente merespons candaan soal tato dengan selera humor khas pelatih senior. "Saya terlalu tua untuk tato, tapi pemain saya orang yang berpegang pada ucapan dan saya tahu mereka akan menepatinya," ujarnya. Ia menambahkan, "Mereka membuat kesalahan dan akan menepatinya. Saya tidak seburuk itu."
Ketika ditanya bagian tubuh mana yang ingin dihiasi wajahnya, pelatih itu menjawab sambil tersenyum. "Mungkin bagian tubuh yang tidak terlihat. Tapi kalau sudah berucap, harus ditepati," kata De la Fuente. Pernyataan itu menutup sesi tanya jawab dengan tawa wartawan.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, momen ini menarik karena menunjukkan ikatan emosional antara pelatih dan pemain di level elite. Di Tanah Air, hubungan pelatih dan skuad kerap dibayangi tekanan hasil instan. Janji pribadi seperti Cucurella jarang terlihat di panggung timnas kita.
Kultur tato di kalangan pesepak bola Eropa sudah lazim sebagai simbol komitmen atau memori kolektif. Beberapa pemain lokal Indonesia juga memilikinya, namun lebih ke motif personal ketimbang bentuk penghormatan kepada pelatih. Regulasi kompetisi juga belum menyentuh aspek ekspresi tubuh semacam ini.
Dari sisi industri olahraga, kejadian lucu ini menjadi bahan pemasaran sosial media yang ampuh. Akun resmi federasi dan sponsor bisa mengangkat human interest untuk mendekatkan fans dengan tim. Di era digital, momen ringan sering kali mengalahkan narasi taktik dalam hal jangkauan audiens.
Cucurella sendiri dikenal sebagai bek serbabisa yang penampilannya menanjak sejak Euro 2024. Tato wajah pelatih akan menjadi memori fisik atas periode emas kariernya. De la Fuente memastikan pemainnya tidak akan lari dari janji tersebut.
Ke depan, eksekusi tato itu diprediksi dilakukan usai masa liburan pemain. Dokumentasi prosesnya berpotensi menjadi konten viral lintas negara. Spanyol juga akan memulai persiapan siklus baru dengan status juara dunia dan Eropa.
Tren humanisasi figur pelatih lewat interaksi personal dipastikan berlanjut. Suporter global kini menuntut akses bukan hanya ke pertandingan, tapi ke relasi manusia di baliknya. Spanyol memberi contoh bagaimana kejenakaan tim bisa jadi aset narasi olahraga modern.