Bisnis & Startup

Dari Utang ke Pasar Malaysia: Biru Tsabita Berdaya Bersama BRI

Ringkasan

  • Biru Tsabita, UMKM tas dompet wanita dari Pemalang, melebarkan pasar nasional sejak 2019 berkat pendampingan BRI untuk bangkit dari utang.

Biru Tsabita, usaha tas dan dompet wanita asal Pemalang, Jawa Tengah, membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi keluarga dapat diubah menjadi peluang bisnis nyata. Berkat pendampingan Rumah BUMN BRI, brand yang dirintis pada 2019 ini memperluas jangkauan pemasaran ke berbagai provinsi di Indonesia hingga sempat menembus negara tetangga, Malaysia.

Mutoharoh, pemilik sekaligus founder Biru Tsabita, menuturkan bahwa awal mula usaha berangkat dari kebutuhan mendesak untuk melunasi tumpukan utang rumah tangga. Penjualan melalui marketplace dan sistem kemitraan menjadi jalan keluar yang lambat laun bertransformasi menjadi bisnis stabil dengan puluhan tenaga kerja terserap.

Beban finansial keluarga sempat memuncak ketika penghasilan rutin tidak cukup menutup kebutuhan hidup sehari-hari. Situasi itu memaksa Mutoharoh mencari pekerjaan sampingan yang fleksibel, yakni berjualan produk fashion online di sela-sela rutinitas kerja utama sebagai pegawai.

Pemilihan segmen tas dan dompet wanita bukan tanpa pertimbangan matang. Kategori tersebut menawarkan peluang margin yang menarik sekaligus ruang eksplorasi desain cantik namun tetap fungsional. Dompet wanita tercatat sebagai produk dengan permintaan tertinggi sejak tahun pertama operasi usaha.

Keseriusan Biru Tsabita kemudian mendapat dorongan dari program pemberdayaan BRI melalui Rumah BUMN. Pelaku usaha mikro ini mengikuti berbagai pelatihan yang memperluas jaringan serta pengetahuan manajerial, termasuk Program BRIncubator BRI 2025 yang disebut Mutoharoh sebagai yang paling berdampak bagi skala usaha.

Kini, usaha tersebut telah menyerap 33 tenaga kerja langsung di Pemalang dan wilayah sekitarnya. Jumlah ini signifikan mengingat UMKM domestik menyumbang lebih dari 60 persen produk domestik bruto nasional, namun kerap terkendala akses pembinaan terstruktur dan pendanaan berkelanjutan.

Pemanfaatan layanan perbankan digital seperti BRImo dan QRIS BRI turut mempercepat operasional penjualan serta pencatatan transaksi. Integrasi sistem pembayaran nontunai menjadi katalis bagi UMKM lain di Indonesia untuk mengadopsi keuangan inklusif, sejalan dengan agenda pemerintah mengurangi fragmentasi ekonomi informal.

Kehadiran mentor dari bank pelat merah juga menyoroti tren kolaborasi sektor keuangan dengan wirausaha perempuan di level akar rumput. Biru Tsabita menunjukkan bahwa produk gaya hidup buatan lokal mampu bersaing di pasar regional asalkan didukung manajemen rantai pasok yang rapi dan strategi pemasaran digital.

“Seluruh pelatihan yang dihadirkan Rumah BUMN BRI sangat membantu kami, khususnya Program BRIncubator BRI 2025 yang sejauh ini paling terasa manfaatnya bagi pengembangan usaha,” ucap Mutoharoh. Ia menambahkan, pendampingan tersebut membuka relasi yang memperkuat distribusi produk custom maupun barang siap jual.

Corporate Secretary BRI Dhanny menilai perjalanan tersebut mencerminkan semangat ketahanan UMKM di tengah tekanan ekonomi. “Biru Tsabita menunjukkan bahwa dari keterbatasan bisa lahir usaha yang terus berkembang dan memberi penghidupan. Melalui Rumah BUMN, BRI ingin mendampingi lebih banyak pelaku UMKM agar punya ruang untuk belajar, memperluas pasar, dan melangkah lebih jauh dengan usaha yang semakin kuat,” katanya.

Ke depan, Mutoharoh menargetkan perluasan jaringan usaha melalui penguatan ekosistem marketplace dan kemitraan lintas daerah. Strategi ini diharapkan mendekatkan produk ke konsumen milenial yang mengutamakan estetika, kepraktisan, serta narasi produk buatan wirausaha lokal.

Lebih luas, model inkubasi BRI diperkirakan akan diperluas ke sentra-sentra UMKM lain di Jawa Tengah dan luar pulau. Sinergi antara perbankan dan wirausaha akar rumput seperti ini menjadi kunci pemulihan ekonomi inklusif sekaligus penguat daya saing produk Indonesia di pasar bebas ASEAN.

Mengapa Ini Penting

Model pendampingan perbankan seperti Rumah BUMN memperlihatkan bahwa intervensi modal sosial lebih krusial daripada sekadar kredit bagi UMKM perempuan di daerah. Ketika wirausaha akar rumput mendapat akses pelatihan dan jaringan, multiplier effect terhadap penyerapan tenaga kerja lokal dapat menekan angka migrasi ke kota besar. Keberhasilan Biru Tsabita juga menegaskan bahwa pasar ASEAN terbuka bagi produk lifestyle Indonesia asalkan standar kualitas dan pemasaran digital dipenuhi. Ke depan, kolaborasi serupa perlu diukur dari indeks keberlanjutan bukan hanya pertumbuhan omzet semata.

Sumber Asli
Antara News Terkini
Tanggal
15 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit